Desa di Sragen Perlu Buat Peraturan Untuk Lestarikan Burung Hantu

Pemerintah Desa Gentanbanaran, Plupuh, Sragen berupaya melestrikan burung hantu. Sayangnya, hingga kini belum ada peraturan di desa tersebut yang melarang perburuan burung hantu.

 Ilustrasi burung hantu serak jawa atau yang memiliki nama latin Tyto alba. (Freepik)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi burung hantu serak jawa atau yang memiliki nama latin Tyto alba. (Freepik)

Solopos.com, SRAGEN — Perangkat Desa Gentanbanaran, Kecamatan Plupuh, Sragen kesulitan melarang perburuan burung hantu di desa mereka. Ketiadaan aturan membuat mereka tak bisa menindak pemburu hewan sahabat petani tersebut.

PromosiSiaran Digital April 2022, Pemerintah Jamin Ketersediaan Set Top Box

“Enggak ada aturannya, saya enggak berani melarang [berburu burung hantu]. Kecuali dari pemerintah desa ada edaran tentang burung itu dilindungi. Kesepakatan Badan Permusyawaratan Desa [BPD] atau apa,” kata Kebayan IV Desa Gentanbanaran, Paryanto, Selasa (11/1/2021).

Dia mengatakan ada sejumlah burung hantu bersarang di masjid desa setempat sejak satu setahun terakhir. Burung bernama latin Tyto alba ini kerap bersuara keras pada malam hari, tepatnya saat menjelang maghrib sehingga kadang membuat berisik.

Baca Juga: Lestarikan Burung Hantu, Pemdes Gentanbanaran Sragen Siapkan Rp25 Juta

Sekretaris Desa Gentanbanaran, Budiyanto, mengakuh pihaknya akan membuat peraturan desa mengenai perlindungan satwa liar dengan mengumpulkan tokoh masyarakat desa dan BPD Gentanbanaran.

“Nanti kami akan musyawarahkan dengan tokoh masyarakat. Kalau kegiatan berjalan [upaya melestarikan burung dengan membangun rumah burung hantu], sangat baik sekali untuk menciptakan keseimbangan alam,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Desa Gentanbanaran mengalokasikan dana desa Rp25 untuk membangun rumah burung hantu (rubuha) atau rumah karantina burung. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi populasi tikus karena satu ekor burung hantu diklaim bisa memakan dua ekor tikus/hari.

Baca Juga: Mantab, Desa Celep Sragen Beli 18 Ekor Tyto Alba untuk Basmi Hama Tikus

Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Gentanbanaran, Mulyani, mengatakan adanya peraturan desa terkait perlindungan satwa liar penting untuk menjaga kelestariannya.

Berdasarkan catatan Solopos.com, salah satu desa di Plupuh yang telah memiliki peraturan desa tentang pelestarian satwa liar adalah Desa Karungan. Peraturan itu melarang siapa pun berburu satwa liar di sekitar Pasar Bahulak atau area Mbah Karang. Warga yang mengganggu, menangkap, menembak, dan memburu satwa yang berada di lingkungan Mbah Karang bisa didenda Rp10 juta.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Data dan Fakta Risiko Bencana Jakarta dan Kaltim

+ PLUS Data dan Fakta Risiko Bencana Jakarta dan Kaltim

Pulau Jawa memiliki paparan risiko bencana tinggi dibanding pulau lain, namun indeks risiko bencana lebuh tinggi dimiliki Kalimantan Timur dibanding DKI Jakarta.

Berita Terkini

Tengah Malam di Bangunan Tua Rumah Jagal Solo, Serem Lur!

Rumah jagal atau pemotongan hewan di kompleks Kantor DKPP Solo merupakan salah satu bangunan tua dari awal 1900-an yang masih terjaga keasliannya.

Pandemi Belum Berakhir, Tim Gabungan Solo Gencarkan Lagi Razia Masker

Petugas gabungan TNI, Polri, dan Pemkot Solo kembali menggencarkan razia masker untuk mengingatkan masyarakat yang mulai abai menerapkan protokol kesehatan padahal pandemi belum berakhir.

Kasus Covid-19 Wonogiri Naik, Jekek Minta PTM 100 Persen Dievaluasi

Jekek menilai perlu ada strategi baru untuk mencegah penularan Covid-19 varian Omicron di lingkungan satuan pendidikan.

Waduh, Banyak Naskah Kuno Berharga di Mangkunegaran Solo Hampir Rusak

Kondisi naskah-naskah atau manuskrip kuno di perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran Solo hampir rusak sementara upaya penyelamatan terkendala sarpras.

BBWSBS Hitung Lagi Kebutuhan Anggaran Revitalisasi Rawa Jombor

BBWSBS sebelumnya sudah mengusulkan ke Kemen PUPR agar mengalokasikan anggaran Rp68 miliar untuk kegiatan revitalisasi Rawa Jombor pada 2023.

Giliran Soropaten, Mranggen, & Manjungan Klaten Dapat SK Desa Wisata

Tiga desa yang memperoleh SK bupati Klaten tentang desa wisata, yakni Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom; Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, dan Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen.

Tambah Terus, 200-An Pemulung Mengais Rezeki di TPA Putri Cempo Solo

Jumlah pemulung yang mengais rezeki di antara tumpukan sampah TPA Putri Cempo Mojosongo, Solo, terus bertambah dari tahun ke tahun,

Sibangga Jadi Wadah Polres Sukoharjo Gali Permasalahan Masyarakat

Kapolres menambahkan permasalahan keamanan dan ketertiban masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian melainkan juga ada peran masyarakat di dalamnya.

Molor, Proyek 2021 Jalan Watuondo-Pogog Wonogiri Tak Kunjung Rampung

Hingga Januari ini proyek jalan Watuondo, Kecamatan Bulukerto-Pogog, Kecamatan Puhpelem senilai Rp3,985 miliar belum rampung.

Buat yang Mau Wisata Lampion Imlek, Dapat Pesan dari Kapolresta Solo

Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak memberikan sejumlah pesan kepada warga yang ingin berwisata menikmati keindahan lampion Imlek di Pasar Gede dan Balai Kota Solo.

Kasus Naik Lagi, Jekek: Covid-19 Enggak Bisa Ditangkal dengan Akik

Joko Sutopo menegaskan Covid-19 tidak dapat ditangkal hanya dengan akar bahar, akik, atau benda lain yang dianggap memiliki kekuatan tertentu.

Duh, Kasus Aktif Covid-19 di Wonogiri Naik Lagi

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wonogiri menilai kasus aktif Covid-19 di Wonogiri naik lagi lantaran penerapan protokol kesehatan kendur.

Penyelesaian Sengketa Lahan Sriwedari Solo Bisa Jadi Legacy Gibran

Penyelesaian sengketa lahan Sriwedari Solo antara Pemkot dengan ahli waris RMT Wirjodiningrat bisa menjadi legacy atua warisan Gibran sebagai Wali Kota kelak.

Bupati Wonogiri Buka Ruang Audiensi dengan Tenaga Honorer

Bupati Joko Sutopo menyampaikan sampai saat ini belum mengetahui yang dimaksud pemerintah pusat mengenai penyelesaian masalah tenaga honorer dengan batas waktu 2023.

BIN Gelar Vaksinasi Dosis Kedua di SDN 2 Tegalgede Karanganyar

BIN menggelar vaksinasi dosis kedua untuk anak usia 6-11 Tahun di SDN 2 Tegalgede, Karanganyar.