Warga memperebutkan gunungan berisi tahu bakso di lapangan Dukuh Bendan, Desa Jetis, Kecamatan Klaten Selatan, seusai dikirab, Minggu (15/9/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Warga Desa Jetis dan Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, berencana membuka outlet penjualan tahu bakso di tepi jalan Jogja-Klaten.

Outlet itu untuk memperkenalkan tahu bakso yang diklaim sebagai produk lokal warga setempat. Untuk memperkenalkan tahu bakso itu pula sebanyak 20 gunungan tahu bakso dikirab serta diperebutkan warga di Desa Jetis dan Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Minggu (15/9/2019).

Kegiatan itu digelar untuk mengenalkan Jetis dan Trunuh sebagai sentra industri tahu bakso di Kabupaten Bersinar. Kirab yang digelar muda-mudi One Plus tersebut dipusatkan di lapangan Dukuh Bendan, Desa Jetis, yang merupakan perbatasan antara Jetis dan Trunuh.

Tahu bakso yang menghiasi aneka gunungan berasal dari sumbangan para pelaku usaha tahu bakso di dua desa. Kepala Desa (Kades) Jetis, Mulyatno, mengatakan usaha tahu bakso sudah digeluti warga dua desa sejak 1990-an.

Usaha itu dirintis salah satu warga bernama Mardi yang memasukkan adonan bakso ke dalam tahu lantas dikukus. Tahu bakso bikinan Mardi mulai dikenal hingga warga kepincut membuka usaha serupa.

Tak hanya tahu bakso, warga membuka usaha yang saling berkaitan seperti penggilingan daging, pemasok tepung, hingga penjualan. “Ada 100 UKM yang bergerak di tahu bakso,” kata Mulyatno.

Tahu bakso bikinan warga Jetis dan Trunuh tak hanya dipasarkan di wilayah Klaten. Pasar tahu bakso sudah merambah ke sejumlah kota seperti Jogja dan Jakarta. Untuk kian mengenalkan tahu bakso, warga berencana membuat outlet di tepi jalan raya Jogja-Klaten.

Outlet itu menjadi lokasi jualan sekaligus mengenalkan wilayah Jetis-Trunuh sebagai pusatnya tahu bakso di Kabupaten Bersinar. “Kami sudah membuat MoU dengan SMPN 7 Klaten untuk memanfaatkan bekas bank sampah untuk dijadikan outlet penjualan tahu bakso,” tutur dia.

Salah satu warga Dukuh Jurugan, Desa Trunuh, Suparno, 69, mengatakan termasuk generasi awal yang ikut menggeluti usaha tahu bakso. Dia menjelaskan pengusaha tahu bakso tersebar ke berbagai dukuh di Jetis dan Trunuh.

Awalnya, tahu diisi adonan bakso berbahan daging sapi. Seiring perkembangan, tahu diisi adonan bakso berbahan daging ayam.

“Kadang dicampur antara daging ayam dan sapi. Soal harga bervariasi. Ada yang Rp400/biji ada pula yang Rp2.000/biji. Dari usaha tahu bakso pula, saya mampu membiayai pendidikan anak saya sampai lulus kuliah,” katanya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten