Ilustrasi jalan tol Semarang-Jogja. (Solopos)

Solopos.com, BOYOLALI -- Boyolali menjadi salah satu daerah yang akan dilewati jalur tol Solo-Jogja. Jalan bebas hambatan itu akan melewati sembilan desa di dua kecamatan.

Sekitar 80 hekare (ha) lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) di wilayah ini dipastikan beralih fungsi. Sementara total lahan yang akan terkena dampak pembangunan jalan bebas hambatan itu sekitar 119 ha.

Pembangunan jalan tol Solo-Jogja di wilayah Jawa Tengah akan melintasi tiga kabupaten, yakni Karanganyar, Boyolali, dan Klaten. Di Boyolali, proyek akan melintasi sembilan desa di dua kecamatan yakni Banyudono dan Sawit.

Di Banyudono, jalan tol akan melintasi wilayah desa Banyudono, Batan, Kuwiran, Sambon, dan Jembungan. Sedangkan di Kecamatan Sawit ada desa Guwokajen, Bendosari, Jatirejo, dan Kateguhan.

Asisten II Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Widodo Munir mengatakan dari total luas lahan di Boyolali yang terkena tol itu, 80 ha di antaranya adalah LP2B. “Pembangunan jalan tol ini adalah kebijakan pemerintah pusat yang harus didukung pemerintah daerah, termasuk Boyolali. Boyolali berkewajiban memfasilitasi penyediaan lahan yang sebagian besar adalah sawah. Selebihnya berupa tegalan dan permukiman,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di ruangannya, Kamis (18/7/2019).

Menurutnya, penggunaan lahan LP2B untuk pembangunan jalan tol membawa konsekuensi Pemkab harus mencari lahan pengganti di lokasi lain. Karenanya, saat ini Pemkab sudah mulai ancang-ancang mencari lokasi pengganti tersebut.

Di sisi lain, Pemkab juga segera mengidentifikasi fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di daerah yang akan dilintasi proyek tol tersebut. Berdasarkan informasi yang dia peroleh, jalan tol nanti berada lebih tinggi dibandingkan elevasi yang ada sehingga dia optimistis tidak akan terjadi kendala untuk fasum dan fasos.

"Artinya, tidak ada masalah jalan melintas di atas jalan tol, atau saluran air yang terjebak terowongan jalan tol karena posisinya lebih rendah dibandingkan lahan existing ” imbuhnya.

Disinggung mengenai kemungkinan masalah seperti yang terjadi di Klaten, di mana trase jalan tol belum fixed karena akan melewati sumber mata air, Widodo memastikan di Boyolali trasenya sudah aman tidak ada kendala.

Menurut rencana jalan tol Solo-Yogja di wilayah Boyolali akan diawali dari Banyudono. “Rencananya, pintu tol [ruas Salatiga-Kartasura] Colomadu akan digeser ke barat. Pertemuan pintu itu dengan jalan Solo-Semarang akan terjadi di sekitar barat Mapolsek Banyudono. Dari titik tersebut tembus ke selatan hingga wilayah Kecamatan Sawit dan tersmbung dengan wilayah Klaten.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali Bambang Jiyanto mengatakan penggantian 80 ha lahan LP2B akan diselesaikan pemerintah pusat. “Ini kan proyek nasional sehingga yang menyelesaikan permasalahan ini juga di tingkat nasional. Kemungkinan penggantinya tidak di Boyolali, mungkin di daerah lain. Sulit lah cari 80 ha di Boyolali,” ujar Bambang.

Disinggung mengenai pengaruh penggunaan sawah untuk pembangunan jalan tol terhadap produksi pangan Boyolali khususnya padi dari Banyudono dan Sawit yang termasuk wilayah penyangga pangan, Bambang belum dapat menjelaskan lebih jauh.

“Yang jelas nanti akan kami analisis dulu, sawah jenis apa yang akan dipakai [untuk pembangunan jalan tol] dan lokasinya di mana saja,” ujar Bambang yang saat dihubungi mengatakan sedang berada di Jakarta.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: