Petani di Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring, Klaten, melakukan gropyokan tikus, Senin (17/6/2019). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Pemerintah Desa (Pemdes) Juwiran, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, membayar Rp500 untuk setiap tikus ditangkap saat gerakan gropyokan tikus di sawah. Cara itu dilakukan pemdes setempat untuk menarik minat petani memburu tikus yang menyerang padi.

Gerakan gropyokan digulirkan sejak pekan lalu menyusul serangan tikus yang kian tak terkendali. Petani di Juwiran bahkan tak bisa menikmati hasil tanaman mereka lantaran padi keburu rusak dimakan tikus sebelum dipanen.

Kaur Perencanaan Desa Juwiran, M. Andi Prasetyo, mengatakan aksi gropyokan dilakukan petani dalam tujuh kelompok dengan masing-masing terdiri sekitar 15 orang. Kegiatan gropyokan dilakukan sejak Jumat (14/6/2019).

Kegiatan gropyokan mendapatkan fasilitas dari pemerintah desa. Setiap tikus yang ditangkap saat gerakan dilakukan dihargai Rp500. Selain itu, saban petani atau warga yang ikut memburu tikus mendapatkan uang konsumsi Rp15.000/hari.

“Sudah kami rapatkan dan bahas bersama-sama untuk pos anggarannya dari dana pemberdayaan petani di APB desa. Itu kami berikan agar petani kompak. Sebelumnya sudah pernah ada gerakan gropyokan, namun yang ikut hanya petani di sekitar kegiatan digelar,” kata Andi di Juwiran, Senin (17/6/2019).

Saat gropyokan digelar, setiap petani yang datang didata oleh perangkat desa setempat. Sementara, saat kegiatan gropyokan berakhir jumlah tikus yang ditangkap dihitung. Setelah dihitung, tikus yang ditangkap lantas dikubur.

Andi menuturkan serangan tikus ke sawah sudah terjadi selama tiga musim tanam ini. Serangan tikus itu menyebar hampir ke seluruh sawah di Juwiran seluas 92,7 hektare (ha). Para petani di desa tersebut pun mengeluhkan mengalami gagal panen selama tiga musim tanam.

Lantaran gagal panen, sebagian petani memilih membiarkan sawah mereka tak ditanami atau bera dua musim tanam terakhir. “Yang dibiarkan bera ada sekitar 40 ha,” ungkapnya.

Gropyokan dilakukan petani dengan mencari lubang-lubang yang kerap digunakan tikus bersembunyi di sekitar sawah. Setiap menemukan lubang, petani beramai-ramai mencangkul dan menyiram air. Ketika tikus keluar dari lubang, para petani lantas memukul tikus-tikus tersebut hingga mati.

Salah satu petani, Sumirin, 67, mengatakan sebelumnya padi yang ditanam petani di Juwiran tak hanya diserang tikus. Selama satu musim, petani dipusingkan dengan serangan tikus yang memakan tanaman padi serta banyaknya burung yang berkeliaran memakan bulir padi.

“Setelah satu musim serangan burung merada. Namun, tikusnya masih menyerang hingga tiga musim tanam ini,” kata petani asal Dukuh Klebengan, Desa Juwiran tersebut.

Akibat serangan tikus, hasil panen petani pun tak maksimal. Tak jarang para petani mengalami gagal panen lantaran hampir seluruh padi yang ditanam dimakan tikus.

Sumirin menanam padi di tiga patok sawah (setiap patok berukuran 2.200 meter persegi). Ia hanya mampu panen sebanyak empat karung ukuran 25 kg berisi padi dari dua patok sawah.

“Sementara satu patok masih lumayan dapat 10 kresek [karung]. Kalau panennya bagus satu patok bisa 30 kresek,” kata dia.

Akibat serangan tikus itu, Sumirin mengatakan petani merugi Rp2,5 juta untuk biaya produksi setiap patok dalam satu musim tanam. Nilai itu belum termasuk biaya sewa lahan bagi para petani penggarap.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup, para petani mengandalkan pekerjaan sampingan. “Ada yang mencari rongsok,” ungkapnya.

Petani lainnya, Jalal, 50, mengaku hasil dari pertanian tak bisa diandalkan terlebih selama tiga musim tanam ini mengalami gagal panen lantaran padi diserang hama.

“Pekerjaan sampingan saya ya jasa distribusi wajan dari tempat produksi ke pasar. Selain itu saya juga cari rongsok ke bengkel-bengkel dan kemudian dijual kembali,” katanya. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten