Desa Jambukulon, Pusatnya Furnitur dan Handicraft di Klaten
Pengendara kendaraan melintas di kios handicraft di Jambukulon, Ceper, Klaten, Selasa (11/2/2020). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN - Jambukulon, Kecamatan Ceper, Klaten telah puluhan tahun dikenal sebagai sentra furnitur dan handicraft. Para perajin furnitur dan handicraft di desa ini tak hanya melayani pemesanan dari berbagai daerah di Tanah Air.

Lebih dari itu, produk furnitur dan handicraft warga Jambukulon telah “terbang” ke luar negeri. Sebut saja, Amerika Serikat, Australia, negara di Eropa dan Asia, serta negara lain di berbagai penjuru dunia secara rutin memesan produk buatan warga Jambukulon.

Pembangunan Tol Probowangi Seksi 3 Segera Masuki Tahap Pembebasan Lahan

Perputaran uang hasil ekspor furnitur dan handicraft di Jambukulon minimal senilai Rp4 miliar per bulan. Angka tersebut dinilai sangat fantastis untuk ukuran Desa Jambukulon. Jumlah perajin furnitur dan handicraft di Jambukulon berkisar 200-an orang. Bahan baku furnitur dan handicraft berasal dari kayu dan batang bambu.

Khusus handicraft, sebagian besar memanfaatkan akar bambu yang biasa diperoleh dari Gunungkidul (Jogja) dan Bojonegoro (Jatim). Handicraft di Jambukulon, seperti patung bebek, patung penguin, kentongan, dan lainnya. Hal itu belum termasuk kerajinan bambu berupa gazebo.

“Produk warga di sini memang kualitas ekspor semua. Selama ini, para perajin berjalan sendiri-sendiri, baik mencari buyer, permodalan, dan lainnya. Kami merasa sebagai pahlawan devisa negara yang tak pernah diperhatikan pemerintah [dari pusat hingga daerah].

Dua Motor Adu Banteng di Tasikmadu Karanganyar, Remaja 16 Tahun Meninggal

Hingga sekarang, persoalan yang dihadapi para perajin itu soal minimnya modal. Kami belum pernah memperoleh bantuan modal itu dari pemerintah [baik pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten],” kata salah satu perajin akar bambu di Jambukulon, Nuryadi, 42, saat ditemui Solopos.com di Jambukulon, Ceper, Klaten, Selasa (11/2).

Minimnya modal itu mengakibatkan para perajin tidak all out dalam melayani buyer. Para perajin justru kewalahan saat memperoleh order dalam jumlah banyak. Selain modal, para perajin juga membutuhkan peralatan modern.

“Di Jambukulon ini, perajin seperti saya bisa memperoleh keuntungan bersih Rp10 juta per bulan. Tapi, hasil penjualan akan seperti ini terus. Soalnya, modalnya memang terbatas," imbuhnya.

"Produk dari Jambukulon ini juga banyak yang dikirim ke Jogja atau pun Bali. Orang tak tahu, produk furnitur dan handicraft di sana berasal dari Jambukulon. Tahunya, dari Jogja atau Bali. Ini perlu dipatenkan juga ke depan. Pada dasarnya sudah banyak yang tahu bahwa Jambukulon itu sentra furnitur dan handicraft,” lanjut Nuryadi.

Keberadaan Jambukulon sebagai sentra furnitur dan handicraft itu pun telah didengar telinga pemerintah pusat. Tak heran, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Teten Masduki, menyempatkan berkunjung ke Jambukulon, Ceper, Klaten, Senin (3/2/2020). Di kesempatan itu, Teten Masduki berdiskusi banyak dengan para perajin furnitur dan handicraft.

“Kami ingin meningkatkan ekspor furnitur hingga dua kali lipat di 2020 dibandingkan tahun 2019. Yang perlu diketahui, global market di furnitur saat ini senilai U$1,25 triliun. Kontribusi Indonesia senilai U$1,7 juta. Masih sedikit sekali. Makanya produksi harus ditingkatkan dengan menggandeng para perajin itu sendiri,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom