Tutup Iklan -->
Di Magelang, Petani Multikultur Tuntut Kenaikan Cukai Rokok Propetani
Ketua FPMI Istanto menyampaikan pernyataan sikap disertai para anggotanya di Magelang, Selasa (19/11/2019). (Antara-Heru Suyitno)

Solopos.com, MAGELANG — Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) mendesak kebijakan pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 23% pada tahun 2020 harus propetani. Kebijakan itu wajib diikuti kebijakan yang membantu petani melakukan diversifikasi komoditas pertanian.

"Kebijakan diversifikasi komoditas pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani menuju tujuan pembangunan berkelanjutan," kata Ketua FPMI Istanto di Kota Magelang, Jawa Tengah, Selasa (19/11/2019).

Istanto menyampaikan hal tersebut seusai Temu Tani Multikultur Nasional Pertama di Kota Magelang, Minggu-Senin (17-18/11/2019). Pertemuan itu diikuti para petani dari berbagai provinsi, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

FMI juga mendesak pemerintah membuat kebijakan tentang diversifikasi komoditas pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani menuju tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). "Diversifikasi harus diikuti program menyeluruh meliputi pelatihan pertanian, kesiapan pasar, penyediaan kredit dan asuransi, serta informasi kondisi iklim dan tanah untuk tanaman alternatif," katanya.

Istanto menuturkan bahwa rekomendasi lain pada pemerintah adalah mendorong terciptanya lingkungan sehat tanpa asap rokok, iklan rokok, promosi dan sponsor untuk melindungi generasi muda. Melakukan perubahan kebijakan pengendalian tembakau yang komprehensif.

Ia menyampaikan dalam diskusi selama dua hari tersebut terungkap bahwa petani percaya konsumsi rokok menyebabkan kematian lebih dari 200.000 orang/tahun di Indonesia. Ia juga mengaku percaya bahwa rokok menimbulkan masalah kesehatan terhadap petani, melibatkan pekerja anak, kemiskinan, polusi air, dan kerusakan lahan.

"Petani juga menyadari bahwa industri tembakau dan investor multinasional lebih banyak memperoleh keuntungan dibandingkan dengan petani dan pekerja pabrik yang menjadi korban rokok," katanya.

Oleh karena itu, katanya, FPMI mendukung pemerintah menaikkan harga dan cukai rokok sehingga tidak dapat diakses oleh anak-anak. Menurut dia, merokok mengancam hak hidup dan hak kesehatan, terutama orang-orang yang berisiko seperti anak-anak, remaja, wanita, dan orang-orang berpenghasilan rendah.

Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) Retno Rusdjijati mengatakan pertemuan difasilitasi MTCC UMM, LP3M UMM, dan The Union. Pada pertemuan itu didiskusikan berbagai agenda mendesak terkait perkembangan kondisi terkini terkait pertanian baik tembakau maupun tanaman alternatif lain.

"Petani juga berbagai cerita tentang kesuksesan usaha yang dilakukan di daerah masing-masing dan permasalahan serta kendala yang dihadapi," katanya. Ia berharap pada pertemuan ke depan bisa lebih banyak lagi petani yang terlibat dari berbagai daerah di Indonesia sehingga jaringan yang lebih kuat.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho