Di Luar Dugaan, Pendapatan Retribusi Pasar di Wonogiri Lampaui Target Saat Pandemi
Suasana Pasar Sidoharjo Wonogiri pada Rabu (18/11/2020). (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Pendapatan retribusi pasar di Wonogiri 2020 di luar dugaan mampu melebihi target. Bahkan, realisasi pendapatan mencapai 125 persen dari target. Pemkab sempat pesimistis pendapatan bakal maksimal mengingat pandemi Covid-19 memengaruhi semua lini kehidupan.

Data yang dihimpun Solopos.com dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) Wonogiri, Selasa (19/1/2021), pendapatan retribusi dari seluruh pasar di Wonogiri yang berjumlah 26 pasar selama 2020 tercatat Rp5,244 miliar atau 125 persen dari target Rp4,18 miliar.

Realisasi pendapatan itu lebih tinggi dari pada pendapatan 2019 yang saat itu tercatat Rp4,677 miliar atau 113 persen dari target tahun tersebut Rp4,14 miliar. Bahkan, meski dibandingkan dengan empat lima tahun terakhir, realisasi pendapatan 2020 tetap paling tinggi. Sebagai gambaran, pendapatan retribusi pasar 2016 lalu senilai Rp4,219 miliar atau 105 persen dari target tahun yang sama Rp4,004 miliar.

Tak Punya Biaya Perawatan, Gadis Depresi Ini Dikurung di Kandang

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Dinas KUKM Perindag Wonogiri, Agus Suprihanto, menyampaikan capaian pendapatan 2020 di luar dugaannya. Saat Covid-19 mewabah dan memukul perekonomian dia pesimistis pendapatan bisa maksimal. Saat itu cukup banyak pedagang menutup kios/los pasar.
Agus pernah menyatakan pendapatan retribusi pasar diprediksi turun signifikan, pada April. Kekhawatiran pendapatan bakal turun drastis semakin menguat saat Pasar Kota Wonogiri ditutup total pada 26-29 Juli 2020.

Langkah itu diambil lantaran ada konsumen yang terkonfirmasi positif masuk pasar dan berkontak dengan pedagang. Puncaknya, Dinas KUKM Perindag sampai harus menurunkan target pendapatan menjadi Rp2,5 miliar atau hampir saparuh dari target awal.

“Pasar umum, pasar kayu, pasar hewan, dan terminal di Sidoharjo juga sempat ditutup pada 10-12 November. Tapi, terlepas dari adanya penutupan dua pasar, niaga di semua tetap jalan seperti biasanya," kata Agus saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa.

"Pedagang yang sebelumnya sempat menutup kios/los kembali semangat melanjutkan usaha. Jumlah konsumen memang turun, tapi pedagang tetap buka usaha. Mereka ingin tetap mendapatkan penghasilan. Lalu kami kembali memasang target pendapan di angka Rp4 miliar lagi, karena kembali optimistis pendapatan bisa maksimal,” lanjutnya.

Retribusi Elektronik

Menurut dia ada beberapa faktor yang menyebabkan pendapatan maksimal, seperti penerapan retribusi elektronik (e-retribusi) khusus bagi pedagang yang menempati kios Pasar Bung Karno, Baturetno. Penerapan itu membuat pedagang membayar retribusi sesuai ketentuan, sehingga pendapatan meningkat signifikan.

Sebelum e-retribusi diterapkan tak jarang pedagang membayar retribusi kurang dari nilai seharusnya. Bahkan, ada pedagang yang menunda membayar. Pada sisi lain petugas penarik retribusi juga lupa bahwa pedagang ada yang menunggak retribusi.

Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 1,8 Kilometer Dini Hari Tadi

“Penggunaan BKPR [buku ketetapan dan pembayaran retribusi] di sebagian besar pasar mulai tahun lalu juga berpengaruh besar. Dengan menggunakan BKPR pembayaran retribusi bisa dipantau, sehingga bisa diketahui siapa saja yang belum membayar. Pedagang pun enggak bisa lagi membayar kurang dari nilai retribusi yang ditetapkan,” imbuh Agus.

Pedagang di Pasar Kota Wonogiri, Warni, mengaku penjualan menurun selama 2020 karena terdampak pandemi Covid-19. Terlebih, harga cabai melambung tinggi. Namun, dia tetap berjualan meski pendapatan yang diperolehnya tak bisa maksimal seperti saat kondisi normal. Dia mengaku rutin membayar retribusi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom