Tutup Iklan

Desa Bonyokan Klaten: Dulu Tempat Berkumpulnya Orang-Orang Bonyok, Kini Rutin Lahirkan Atlet Panahan

Nama Desa Bonyokan sempat dianggap aneh sehingga sempat diusulkan diubah menjadi Subursari pada 1972, namun akhirnya batal.

 Pengendara kendaraan roda dua melintas di gapura masuk di Dukuh Bonyokan RT 004/RW 002, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Sabtu (24/7/2021). Dukuh Bonyokan dikenal sebagai daerah pencetak atlet panahan yang memiliki segudang prestasi di tingkat nasional atau pun internasional. (Ponco Suseno/Solopos)

SOLOPOS.COM - Pengendara kendaraan roda dua melintas di gapura masuk di Dukuh Bonyokan RT 004/RW 002, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Sabtu (24/7/2021). Dukuh Bonyokan dikenal sebagai daerah pencetak atlet panahan yang memiliki segudang prestasi di tingkat nasional atau pun internasional. (Ponco Suseno/Solopos)

Solopos.com, KLATEN — Desa Bonyokan di Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, menjadi perhatian karena rutin melahirkan atlet panahan. Ternyata ada sejarah menarik hingga desa diberi nama Bonyokan.

Kasi Pemerintahan Desa Bonyokan Sri Widayanti mengatakan nama Bonyokan ada sejarahnya. Desanya sempat dijadikan tempat penampungan korban perang dengan penjajah.

“Dulu jadi tempat penampungan korban perang. Tapi perang apa belum diketahui,” tambah Sri di kantornya, Sabtu (8/2/2020), sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Nama Bonyokan berasal dari kata ‘bonyok’ yang artinya orang yang terluka parah. Tambahan ‘-an’ di belakang adalah menunjuk lokasi, seperti kebanyakan nama-nama lokasi atau pedesaan di Jawa pada umumnya.

Baca Juga: Gawat! Lonjakan Kasus Positif Corona di Klaten Melampaui Kudus

“Bonyokan dari kata bonyok artinya luka parah. Sering dianggap aneh sehingga pernah diusulkan diganti,” sambung Sri.

Usulan perubahan nama itu mencuat pada 1972. Dalam forum rapat, nama desa itu diusulkan menjadi Subursari. Namun karena kurang familier akhirnya tidak disetujui. “Usulan penggantian nama itu hanya sekali. Sejak itu tidak ada usulan perubahan lagi,” imbuh Sri.

Tokoh masyarakat Desa Bonyokan, Nanang Nuryanto, mengatakan sejarah banyak orang yang luka bonyok akibat perang masih samar. Namun sebagai masyarakat tidak mempermasalahkan nama.

“Kita tinggal menerima dari para sesepuh jadi ya diterima saja. Meskipun bagi orang lain kadang aneh,” terang Nanang.

Atlet Panahan Asal Desa Bonyokan

Kini Desa Banyokan menjadi perhatian karena Alvianto Bagas Prastyadi yang merupakan warga desa itu tampil di Olimpade 2020 di cabang olahraga panahan. Desa Banyokan memang dikenal sebagai daerah yang rutin melahirkan atlet panahan. Mereka berlaga dari tingkat Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga puncaknya Bagas tampil di Olimpade 2020.

Baca Juga: Asale Pesanggrahan, Saksi Bisu Kejayaan Kopi di Desa Deles, Klaten pada Zaman Kolonial

Atlet panahan di desa ini sebagian besar berasal dari Dukuh Bonyokan RT 004/RW 002. Mantan atlet panahan tingkat nasional sekaligus pelatih klub panahan Smartku di Sribit, Jatinom, Esti Setyaningsih, 40, menyatakan banyak warga desa itu yang berprestasi sebagai atlet panahan.

Saking banyaknya prestasi yang dihasilkan warga di RT 004/RW 002, gapura masuk menuju kampung tersebut diberi simbol orang memanah dan papan sasaran memanah.

“Di sini banyak ditemukan atlet andalan panahan. Saya ini meski dari ndeso pernah ikut Pelatnas juga. Ada nama-nama yang lain, seperti Bambang Wisnu, Heri, dan lainnya. Ada juga Imam Marwanto yang menjadi ketua wasit panahan di Indonesia. Pokoknya banyak, kalau dikumpulkan ada 30-an orang. Hingga sekarang ini ada Alvianto Bagas Prastyadi,” kata Esti Setyaningsih, saat ditemui wartawan di Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Sabtu (24/7/2021).

Baca Juga: Malam-Malam Kapolres dan Dandim Klaten Antarkan Bantuan ke Rumah Warga Terdampak Pandemi

Esti Setyaningsih mengatakan dirinya pernah ikut membela Jateng di ajang PON sebanyak lima kali. Hal tersebut termasuk saat berjuang di PON Kalimantan 2008 dan PON Riau 2012.

“Saya pernah meraih medali di worldcup state di Thailand tahun 2013 [medali perunggu],” katanya.

Hal senada dijelaskan mantan atlet panahan asal Bonyokan lainnya, Kusmiyati, 39. Ibu dari Alvianto Bagas Prastyadi menceritakan warga Bonyokan pernah memenuhi pesawat Garuda Indonesia di tahun 2008. Waktu itu, warga asli Desa Bonyokan membela sejumlah daerah berbeda di Tanah Air di ajang PON Kalimantan 2008.

Kini ada Alvianto Bagas Prastyadi yang sedang berjuang mengharumkan nama bangsa Indonesia di ajang Olimpiade Tokyo 2020, 23 Juli 2021-8 Agustus 2021.

Baca Juga: Kisah Bagas Pemanah Indonesia di Olimpiade Tokyo: Anak Pak Bon SD Asal Klaten & Mantan Atlet Panahan Andalan Jateng

Rencananya, pria yang akrab disapa Bagas itu akan mulai tampil di nomor beregu recurve putra cabor panahan di Jepang, Senin (26/7/2021). Di nomor tersebut, Bagas bakal bahu-membahu bersama dua rekannya, Riau Ega Agatha dan Arif Dwi Pangestu. Selanjutnya, Bagas juga dijadwalkan tampil di nomor individu di Olimpiade Tokyo Jepang 2020, Selasa (27/7/2021).

“Prestasi yang diraih Alvianto Bagas Prastyadi saat ini tergolong yang tertinggi diraih warga Bonyokan [di cabor panahan]. Pencapaian saat ini menjadi bonus bagi dia. Tujuan awal itu fokus di PON Papua, ternyata bisa melampui seperti ini,” kata Esti Setyaningsih yang juga dikenal sebagai pelatih Bagas tersebut.

Berita Terkait

Berita Terkini

9 BUMD Sragen Diguyur Modal Rp25 Miliar Tahun Depan

Dari sembilan BUMD di Sragen, ada tiga BUMD berprestasi secara manajemen dengan mendapatkan penghargaan Top BUMD 2021 Bintang 4.

Desa Sendang Wonogiri Terbaik Nasional, Ini Keunggulannya

Ada tiga hal yang dinilai pada ajang ini, yakni administrasi desa memiliki bobot 20, aktivasi dan akses masyarakat bobot 20, dan inovasi desa terkait pelayanan publik bobot 60.

Jumlah Sambungan Pelanggan Baru PLN di Boyolali Meningkat

Jumlah penyambungan ke pelanggan di Klaten dan Boyolali pada Agustus menyasar sekitar 5.000 pelanggan.

Kejar Herd Immunity, Kapolres Klaten Tinjau Vaksinasi di SMPN 2 Wedi

Peninjauan Kapolres Klaten ke SMPN 2 Wedi guna memastikan vaksinasi di sekolah setempat berlangsung lancar.

Hebat! Desa Sendang Terbaik Nasional soal Keterbukaan Informasi Publik

Desa Sendang, Wonogiri, menjadi desa terbaik se-Indonesia dalam hal keterbukaan informasi publik desa.

Ada Sekolah Langgar Prokes, Pemkot Solo Diminta Tak Sekadar Reaktif

Pemkot Solo diminta tidak hanya bersikap reaktif ketika ada sekolah melanggar prokes saat PTM namun juga melakukan pengawasan sistematis.

PJU Kembali Dinyalakan, Alun-Alun Wonogiri Terang Benderang

Dishub memadamkan PJU di ruas jalan raya tertentu sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, awal Juli 2021.

PTM Terbatas di 824 SD dan SMP di Klaten Bakal Disidak secara Rutin

Sri Mulyani mengatakan sidak dilakukan oleh lima tim yang menyebar ke berbagai sekolah terutama yang menyelenggarakan PTM terbatas.

Dukung Swasembada Daging, Kesehatan Reproduksi Sapi Boyolali Dipantau

Sapi yang memiliki masalah dalam sistem reproduksi akan diobati dan dipantau selama tiga pekan ke depan. 

Timbang Mangkrak, Pawartos Bikin Taman di Lahan Eks Terminal Kartasura

Masyarakat yang tergabung dalam Pawartos membangun taman dan pusat kuliner di lahan bekas Terminal Kartasura, Sukoharjo, yang lama mangkrak.

RAPBD Kabupaten Boyolali 2022 Rp2,27 Triliun

Dalam Ranperda APBD 2022, struktur pendapatan daerah dalam APBD Boyolali tahun 2022 diestimasikan Rp2.278.633.677.000.

Kucing, Hewan Paling Banyak Divaksin Rabies di Wonogiri

Vaksin rabies untuk hewan peliharaan ini digelar sebagai tindakan preventif dan mempertahankan status Jawa Tengah yang bebas rabies.

Baru 40-An Pelaku Usaha Ajukan QR Code PeduliLindungi lewat Pemkot Solo

Jumlah pelaku usaha yang mendaftar pengajuan QR Code PeduliLindungi melalui Dinas Pariwisata Solo masih minim, baru 40-an.

KPA Sragen Gelar Tes HIV di Gunung Kemukus Sasar Pekerja Hiburan

Pemkab Sragen kini punya alat khusus untuk memindai sidik jari warga jika menemui kelompok rentan HIV/AIDS yang tidak memiliki KTP.