Tri Marzuki, 35, (berkaus hitam lengan panjang), mantan anak punk asal Bulu, Sidoharjo, Sragen, belajar membaca Iqra di Masjid Nur Hidayah Sragen Tengah, Sragen, Rabu (16/1/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Seorang remaja mengenakan jubah duduk di tengah masjid. Ia membaca kitab hadis dengan cepat. Remaja itu dikelilingi para remaja lainnya yang berdatangan.

Aktivitas itu merupakan bagian awal dari kegiatan rutin Komunitas Sinau Ngaji Dinten Rebo Malam (Sindrom) setiap Rabu malam di Masjid Nur Hidayah Sragen Tengah, Sragen. Pengajian pada Rabu (16/1/2019) itu merupakan pertemuan ke-35 sejak forum terbuka itu berdiri, 11 Mei 2018 lalu.

Ada puluhan pemuda di dalam masjid tersebut. Beberapa pemuda lainnya masih di luar masjid. Mereka ada yang merokok sambil ngobrol ringan. Ada juga yang sibuk dengan telepon genggam.

Para pemuda di luar masjid itu kebanyakan merupakan jebolan anak punk. Dua di antaranya Tri Marzuki, 23, dan Linggar, 23, yang sama-sama datang dari Dukuh Bulu, Desa Purwosuman, Sidoharjo, Sragen.

Ciri khas anak punk mereka masih terlihat, yakni tato yang menghiasi kaki, tangan, dan sebagian tubuh. Mereka datang dengan tampilan berbeda, bukan lagi anak dengan pakaian khas punk tetapi mengenakan baju koko atau baju muslim dan kaus lengan panjang dan kopiah.

Mereka buru-buru masuk masjid setelah melihat tiga orang santri dari Pondok Pesantren (Ponnpes) El Wedah Kuwungsari, Sragen, bersiap mengajar membaca Iqra. Tiga santri ponpes itu duduk dengan berhadapan dengan meja lipat kecil.

Tumpukan buku Iqra ada di meja kecil itu. Para remaja bergiliran membaca Iqra satu per satu. Tiga santri ponpes itu memberi catatan pada selembar kertas yang digunakan sebagai catatan monitoring perkembangan bacaan Iqra seperti di Taman Pendidikan Alquran (TPA).

Tri Marzuki mendapat giliran membaca Iqra. Ia baru sampai di jilid I. Ia membaca dengan serius. Tato yang menghiasi kedua tangannya ditutupi kaus berlengan panjang.

Takut Mati

Tato kecil masih terlihat di lehernya. Ketika ada bacaan huruf hijaiah yang kurang pas, ia mengulang-ulang dan sambil tertawa sendiri. Hal itu pun membikin remaja lainnya ikut tertawa.

Tri jadi anak punk sejak kelas VIII SMP. Setelah lulus SMP, aktivitas ngepunk Tri semakin menjadi. Ia pernah tidak pulang sepekan saat pergi ke Bandung.

Bagi Tri, punk itu gaya hidup dengan solidaritas yang kuat. Telinga kirinya dilubangi, bahkan lubang telinganya sampai sebesar tutup botol minuman merek Mizone.

Ia juga kecanduan tato. Awalnya, hanya tato kaki kiri kemudian merembet ke kedua kaki, tangan, dan sebagian badannya.

“Sekarang telinganya saya jahit. Kalau tatonya masih. Dulu juga mabuk-mabukan. Saya itu tersadar dan taubat setelah ingat mati," jelas dia.

Saat itu Tri bercerita tengah nyinom (menjadi among tamu di hajatan) di kampung kemudian mabuk-mabukan bersama teman-temannya. "Dalam kondisi mabuk itulah, saya bisa menangis. Bahkan sampai pulang pun masih menangis karena tiba-tiba ingat mati dan takut mati dalam kondisi mabuk. Bayangan mati itu terus membayangi hingga akhirnya saya menghubungi Mas Linggar,” kisah Tri saat berbincang dengan Solopos.com di masjid, Rabu malam.

Linggar mengajak Tri masuk ke Komunitas Sindrom belum lama ini. Sejak masuk di Komunitas Sindrom, Tri merasa nyaman dan akhirnya betah mengaji di komunitas itu.

Linggar pun baru enam bulan bergabung di komunitas yang dibentuk jebolan anak punk asal Gabugan, Tanon, Sragen, Anggar Triyono atau Anggar Melodi, 33, pada Mei lalu.

Linggar juga seperti Tri. Linggar dan Tri sama-sama aktif di komunitas vespa kemudian jadi anak punk. Kedua kaki Linggar juga penuh tato.

Demikian pula kedua tangannya. Linggar mengaku pernah ikut terlibat dalam peredaran pil koplo, mabuk-mabukan, dan lainnya. Namun semua itu dia tinggalkan setelah bertaubat.

“Saya tersadar saat sendirian dan berpikir hidup ini mau ke mana. Saat bergabung dengan kelompok Mas Anggar Melodi, beliau selalu bercerita tentang kebesaran Allah dan mati. Sejak itulah, saya tergiring masuk di Komunitas Sindrom ini,” ujarnya sebelum mengaji Iqra jilid I.

Linggar dan Tri kini bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil di dekat rumah mereka. Mereka tidak lagi menjadi anak punk kendati ciri khas tato mereka masih melekat.

Tato yang dimiliki anggota jemaah Komunitas Sindrom itu justru dimanfaatkan sebagai sarana dakwah kepada anak-anak punk yang belum sadar.

“Tato itu jadi nilai tambah ketika masuk dan berdakwah mengajak teman-teman punk yang juga bertato. Jadi tidak perlu dihapus,” kata pendiri Komunitas Sindrom Sragen, Anggar Melodi.

Kedua tangan Anggar pun masih dihiasi tato. Bahkan salah satu telinganya masih berlubang bekas tindikan. Namun, Anggar kini tampil seperti ustaz dengan jenggotnya.

Anggar keluar dari komunitas punk sejak 2016. Ia kemudian mencari teman untuk belajar mengaji. Akhirnya ia menemukan tiga orang teman yang juga jebolan punk.

Dari mengaji bareng empat orang itulah kemudian Komunitas Sindrom itu terbentuk. Anggota yang terdaftar di komunitas mencapai 82 orang dan 50% di antaranya mantan anak punk. Semuanya anak muda.

Mantan anak punk itu kini banyak yang bekerja mandiri, selain jadi buruh pabrik, ada juga yang jualan nasi goreng, buka warung kopi, ternak ayam, dan distro. "Dulu pernah yang datang itu mencapai 130 orang,” ujar Anggar yang membuka distro muslim di belakang kompleks Gedung Pemda Sragen.

Ciri khas punk lainnya berupa musik dan akustik juga dimanfaatkan untuk sarana dakwah kepada anak-anak muda. Anggar berniat membuat komunitas-komunitas kajian di desa-desa, seperti di Taraman.

“Saya ingin Sindrom ini menjadi gaya hidup dan bikin ketagihan. Bukan lagi ketagihan minuman keras, pil, atau tato tetapi ketagihan untuk mengaji agama Allah,” ujarnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten