Desa Tanjung Boyolali Padukan Agrowisata dan Ziarah Makam
Permakaman Rogo Runting di Bukit Rogo Runting Desa Tanjung, Klego, Boyolali. (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI --  Desa Tanggul di Kecamatan Klego, Kabupaten, Boyolali, sejak tahun 2017 lalu diproyeksikan sebagai kawasan agrowisata oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali. 

Desa yang terletak di jalan lintas Simo-Klego ini kemudian menyediakan lahan khusus seluas 20 hektare untuk penanaman pohon durian. "Penanaman sudah dimulai sejak Februari tahun lalu," ungkap Kepala Desa Tanjung, Suyadi, saat berbincang dengan solopos.com di ruang kerjanya Selasa (18/9/2018) lalu. 

Pemerintah Desa Tanjung memanfaatkan lahan yang masih luas di kawasan Bukit Rogo Runting. Kawasan itu sengaja dipilih untuk membuat perpaduan antara wisata sejarah dan agrowisata.

Hal ini sekaligus untuk menarik minat warga luar desa mendatangi makam Rogo Runting, tokoh sejarah lokal yang dikisahkan memperebutkan wilayah melawan Kyai Singoprono. 

Ada puluhan jenis durian lokal yang telah ditanam, seperti Montong, Petruk, dan Musangking. Namun sebagian besar pohon di masa penanaman pertama ini mati karena kekurangan air.

Untuk mengatasi kesulitan penyiraman, tahun ini Pemerintah Desa membuat beberapa sumber air di kawasan bukit Rogo Runting, seperti sumur dan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakatnya (Pamsimas). Diakui Kades, pengairan menjadi permasalahan utama dalam pengembangan kawasan agrowisata di desa

"Rencananya kami bereskan dulu permasalahan air," kata dia. Setelahnya penanaman durian akan dimulai kembali sebab beberapa batang durian yang hidup justru menempati pekarangan rumah warga. Apabila tanaman sudah hidup secara konsisten Desa Tanjung akan diresmikan sebagai kawasan agrowisata oleh Pemerintah Kabupaten. 

Sementara itu kawasan Bukit Rogo Runting masih banyak dikunjungi para peziarah dari luar daerah. Kondisi ini mendukung sebagai sarana promosi pariwisata baru. "Sekaligus agar yang tahu soal Rogo Runting bukan hanya orang-orang tua namun juga anak muda," kata Suyadi. 

Menurut legenda, Rogo Runting bersama Kyai Singoprono merupakan dua tokoh yang menjadi muasal kawasan Gunung Tugel di Desa Nglembu, Kecamatan Sambi. Konon, Rogo Runting ingin menunjukkan kesaktiannya dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan di Desa Tanjung ke pegunungan di Desa Nglembu yang menjadi tempat tinggal Kyai Singoprono.

Rogo Ranting melilitkan sebutir telur yang menggelinding pada benang tersebut. Benang dan telur tersebut, menurut penjaga makam Kyai Singoprono di Desa Nglembu, Joko Mulyono, dijadikan pembatas wilayah kekuasaan keduanya.

"Itulah kenapa dinamai Gunung Tugel, Tugel yang berarti memisahkan menjadi dua," ucap Joko beberapa waktu lalu. 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom