Dua sukarelawan menuntun penyandang disabilitas netra ke aula untuk menonton film. (Ist)

<p><strong>Solopos.com, SOLO&mdash;</strong>Tidak semua orang mendapatkan keberuntungan. Untuk melihat saja, ada sebagian manusia yang tidak mampu melakukannya. Keterbatasan penglihatan membuat mereka tidak bisa menikmati setiap momen yang ada di sekitarnya.</p><p>Tidak hanya bercengkerama dan melihat wajah orang di sekitarnya, untuk menyaksikan pertunjukan seperti <a title="Adegan Sinetron Orang Ketiga Mirip Film Kuch Kuch Hota Hai" href="http://viral.solopos.com/read/20180722/486/929331/adegan-sinetron-orang-ketiga-mirip-film-kuch-kuch-hota-hai">film</a> pun mereka tak mampu melakukannya.</p><p>Hanya bisa mendengarkan dan terbawa dalam khayalannya sendiri akan adegan yang dilakukan aktor dan aktris di film atau pertunjukan teater tersebut.</p><p>Namun mereka tak perlu khawatir karena saat ini kesadaran orang yang lebih beruntung untuk membantu <a title="Ganjar Pranowo Minta Fasilitas Penyandang Disabilitas Ditambah" href="http://semarang.solopos.com/read/20180731/515/931122/ganjar-pranowo-minta-fasilitas-penyandang-disabilitas-ditambah">penyandang disabilitas</a> semakin tinggi.</p><p>Mereka hadir melayani penyandang tunanetra untuk membisikkan setiap adegan yang ada di film atau teater.</p><p>Para pembisik. Begitulah para volunteer itu menyebut dirinya. Sesuai namanya, tugas pembisik adalah menemani kaum tunanetra dan membisikkan setiap adegan yang ada di film seni pertunjukan lainnya.</p><p><img src="http://img.solopos.com/upload/img/bioskop%20bisik/bisik%205.jpg" alt="" width="600" height="400" /></p><p>Di Indonesia, komunitas yang beranggotakan para pembisik ini bernama Bioskop Bisik. Namun jauh sebelumnya, aksi pembisik sudah dimulai dari Yayasan Mitra Netra. Oleh perusahaan media digital Indonesia, <em>Think.Web</em> yang bekerja sama dengan Komunitas Fellowship of Netra Community, kemudian dikembangkan Bioskop Bisik.</p><p>Di Solo, Bioskop Bisik mulai diinisiasi Komunitas Rampak Selampah Solo. Pemutaran film <em>Sepatu Dahlan</em> di ruang Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara Bhakti Candrasa, Solo, Minggu (29/7/2018), adalah kali kedua kegiatan bertajuk Bioskop Netra tersebut digelar.</p><p><img src="http://img.solopos.com/upload/img/bioskop%20bisik/bisik%204.jpg" alt="" width="600" height="400" /></p><p>Adegan demi adegan ditampilkan, lengkap dengan suara aktor dan musik pengiring. Bioskop Bisik diikuti 50 penyandang tunanetra.</p><p>Koordinator Rampak Selampah Solo, Bumi Sulaiman, mengatakan Bioskop Bisik bertujuan memberi kesempatan bagi kelompok difabel netra untuk mengerti dan memahami serta merasakan emosi dalam film melalui sang pembisik.</p><p>Proses perekrutan sukarelawan pembisik dilaksanakan jauh hari sebelumnya. Mereka diwajibkan mengisi formulir, memenuhi sejumlah ketentuan, dan diharapkan bersedia melakukan kerja sosial.</p><p><img src="http://img.solopos.com/upload/img/bioskop%20bisik/bisik%202.jpg" alt="" width="600" height="400" /></p><p>&ldquo;Pada Bioskop Netra I, total sukarelawan yang mendaftar mencapai 200-an orang padahal jumlah penonton atau penyandang disabilitas netranya terbatas. Kali kedua juga sama. Karena itu kami berupaya merekrut sukarelawan yang baru kali pertama,&rdquo; tutur Bumi, kepada <em>Solopos.com</em>, pekan lalu.</p><p>Film <a title="FOTO FILM SEPATU DAHLAN : Menaiki sepeda" href="http://news.solopos.com/read/20140403/496/500048/foto-film-sepatu-dahlan-menaiki-sepeda"><em>Sepatu Dahlan</em></a> dipilih lantaran bertema keluarga, ringan, dan inspiratif. Ke depan, pihaknya berencana memutar film yang masih ada kaitannya dengan penyandang disabilitas netra sesuai permintaan mereka.</p><p>&nbsp;</p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten