Derita Pekerja Seni Karanganyar Terdampak Covid-19, Terpaksa Jadi Pekerja Serabutan
Pimpinan grup campursari Areva Music, Arief Nafia Alba, mengecat tembok rumah kerabat, Rabu (15/4/2020). (Istimewa)

Solopos.com, KARANGANYAR — Pekerja seni di Kabupaten Karanganyar ikut menderita akibat terdampak wabah Covid-19. Mereka terpaksa melakoni pekerjaan serabutan untuk menyambung hidup.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, ada 800 orang hingga 1.000 orang pekerja seni yang tergabung dalam organisasi seniman Kabupaten Karanganyar, Sekar. Jumlah itu belum termasuk pekerja seni yang sudah berusia lanjut maupun yang enggan bergabung dengan organisasi.

Pekerja seni menjadi salah satu kelompok yang terdampak persebaran Covid-19 tetapi luput dari pengamatan. Kondisi pekerja seni saat ini tidak ubahnya pekerja informal lain. Mereka otomatis tidak memiliki penghasilan karena tidak bisa manggung selama wabah Covid-19 belum dapat teratasi.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan membatasi kegiatan yang mengumpulkan massa, seperti penikahan, syukuran, dan hajatan lain sejak pertengahan Maret 2020. Kondisi tersebut bertahan hingga April.

Eks Camat Karangtengah Wonogiri Dipenjara Karena Pornografi Setahun Jelang Pensiun

Pertunjukan yang sudah terjadwal terpaksa dibatalkan dengan alasan keamanan dan keselamatan orang-orang. Salah satu pekerja seni dari Kecamatan Tasikmadu, Arief Nafia Alba, mengaku merelakan 25 job manggung sejak Maret hingga April akibat terdampak wabah Covid-19 di Karanganyar.

Pemimpin Grup Campursari Areva Music itu juga terancam merelakan 35 job atau pekerjaan lain apabila wabah Covid-19 belum mereda hingga Juni.

Biasanya Ramai Job Setelah Lebaran

“Memang betul dampak Covid-19 ke dunia seni sangat terasa. Dari pertengahan Maret sampai waktu yang belum ditentukan, job tertunda semua. Alhasil nol pendapatan,” tutur dia saat dihubungi Solopos.com, Rabu (15/4/2020).

Curiga Terpapar Corona Tanpa Gejala? Periksa Kaki Anda

Seharusnya, kata Arief, job pekerja seni Karanganyar ramai menjelang Ramadan ini jika tak terdampak wabah Covid-19. Sekitar 25 job pada Maret sampai April, lalu setelah Lebaran pada Mei lima job dan Juni 30 job.

“Lumayan ramai karena habis Lebaran. Itu yang ditunda sudah lima job. Belum tahu nanti Juni masih seperti ini atau tidak,” kata dia.

Arief menerima pembagian honor Rp300.000-Rp600.000 sebagai pemain keyboard sekaligus pemilik alat campursari setiap kali tampil di satu lokasi. Artinya dia kehilangan Rp7,5 juta-Rp15 juta pada Maret hingga April.

Pekerja seni Karanganyar itu mengaku bekerja serabutan saat ini sebagai tukang cat rumah pada pagi hingga sore hari agar tak terlalu kehilangan penghasilan akibat terdampak Covid-19.

2 Mayat Telanjang Di Banyuanyar Solo Dibunuh Karena Uang Rp725 Juta

Selain itu dia juga berjualan peyek dan rica-rica bekicot pada malam hari. Penghasilan yang diperoleh Rp25.000-Rp50.000 per hari dari berjualan makanan.

“Untuk menyambung hidup. Saya memanfaatkan tabungan untuk usaha kuliner dan apa pun yang bisa dijual dan diminati orang. Saya titipkan ke warung dan diantar ke rumah pembeli. Bagaimanapun saya bersyukur masih bisa mendapat rezeki. Ini dapat pekerjaan mengecat rumah kerabat dan dibayar,” tutur dia.

Memprihatinkan

Dia bersyukur mendapat keringanan membayar cicilan untuk membeli alat musik dan mobil untuk mengangkut alat. Namun, pekerja seni Karanganyar itu mengatakan kendala yang dialami akibat terdampak wabah Covid-19 tidak berhenti sampai di situ.

Pemakaman PDP Corona di Kartasura Sukoharjo Dilakukan Malam Hari, Warga Gotong Royong

Sejumlah warga menutup akses masuk kampung sehingga dia kesulitan saat hendak mengantar pesanan pelanggan. Belum lagi kebijakan pemerintah melepaskan narapidana beberapa waktu lalu dinilai meresahkan warga. Arief khawatir bertemu orang jahat saat bekerja pada malam hari.

Ketua Sekar, Joko Dwi Suranto, membenarkan kondisi pekerja seni di Karanganyar cukup terdampak wabah Covid-19. Bahkan dia menyampaikan kondisi pekerja seni lain ada yang lebih memprihatinkan.

“Total berhenti manggung. Orang punya hajatan otomatis berhenti. Sementara ini banyak pekerja seni banting setir jualan kuliner, menjadi buruh bangunan, atau bahkan menganggur karena tidak memiliki keahlian lain,” ujat Joko saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (14/4/2020).

Tambah Lagi! RSUD Dr Moewardi Solo Rawat 9 Pasien Positif Corona

Dia mengaku bingung mencari solusi terhadap kondisi pekerja seni di Karanganyar. Dia berharap pemerintah dapat membantu mencari solusi terutama bagi pekerja seni yang dapat digolongkan warga kurang mampu selama wabah Covid-19.

“Saya tahu anggaran pemerintah saat ini untuk penanganan penyakit Covid-19. Kalau pemerintah bisa membantu, saya memilah siapa yang layak mendapat bantuan. Selama ini pekerja seni mendapat bantuan pemerintah dalam bentuk anggaran kegiatan, bukan bantuan,” ungkap dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom