Di Tangan Warga Sragen Ini, Gedebok Pisang Bisa Jadi Keripik Nikmat

Seorang pelaku UMKM di Sragen berhasil membuat gedebok pisang menjadi kripik yang renyah dimakan.

 Herawati Utami Dewi, warga Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen menyulap pare hingga gedebok pisang menjadi olahan keripik dengan pangsa pasar skala nasional. (Solopos.com/Galih Aprilia Wibowo)

SOLOPOS.COM - Herawati Utami Dewi, warga Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen menyulap pare hingga gedebok pisang menjadi olahan keripik dengan pangsa pasar skala nasional. (Solopos.com/Galih Aprilia Wibowo)

Solopos.com, SRAGEN — Bagi kebanyakan orang, gedebok pisang bukanlah sesuatu yang bisa diolah sebagai makanan. Sebagian menggunakannya sebagai pakan ternak, banyak pula yang membuangnya. Namun, di tangan kreatif warga Sragen ini, gedebok pisang pun bisa jadi makanan yang enak.

Adalah Herawati Utami Dewi, warga kreatif itu. Wanita asal Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Sragen ini berhasil mengolah gedebok pisang menjadi keripik yang renyah.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Sebelum membuat keripik gedebok pisang, Herawati lebih dulu mengolah paria alias pare dan talas menjadi keripik. Karena banyak konsumen yang meminta sesuatu yang baru, Herawati pun mencoba membuat keripik dari gedebok pisang dan berhasil.

Usaha Aneka Keripik RH Kedawung yang dirintis Herawati mulai Oktober 2010 awalnya hanya memproduksi keripik talas. Kemudian Herawati melakukan inovasi membuat keripik baru dari singkong, pare, sukun, tempe, pisang, jamur, hingga gedebok pisang.

Herawati mengaku pernah melihat video yang menjelaskan tentang manfaat dari gedebok pisang.  Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan ia memproduksi keripik gedebok pisang.

Baca Juga: Mendes PDTT Wacanakan Masa Kerja Kades Jadi 9 Tahun

“Uji coba untuk menemukan gedebok yang enak untuk diolah itu berkali-kali hingga menemukan rasa dari gedebok dengan taste yang pas dari pisang kepok dan pisang kluthuk,” terang Herawati saat ditemui Solopos.com di rumahnya pada Senin (1/8/2022).

Mengolah gedebok pisang menjadi keripik yang renyah bukan perkara mudah. Perlu upaya tersendiri untuk mendapatkan irisan tipis gedebok untuk dibuat keripik. Bagian gedebok yang dipakai Herawati adalah yang bagian tengah hingga bawah yang tebal.

Bahan baku, pare dan gedebok pisang, Herawati mengambil dari warga sekitar Kabupaten Sragen. Sedangkan untuk talas ia mengambil dari Pasuruan, Wonosobo, dan Magelang.

Ia tak menyangka olahan keripik gedebok pisangnya bisa diterima konsumen. Permintaan pasar juga datang dari luar Kabupaten Sragen yaitu dari Kediri, Jakarta, dan Surabaya.

Baca Juga: Gejog Lesung, Seni Musik Tradisional Agraris dari Mataraman 

“Untuk pemasaran produk dilakukan via online melalui website dan biasanya ada yang melihat video saya di Youtube. Kemudian konsumen akan menghubungi melalui Whatsapp. Untuk saat ini belum merambah ke e-commerce, karena keterbatasan tenaga,” tambah Herawati.

Sempat Jajal Pasar Ekspor

Herawati sempat merambah pasar ekspor dengan mengirim dua ton keripik singkong ke Belanda. Ia bekerja sama dengan eksportir dari Solo. Sayangnya, keterlambatan ekspesidi yang disebabkan cuaca buruk waktu pengiriman, ekspor tersebut tidak bisa dilanjutkan.

Cobaan datang saat pandemi Covid-19 menyerang. Omzetnya turun hingga 50%. Ia pun mengganti model penjualannya dengan bayar di tempat atau cash on delivery (COD) untuk pembeli di wilayah Sragen.

Karena konsumen takut keluar rumah, maka Herawati mengambil model penjualan dengan jemput bola. Sebelum pandemi, Herawati mempunyai empat karyawan. Kini ia hanya punya satu karyawan selain ia dan suaminya yang ikut turun tangan.

Baca Juga: Tak Ada Lagi Warung Apung di Rawa Jombor Klaten, Ini Gantinya

Cobaan datang tak sampai di situ. Tingginya harga minyak goreng juga memukul usaha Herawati. Ia terpaksa menaikkan harga produknya yang dijual kiloan. Kini, setiap 1 kilogram keripik gedebok pisang ia jual Rp50.000 dari sebelumnya Rp40.000. Untuk kemasan yang lebih kecil, ia jual seharga Rp10.000/bungkus.

Produk yang dijual Herawati sudah tersertifikasi halal dari MUI. Ia mendapat bantuan dari pemerintah dalam pengurusan sertifikasi halal tersebut. Ia sudah empat kali memperpanjang sertifikasi halal. Pada perpanjangan kedua, dia memanfaatkan hadiah juara dua dalam lomba olahan pangan, ia membuat kue dari bahan dasar talas.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Dilema Hak Asasi Manusia, Destinasi Wisata Prioritas, dan Investasi

      + PLUS Dilema Hak Asasi Manusia, Destinasi Wisata Prioritas, dan Investasi

      Konflik antara pelaku wisata di Taman Nasional Komodo dengan aparat kepolisian pada Senin (1/8/2022) adalah akibat kebijakan pemerintah yang mementingkan urusan investasi dibanding mendengar aspirasi masyarakat yang langsung terdampak kebijakan.

      Berita Terkini

      Tak Masalahkan Jalan Solo-Purwodadi Jadi Searah, Warga Beri Masukan Ini

      Masyarakat tidak mempermasalahkan rencana Dishub Solo mengubah jalan Solo-Purwodadi dan Jl Kolonel Sugiyono menjadi satu arah untuk mendukung proyek rel layang.

      Bandit Sosial Marak Terjadi di Klaten Tahun 1870-1900, Apa Itu?

      Istilah bandit mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat.

      Sambut HUT RI, Warga Binaan LP Kelas II B Klaten Lomba Makan Kerupuk

      Warga binaan pemasyarakatan (WBP) LP Kelas II B Klaten mengikuti aneka lomba di LP setempat, Jumat (5/8/2022).

      Pengumuman! Besok Pagi Hindari Simpang Joglo Solo, Ada Penutupan 1 Jam

      Bakal ada penutupan jalan kawasan Simpang Tujuh Joglo, Banjarsari, Solo, selama satu jam pada Rabu (10/8/2022) pagi.

      Bakar Daun Siang-Siang, Warga Perumahan di Jaten Karanganyar Waswas

      aksi bakar-bakar daun kering oleh warga di Desa Papahan, Tasikmadu, bikin warga lain di Perumahan, Desa Jati, Jaten, Karanganyar waswas. Mereka lantas meminta bantuan pemadam kebakaran untuk memadamkan api.

      Ada Raden Bagus Munyul di Situs Pringgoloyo Zaman Megalitikum Klaten

      Desa Sukorejo, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten diyakini menyimpan kawasan diduga situs peninggalan zaman megalitikum atau masa prasejarah.

      Pasar Hewan di Karanganyar Belum Juga Dibuka, Ada Apa?

      Disdagnakerkop UKM Karanganyar belum ada rencana membuka kembali pasar hewan yang sudah ditutup sejak Juni lalu.

      Upacara Detik-Detik Proklamasi di Karanganyar Digelar di Alun-Alun

      Pemkab Karanganyar memastikan menggelar upacara detik-detik proklamasi di Alun-Alun Karanganyar.

      Karanganyar Imbau Peternak Jaga Kebersihan Kandang Babi, Ini Tujuannya

      Pemkab Karanganyar mengimbau peternak babi memperhatikan kebersihan kandang mencegah penularan wabah PMK

      Kenapa Orang Solo Doyan Makan Sate Kambing & Tengkleng?

      Tahukah Anda kenapa orang Solo doyan makan aneka olahan kuliner kambing?

      Wow, Ada 9 Pasangan Suami-Istri di Sragen Maju di Pilkades 2022

      Ada 18 orang yang merupakan pasangan suami-istri yang maju dalam Pilkades serentak di Sragen.

      Kabar Duka, Kades Gladagsari Boyolali Meninggal Dunia

      Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama sepekan, Kades Gladagsari Edy Suryanto meninggal dunia di rumahnya.

      Ada Senjata Api di Daftar Aset Pemkot Solo, Ini Kenyataannya

      Laman resmi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kota Solo menyebutkan ada dua senjata api yang menjadi aset Pemkot Solo.

      Karyawan Pabrik Pergoki Api Menyala dari Rumah Warga Jetak Sragen

      Sumber api diduga berasal dari obat nyamuk yang menyalat kain di sekitar lokasi.

      Ditinggal Pergi, Dapur Rumah Warga Mandong Klaten Terbakar

      Kapolsek Trucuk AKP Sarwoko menjelaskan saat kejadian pemilik rumah tidak berada di tempat