Joglo di depan kantor Desa Dompol, Kemalang, Klaten, dibangun menggunakan pendapatan asli desa setempat hampir Rp1 miliar. (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Pemerintah Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Kabupaten klaten, Jawa Tengah bersama masyarakat desa setempat berbenah menuju menjadi desa wisata.

Pengembangan potensi dilakukan dengan menghidupkan kembali potensi-potensi yang dimiliki desa.

Potensi itu yakni kebun buah Argosari. Kebun milik desa yang berada di Dukuh Purworejo, Dompol, berisi aneka pohon buah-buahan seperti apel, jeruk, dan durian selama bertahun-tahun tak terurus.

Potensi lain yakni embung di Dukuh Dompol yang diresmikan Tien Soeharto, istri Presiden kedua RI, Soeharto, pada 1971. Kondisi embung sebagai tempat menjaga ketersediaan air di Dompol saat kemarau tersebut rusak dan tak terurus.

Kepala Desa Dompol, Kuntadi, mengatakan kebun buah bakal dihidupkan kembali dengan ciri khas buah durian. Ratusan bibit pohon durian bakal ditanam di kebun aset desa setempat. Lahan yang disiapkan sekitar 2,5 ha.

“Untuk embung akan kami revitalisasi dan kawasannya akan kami percantik. Kondisi embung saat ini sudah rusak. Rencananya akan menjadi satu paket. Dari kebun buah, pengunjung bisa bersantai di kawasan embung,” kata Kuntadi saat ditemui solopos.com di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Pengembangan potensi wisata tersebut masih dalam tahap persiapan. Sebagai tahap awal, pemerintah desa setempat membangun 12 kios desa di dekat embung pada 2018 dengan alokasi dana sekitar Rp400 juta dari dana desa.

Kios-kios itu dimanfaatkan warga guna mengembangkan usaha dengan nilai sewa Rp4,5 juta/tahun.

Sementara, embung direvitalisasi secara bertahap dan dimulai pada 2019.

Tahun ini, pemerintah desa setempat mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta guna pengembangan wisata itu termasuk revitalisasi embung. “Target kami pada 2021 sudah selesai,” urai Kuntadi.

Kuntadi mengakui selama ini pendapatan asli Desa Dompol bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar per tahun. Salah satu sumber pendapatan berasal sumbangan tidak mengikat dari para pelaku usaha di desa setempat salah satunya pertambangan galian C.

Pendapatan yang selama ini diterima sudah bisa menggulirkan sejumlah kegiatan seperti umrah gratis bagi lima warga serta pembangunan joglo di depan kantor Desa Dompol.

Seluruh dana pembangunan joglo berasal dari pendapatan asli desa dengan total anggaran diperkirakan hampir mencapai Rp1 miliar.

Kuntadi mengatakan pendapatan yang diperoleh Desa Dompol selama ini sudah tinggi. Hanya, ia menjelaskan sumber pendapatan tersebut tak bisa diandalkan selama-lamanya.

“Untuk itu [sumbangan dari tambang] lama-lama materialnya juga habis. Makanya, kami mengembangkan potensi desa yang bisa mendatangkan sumber pendapatan selamanya,” kata dia.

Salah satu tokoh masyarakat Dompol, Karyana, mengatakan pendapatan asli Desa Dompol pada 2017 sekitar Rp1,4 miliar, 2018 sekitar Rp1,3 miliar, dan 2019 diproyeksikan sekitar Rp800 juta.

Dia menjelaskan sumber pendapatan itu berasal dari sumbangan tidak mengikat dari para pelaku usaha di Dompol yang sudah dimuatkan dalam peraturan desa.

“Harapan kami rencana pengembangan wisata ini bergeliat dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dompol,” kata dia. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten