Ilustrasi jalur jalur kereta api yang sudah lama tertimbun tanah. (Antara-Iggoy el Fitra)

Semarangpos.com, SEMARANG — PT Kereta Api (Persero) menawarkan aset lahan seluas 252,47 ha untuk dikembangkan menjadi proyek properti. Saat ini KAI mencari mitra untuk mengembangkan proyek properti tersebut. Lahan potensial itu tersebar di Semarang, Tegal, Pekalongan, Kudus, Purwokerto, Wonosobo, Cilacap, Bumiayu, Magelang, Solo, Sragen, dan Jogja.

Di Semarang, dua proyek yang menjadi fokus ialah kawasan Stasiun Tawang dan Poncol,

Corporate Deputy Director of Assets Development KAI Suharjono mengungkapkan perusahaan memiliki sejumlah aset lahan di Jawa dan Sumatra seluas 33.201 ha, dengan kondisi 12.571 ha bersetifikat dan sudah jelas, sedangkan 20.629,9 ha belum bersertifikat. Dari bank tanah yang sudah bersertifikat, lahan yang potensial untuk dikembangkan proyek properti mencapai 252,47 ha atau sekitar 280,5 kali lapangan sepak bola. Namun, tidak menutup kemungkinan luasan lahan potensial tersebut bertambah. 

“Lahan potensial yang kami buka untuk kerja sama dengan mitra mencapai 252,47 ha. Ini kami buka seluas-luasnya bagi perusahaan swasta maupun BUMN untuk berkembang bersama,” tuturnya dalam acara paparan publik bertajuk Kerja Sama Optimalisasi Aset dan Angkutan Wilayah Jateng dan DIY di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019).

Khusus di wilayah Jateng dan DIY, aset KAI dikelola oleh tiga Daerah Operasi (Daops), yakni Daops IV Semarang, Daops V Purwokerto, dan Daops VI Yogyakarta. Sebelumnya, KAI sudah bekerja sama pengembangan aset lahan di Jabodetabek.

Suharjono menuturkan di Jabodetabek sudah ada 13 proyek kerja sama KAI dengan pihak mitra yang sedang berjalan. Di antaranya ialah mixed use development di Stasiun Tanjung Barat, Pondok Cina, dan Rawa Buntu dengan Perumnas.

KAI juga sudah melakukan MoU dengan PT Modernland Realty Tbk. (MDLN) untuk pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Stasiun Cilejit. Menurutnya, keunggulan aset lahan KAI ialah lokasinya yang premium di pusat kota, berada di kawasan bisnis dan pergudangan, serta terintegrasi dengan simpul-simpul transportasi.

Sebagian lahan juga berada di kawasan pariwisata dan lokasi sejarah. “Kami membuka peluang kepada mitra bisnis, terutama properti untuk bersama-sama optimalkan aset negara yang dikuasai KAI. Ini tentunya akan menguntungkan KAI dan pihak mitra,” imbuhnya.

Fokus Pengembangan
Suharjono mengungkapkan, di Daops IV Semarang ada sekitar 14 lokasi yang potensial dikembangkan, mulai dari Semarang, Tegal, Pekalongan, hingga Kudus. Di Daops V Purwokerto, ada sekitar delapan lokasi yang menarik di Purwokerto, Wonosobo, Cilacap, dan Bumiayu.

Adapun di Daops VI Yogyakarta, terdapat delapan titik lahan potensial. Lahan-lahan potensial itu tersebar di Magelang, Solo, Sragen, Jogja.

Di Semarang, dua proyek yang menjadi fokus ialah kawasan Stasiun Tawang dan Poncol, yang terintegrasi dengan wisata Kota Lama. Di Tawang, KAI bahkan mengonsep pengembangan area kontainer dan pengangkutan logistic dari stasiun ke Pelabuhan Tanjung Emas. 

“Bentuk properti nantinya bisa bermacam-macam, hunian, mal, apartemen, tempat wisata, atau area pergudangan. Yang jelas untuk kawasan heritage kita tetap menjaga nilai otentiknya,” tuturnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten