Desa Tlogoharjo Giritontro Wonogiri Bebas Kekeringan pada 2021
(istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI -- Satu dari lima desa di Kecamatan Giritontro, Wonogiri yang selalu terdampak kekeringan setiap tahunnya dipastikan sudah terbebas dari kekurangan air bersih pada 2021. Desa itu yakni Tlogoharjo.

Camat Giritontro, Fredy Sasono, mengatakan ada lima daerah di Giritontro yang selalu mengalami kekurangan air bersih atau kekeringan saat musim kemarau.

Kelima daerah itu yakni Kelurahan Bayemharjo, Desa Ngargoharjo, Desa Tlogosari, Desa Tlogoharjo dan Desa Jatirejo. Namun, pada 2021 Desa Tlogoharjo sudah dipastikan terbebas dari kekeringan.

Kejari Solo Musnahkan Barang Bukti Kejahatan, Mayoritas dari Kasus Narkotika

"Di Giritontro itu ada dua kelurahan dan lima desa. Daerah yang dari dulu tidak terdampak kekeringan atau kebutuhan air bersih tercukupi hanya dua daerah, yakni Kelurahan Giritontro dan Desa Pucanganom," kata dia kepada wartawan di Kantor Bawaslu Wonogiri, Rabu (25/11/2020).

Dia mengatakan, pada 2020 ada tiga pengeboran sumur dari Badan Geologi di tiga desa. Pertama, di Tlogoharjo, hasil pengeboran mengeluarkan air. Kedua, di Ngargoharjo, pengeboran tidak membuahkan hasil. Kedalaman sudah mencapai 126 meter tapi air tidak keluar.

Ketiga, diJatirejo, saat ini masih dalam proses pengerjaan. Berdasarkan informasi dari penggarap, ada tanda-tanda positif bahwa sumur yang tengah digali akan mengeluarkan air. Saat ini sudah mencapai kedalaman 100 meter. Dalam prosesnya sudah ganti mesin. Karena tidak mampu, diganti mesin bor minyak.

"Kami akan terus berusaha mengentaskan kekeringan seluruh daerah Giritontro. Hali itu kami lakukaj melalui dana desa, APBD dan dari aspirasi masyarakat," kata Fredy.

Sumur

Kepala Desa Tlogoharjo, Kecamatan Giritontro, Wonogiri, Miyanto mengatakan sejak 2018 hingga saat ini sudah ada enam sumur yang dibuat. Hasilnya, semua sumur mengeluarkan air. Belum lama ini, telah dilakukan pengeboran sumur di Dusun Gunung. Daerah itu berada di dataran tinggi dan jauh dari sumber air. Namun air bisa keluar dari pengeboran sumur itu.

Sebelumnya, kata dia, juga dilalukan pengeboran sumur di Dusun Plereng dari Badan Geologi. "Air yang mengalir bisa mencukupi kebutuhan masyarakat, debitnya cukup banyak. Tahun lalu juga ada pengeboran menggunakan dana desa dan juga berhasil," ungkap dia.

Pada 2021, lanjut dia, pihaknya berencana memasang pipa pralon agar air dari sumur bisa mengalir ke rumah warga. Di Tlogoharjo ada 745 KK nasional dan 584 KK rumah. Biaya pemasangan pralon berasal dari APBD. Namun untuk meteran air menjadi tanggungan setiap rumah atau KK.

Kecelakaan Maut di Timuran Solo: Identitas Pengendara MX King Masih Misteri

Ia mengatakan, ada bantuan dari para perantauan atau kaum boro. Bentuan itu berupa pengadaan pipa sumur, meteran air dan lain sebagainya. "Saking senangnya mereka mendapat kabar di desa sudah bisa teraliri air, para kaum boro ikut membantu dana," kata dia.

Saat masih terdampak kekeringan, kata dia, untuk mendapatkan air warga harus membeli air bersih sendiri. Satu tangki harganya Rp150.000. Bahkan sebelumnya, warga mengambil air sendiri dari Telag Pindul di Kelurahan Bayemharjo, Giritontro yang jaraknya tujuh kilometer.

"Alhamdulillah saat ini kebutuhan air bisa tercukupi di desa kami. Semoga bisa bermanfaat," kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom