Di Sragen, Aparat Tak Bosan Adang Warga Tanpa Masker

Aparat di Sragen tak bosan-bosan mengadang warga tanpa masker meskipun di tempat terbuka dan berada di ruang pribadi tak ada risiko Covid-19.

SOLOPOS.COM - Tiga orang warga yang tidak memakai masker mendapatkan pembinaan dari aparat TNI/Polri tentang pentingnya protokol kesehatan dalam pencegahan Covid-19, Senin (30/11/2020). (Solopos.com-Satpol PP Sragen)

Solopos.com, SRAGEN — Aparat di Sragen tak bosan-bosan mengadang warga tanpa masker meskipun awan putih menggelayut di wilayah Gemolong. Mereka adalah gabungan dari personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen yang dibantu TNI dan Polri.

Mereka berhenti di depan SMK Sakti Gemolong. Seperti biasa mereka mengadang setiap warga yang tak memakai masker di Jl. Gabugan-Gemolong, Senin (30/11/2020). Operasi penegakan protokol kesehatan itu menjadi operasi terakhir di November 2020. Namun, operasi penegakan Perbup No. 54/2020 itu masih berlanjut sampai 20 Desember 2020 mendatang.

Tim gabungan itu berhasil menjaring 75 orang. Sebanyak dua orang diberi sanksi administrasi denda dan 73 orang lainnya dikenai sanksi sosial. Hasil itu merupakan hasil tertinggi sepanjang operasi yang digelar sejak 4 November 2020 lalu. Tertinnggi kedua didapat di wilayah Tangen pada 11 November 2020 dengan 70 orang pelanggar protokol kesehatan.

LG Patenkan Laptop Masa Depan, Layar Bisa Digulung Bak Kertas

Selama sebulan terakhir, terdapat 733 orang yang terjaring razia masker oleh aparat di Sragen. Angka tersebut lebih tinggi dari hasil operasi pada Semptember 2020 tetapi lebih rendah dari hasil operasi pada Oktober 2020 yang mencapai 1.389 orang.

“Kalau masih dituruti, masih banyak warga yang terkena. Banyak pemuda yang kabur saat operasi. Ini masyarakat semakin tidak menggagas dengan Covid-19,” ujar Tukimin, salah satu personel Satpol PP Sragen, saat berbincang dengan Solopos.com, seusai operasi masker oleh aparat di Markas Satpol PP Sragen, Senin siang.

Di saat situasi tersebut, ada sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) yang terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka tertular diduga bukan dari lingkungan kantor kerjanya tetapi dari klaster keluarga. Sumbernya dari mana, belum diketahui.

Kata Fengsui, Rezeki Datang Tergantung Penataan Rumahmu…

“Protokol kesehatan itu berlaku untuk semua warga, baik PNS, TNI, Polri, dan masyarakat. Kalau ada PNS atau ASN yang terpapar tidak bisa dipukul rata berasal dari tempat kerjanya. Mungkin tertular dari luar atau dari keluarga PNS itu sendiri. Kalau misalnya dari 13.000 PNS yang terpapar 10.000 orang, nah itu baru dikatakan klaster,” ujar Kepala Satpol PP Sragen Heru Martono.

Gemolong Banyak Pelanggar

Heru mengamini bila laporan operasi masker mendapatkan pelanggaran terbanyak di Gemolong, yakni 75 orang. Dia menyampaikan Pemkab sudah gembar-gembor Sragen zona merah tetapi faktanya masyarakat tidak mau tahu. Heru mendapat laporan harian hasil operasi masker rata-rata di angka 50 orang dan ada tren naik bila dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

“Kendati hasilny atinggi angka itu tidak bisa menjadi patokan karena orang yang terjaring operasi itu belum mewakili populasi. Kami masih terus menegakan protokol kesehatan,” katanya.

Belasan Ular Kobra Sembunyi di Rumah, Warga Bogor Heboh…

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Sragen Dedy Endriyatno tidak menerima permintaan izin penutupan pelayanan dari Kecamatan Sumberlawang maupun Gemolong. Untuk laporan kasus positif di Kecamatan Gemolong sempat dilaporkan tetapi di Sumberlawang belum laporan ke Dedy.

Wakil Bupati (Wabup) itu melihat adanya ASN yang terpapar Covid-19 bukan karena mereka abai terhadap protokol kesehatan. “Seperti Sekcam itu paling tertib sendiri melaksanakan protokol kesehatan dan tidak pernah lepas masker saat di kantor tetapi juga terpapar. Memang informasi yang masuk, pelayanan dua kecamatan itu ditutup sementara. Mestinya ada back up pelayanan di kabupaten. Waktu tutup mestinya 14 hari tetapi bisa dilakukan 10 hari,” ujar Dedy.

Dedy menyampaikan banyaknya kasus Covid-19 di Sragen itu kembali pada personal warga masing-masing. Dia hanya bisa memastikan upaya pencegahan Covid-19 tetap dilakukan Pemkab Sragen. Dedy kembali menekankan PNS, TNI, Polri, harus menjadi contoh dalam penegakan protokol kesehatan.

Mesum di Bajaj, Kakek-Kakek dan Wanita Muda Diusir Warga

“Saya tidak ingin adanya PNS dari puskesmas yang menggelar hajatan dengan hidangan prasmanan terulang. Kami sudah berkomitmen dengan TNI dan Polri untuk menjaga anggota sendiri-sendiri. Kami akan mengambil tindakan tegas bila ada aparat yang melanggar protokol kesehatan,” ujarnya.

Di lingkungan Pemkab Sragen, Dedy menginstruksikan kepada setiap kepala dinas dan badan untuk memastikan pegawainya tidak terpapar Covid-19 dan tidak melanggar protokol kesehatan, khususnya dalam hajatan.

Dedy juga menyiapkan SOP kinerja dinas yang sesuai dengan protokol kesehatan, misalnya kalau ada pertemuan tidak boleh berganti tangan saat pegang mikrofon, bolpoin, dan meminimalisasi penggunaan kertas, bila perlu dibuatkan e-disposisi.

Hasil Operasi Penegakan Protokol Kesehatan di Kabupaten Sragen 2020

Bulan Sanksi Administrasi Sanksi Sosial Teguran Jumlah
September 203 orang 260 orang 27 orang 490 orang
Oktober 221 orang 1.070 orang 98 orang 1.389 orang
November 24 orang 709 orang 0 orang 733 orang
Total 448 orang 2.039 orang 125 orang 2.612 orang

Sumber: Satpol PP Sragen (trh)

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Berita Terbaru

Anggota DPRD Klaten Ini Blusukan Sembari Sosialisasikan Protokol Kesehatan

Solopos.com, KLATEN -- Upaya meningkatkan kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 terus dilakukan berbagai pihak, tak terkecuali para anggota...

Anggap PPKM Efektif Tekan Covid-19, Sragen Dukung Perpanjangan

Solopos.com, SRAGEN — Pemerintah Kabupaten Sragen mendukung perpanjangan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat. Pasalnya, Pemkab Sragen menganggap PPKM efektif menekan...

Tempat Hiburan Sukoharjo Tutup Total Sampai 31 Januari 2021

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pemkab Sukoharjo mewajibkan seluruh tempat hiburan umum tutup hingga 31 Januari 2021. Tempat hiburan ini meliputi...

Jangan Lengah! Vaksinasi Covid-19 Tak Lantas Bikin Orang Jadi Kebal

Solopos.com, KLATEN -- Pemberian vaksin atau vaksinasi Covid-19 di tengah pandemi dinilai sangat penting dilakukan. Namun meski ditujukan menekan...

Halau Covid-19, Tak Sembarang Tamu Bisa Masuk Kejari Sragen

Solopos.com, SRAGEN -- Kejaksaan Negeri atau Kejari Sragen menerapkan tatanan baru dalam rangka mencegah penularan Covid-19. Sejumlah tempat cuci...

Patuhi Protokol Kesehatan Lur, Bed Isolasi Covid-19 di 3 RS Wonogiri Penuh!

Solopos.com, WONOGIRI — Tempat tidur di ruang isolasi pasien Covid-19 di tiga rumah sakit (RS) rujukan di Wonogiri nyaris...

Pabrik di Wonogiri Boleh Beroperasi Selama PPKM, Asal...

Solopos.com,WONOGIRI -- Pabrik di Wonogiri tidak mengurangi jam operasional selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun protokol kesehatan harus...

Satpol PP Karanganyar Minta Jogo Tonggo Ikut Awasi Pedagang

Solopos.com,  KARANGANYAR -- Satpol PP Karanganyar mengajak Satgas Jogo Tonggo untuk berkolaborasi mengawasi warung dan angkringan saat malam hari...

Warga Isolasi Mandiri Karena Covid-19 di Jetis Karanganyar Dapat Rp20.000 Per Hari

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemerintah Desa Jetis, Kecamatan Jaten, Karanganyar, memiliki strategi khusus merawat warga yang menjalani isolasi mandiri karena...

Deteksi Dini Penularan Covid-19 di Sukoharjo Makin Agresif

Solopos.com, SUKOHARJO – Upaya deteksi dini penularan Covid-19 di Sukoharjo kian agresif dengan melakukan uji swab dan rapid test....