Tutup Iklan
Dianggap Keramat, Warga Tak Berani Pindahkan Watu Sigong Klaten
Petugas dari Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Klaten bersama komunitas pecinta cagar udaya mengukur batu diduga cagar budaya di kawasan Watu Sigong, Dukuh Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Kamis (29/7).

Solopos.com, KLATEN – Warga Dukuh Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten, menganggap Watu Sigong sebagai benda keramat. Mereka pun tidak berani memindahkan letak batu yang diyakini mengeluarkan suara serupa gamelan di waktu tertentu.

Sekretaris Desa Mranggen, Parsidi, saat ditemui Solopos.com, Rabu (29/7/2020), mengatakan bebatuan misterius itu sudah ada sejak dia kecil.

“Sejak saya kecil batu-batu ini sudah ada,” urai dia.

Braakkk... Mobil VS Truk di Jl Solo-Jogja Klaten

Selama ini, batu-batu misterius tersebut dibiarkan terserak pada gundukan tanah. Watu Sigong seakan dikeramatkan oleh warga setempat. Tak ada satu pun warga yang pernah memindahkan batu-batu tersebut.

“Tidak ada yang berani untuk memindah selama ini. Karena tidak ada yang berani memindah sampai saat ini tidak ada kejadian di sini. Tetapi kepercayaan mistis masih melekat,” ungkap Parsidi.

Sekilas mungkin tidak ada yang aneh dengan Watu Sigong. Di tempat ini ada 11 batu yang dipahat halus dan terserak pada gundukan tanah.

Foto Habib Rizieq Dibakar, Puluhan Warga Sragen Demo Sambil Kibarkan Merah Putih

Wujud

Belasan batu itu memiliki bentuk yang sama menyerupai gong. Ukurannya pun seragam, masing-masing setinggi 35 sentimeter dan berdiameter 65 sentimeter.

Di sekitar batu-batu itu, warga setempat pernah mendengar alunan musik karawitan layaknya dari gamelan. Di antara belasan, ada batu menyerupai bagian kemuncak (puncak atap candi).

Ada pula batu yang sekilas menyerupai tatakan saron. Batu yang menyerupai tatakan saron tersebut diperkirakan jaladwara (batu saluran air pada candi atau patirtan). Bebatuan misterius itu berada di antara pekarangan tanah kas desa serta milik warga.

Gegara Pakai Baju Pendukung Gibran, Jabatan Sekretaris FPKS DPRD Solo Dicopot

Oleh warga setempat, belasan batu misterius itu dikenal dengan nama Watu Sigong. Nama Sigongg dipilih lantaran belasan batu itu berbentuk menyerupai gong. Dari sana warga sering mendengar alunan karawitan misterius.

“Pada malam-malam tertentu itu sering terdengar karawitan yang sumber suaranya dari sini [kawasan Watu Sigong]. Namun, ketika warga mendatangi lokasi [kawasan Watu Sigong], suara karawitan itu menghilang,” kata Sekretaris Desa Mranggen, Parsidi, saat ditemui Solopos.com di kawasan Watu Sigong, Kamis (29/7/2020).

Hanya saja, suara gamelan itu kini jarang terdengar lagi. Parsidi tak tahu pasti penyebab suara gamelan itu kini jarang terdengar. Misteri suara gamelan yang diyakini bersumber dari kawasan Watu Sigong juga belum terungkap.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho