Tutup Iklan
Di Klaten, Sampah Bisa Jadi Karya Seni Lewat Gelaran Ini
Salah satu instalasi seni yang dihasilkan dari hasil daur ulang sampah ditampilkan saat digelar jumpa pers rencana kegiatan Biennale Bank Sampah di DLHK Klaten, Selasa (14/7/2020). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Klaten bekerja sama dengan para seniman berencana menggelar perhelatan seni bernama Biennale Bank Sampah. Kegiatan itu dimaksudkan untuk memengaruhi pola pikir masyarakat tentang sampah yang ternyata bisa diubah menjadi karya seni.

Kepala DLHK Klaten, Srihadi, mengatakan kegiatan itu digelar bekerja sama dengan sanggar Lima Benua.

"Dari kegiatan ini kami harapkan semakin mengubah mindset terkait sampah. Gerakan seperti ini akan terus dilakukan untuk mengubah perilaku mengolah sampah terlebih dahulu dari sumbernya seperti memilah sampah dari rumah masing-masing," kata Srihadi saat ditemui wartawan di saat jumpa pers kegiatan Biennale Bank Sampah di DLHK Klaten, Selasa (14/7/2020).

Srihadi menjelaskan upaya pengurangan tumpukan sampah selama ini dilakukan salah satunya dengan membentuk bank sampah. Di Klaten, ada 65 bank sampah.

25 Nakes RSUD Moewardi Solo Diduga Tertular Covid-19 Saat Pesta Wisuda, Begini Tanggapan UNS

Sementara itu, produksi sampah di Kabupaten Klaten dalam sehari rata-rata 70 ton.

"Setiap bulan ada pembinaan ke bank-bank sampah. Selain itu, sekarang ada 19 TPS 3R yang dikelola oleh KSM [kelompok swadaya masyarakat]. Harapan kami dengan semakin banyak perubahan mindset tentang sampah, persentase sampah yang terbuang semakin berkurang," tutur dia.

Kegiatan

Direktur Artistik Biennale Bank Sampah, Temanku Lima Benua yang akrab disapa Liben, 18, mengatakan kegiatan tersebut digelar pada 23-30 Juli mendatang di ruang bersama Tanah Aer yang beralamat di Jl Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat.

Kegiatan diisi dengan pameran karya dua dimensi dan tiga dimensi, performing art, serta diskusi.

Seluruh kegiatan bertema pengelolaan sampah. Sebanyak 15 seniman terlibat dalam kegiatan itu yang diantaranya berasal dari Klaten, Jogja, Wonogiri, serta Boyolali.

"Ada tiga program yakni pameran, performing art, serta workshop. Semuanya tentang pengelolaan sampah. Jadi karya yang ditampilkan itu ada dari bank sampah yang selama ini didampingi seniman," kata gadis yang baru lulus SMA tersebut.

Pasar Harjodaksino Ditutup Sepekan, Terus 1.400-an Pedagang Ngapain?

Liben juga menjelaskan kegiatan itu dimaksudkan untuk mengajak masyarakat mengubah pola pikir mereka. Perubahan itu dengan mengajak masyarakat untuk mengurangi tumpukan sampah dengan melakukan pemilahan.

Sampah yang sudah terpilah bisa diolah menjadi sumber daya guna mendorong sirkulasi ekonomi dan bisa diolah menjadi karya seni.

"Sasaran kami terutama anak-anak generasi Z [generasi yang lahir di atas tahun 2000]. Karena mereka juga menjadi penghasil sampah terbanyak seperti dari bungkus-bungkus jajanan. Kami ajak supaya mereka paham pengelolaan sampah menjadi sumber daya baru," jelas dia.

Soal kegiatan yang digelar di tengah pandemi Covid-19, Liben menjelaskan protokol kesehatan tetap diberlakukan. Selain mewajibkan menggunakan masker, pengunjung juga diminta mengenakan helm khusus ketika berada di lokasi.

Helm yang dimaksudkan dibuat dari limbah sampah dilengkapi tanduk. "Helm ini sebagai seni social distancing. Tanpa harus meminta, ketika mengenakan helm [bertanduk] otomatis bisa saling menjaga jarak," kata Liben.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho