Desa Cawet Pemalang Simpan Keindahan Surgawi

Desa Cawet memiliki tekstur permukaan tanah yang berbukit dengan ketinggian antara 250-660 meter di atas permukaan laut (mdpl) sehingga memiliki udara yang sejuk dan menyegarkan.

Yesaya Wisnu - Solopos.com
Kamis, 19 Mei 2022 - 16:13 WIB

SOLOPOS.COM - Jembatan Kali Duren, Dusun Sipedang, Desa (Instaram/@kabarpemalang) Cawet

Solopos.com, PEMALANG — Selain memiliki nama yang menggelitik dan unik, Desa Cawet yang berada di Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah ternyata menyimpan panorama alam yang memesona. Kawasan ini memiliki  masih asri sehingga berpotensi menjadi wisata alam.

Dilansir dari Desakupemalang.id, Kamis (19/5/2022), tanah di Desa Cawet berupa perbukitan dengan ketinggian antara 250-660 meter di atas permukaan laut (mdpl) sehingga memiliki udara yang sejuk dan menyegarkan.

Hamparan sawah hijau berundak serta bukit hutan pinus yang rindang menghiasi pemandangan sepanjang kawasan desa yang berjarak 50 km dari pusat Kota Pemalang. Desa ini terdiri dari lima dusun, yakni Dusun Kaliduren, Karangsempu, Kramat, Sipedang, dan Watugajah dengan total pendudukn 3.539 jiwa.

Desa ini juga memiliki sumber air yang berlimpah dari dua sungai, yakni Kali Keruh dan Sungai Polaga. Di kawasan Sungai Polaga, terdapat jembatan warna-warni yang kerap menjadi tempat untuk berswafoto para milenial dan juga foto pre-wedding. Jembatan ini merupakan jembatan gantung yang dibangun pada 2014 silam dengan panjang 45 meter dan lebar 1,5 meter, menghubungkan Desa Cawet dengan Desa Bodas.

Karena berwarna-warni, warga setempat menyebutnya Jembatan Pelangi. Dari atas jembatan ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan sungai polaga dengan bebatuan alami dan latar perbukitan Bulu serta hamparan sawah yang menyejukan mata yang memperkuat suasana pedesaan.

Baca juga: Asal-Usul Desa Cawet Pemalang: Bermula dari Celana Dalam

Asal Mula Nama ‘Cawet’

Seperti yang diketahui, asal mula penamaan nama desa ini berawal dari tokoh masyarakat yang hanya menggunakan cawing atau kain peniutup area vital tubuh dan tali sebagai pengikat hingga akhirnya dikenal sebagai Cawing Tali yang dipilh oleh Adipati Reksodiningat saat itu, tepatnya pada 1825, untuk menjadi kepala desa (Kades) pertama.

Sosok yang saat itu dihormati oleh warga setempat dengan nama Ki Lurah Cawing atau Mbah Cawing Tali ini sebenarnya adalah salah satu dari lima sesepuh desa yang konon adalah penyebar agama Islam di kawasan tersebut.

Baca Juga: Asal-Usul Pemalang, Tanah Merdeka di Pulau Jawa

Berdasarkan pantauan Solopos.com melalui kanal Youtube Tamta Journey, Mbah Cawing Tali ini merupakan founding father dari Desa Cawet. Dia adalah sosok yang melakukan babat alas hingga membentuk Desa Cawet. Makam Mbah Cawing Tali ini berada di Dusun Watugajah dan kerap dikunjungi warga untuk berziarah.

Namun sayangnya, makam Mbah Cawing Tali ini masih berupa gundukan dan belum dipugar. Warga setempat berharap jika kedepannya makam Mbah Cawing Tali ini bisa dipugar supaya keberadaannya tetap lestari.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif