Dendang Dory Harsa untuk Milenial di SIPA 2020
Maskot Solo International Performing Arts (SIPA) 2020, Dory Harsa, saat membuka acara hari pertama, di panggung terbatas yang disiapkan panitia, Kamis (10/9/2020) malam. (Solopos/Ika Yuniati)

Solopos.com, SOLO – Delapan wanita penari yang mengenakan kostum tradisional serba merah dari Semarak Candra Kirana perlahan memasuki panggung pembukaan Solo International Performing Arts atau SIPA 2020, Kamis (10/9/2020) malam. Bola lampu temaram yang dibawa setiap penari menerangi ruang pentas yang gelap gulita.

Gerak energik mereka seolah memberi semangat baru. Sampai akhirnya sang maskot SIPA 2020, Dory Harsa, muncul dan memulai mendendangkan lagu.

Ninggal Tatu ciptaan sang maestro lagu Jawa, Didi Kempot, memanaskan suasana panggung terbatas tanpa penonton malam itu. Mengenakan kemeja batik coklat hitam, pemenang Ambyar Awards 2020 kategori Penyanyi Pendatang Baru Terambyar dan Penyanyi Pria Favorit Terambyar ini melempar senyum sepanjang acara.

Awas! Razia Masker di Solo Dimulai Sore Ini, Melanggar Dihukum Bersihkan Sungai 

Jogetannya yang khas menghidupkan suasana. Para penonton daring yang disiarkan di kanal Youtube SIPA Festival riuh berkomentar. Mereka memuji megahnya konsep acara hingga ucapan terima kasih kepada panitia karena disiapkan pentas seni daring.

Dory Harsa mengambil jeda lalu melanjutkan pentas di penghujung acara dengan lagu Sing Tak Sayang Ilang. Di sela-sela pentas, Dory mengaku bahagia ikut terlibat dalam acara tersebut. Baginya pentas SIPA 2020 adalah wujud diterimanya budaya Indonesia oleh masyarakat luas.

“SIPA adalah suatu bukti keanekaragaman yang diterima seluruh lapisan masyarakat,” kata dia.

Dory Harsa

Direktur SIPA, Irawati Kusumorasri, mengatakan dipilihnya Dory dalam acara bertema Recognition And Acceleration ini telah melalui banyak pertimbangan. Salah satunya kepopuleran dan keaktifannya sebagai anak muda yang mau membawakan lagu bahasa Jawa hingga pernah menduduki 20 Trending Chart Worldwide di platform YouTube.

Lebih lanjut, Ira berharap keterlibatan Dory Harsa dalam agenda SIPA 2020 bisa menjadi trigger untuk pengembangan kariernya agar dikenal luas, khususnya di dunia festival. Termasuk dikenal di negara-negara luar seperti Belanda dan Suriname yang menjadi bagian dari diaspora Jawa.

“Pemilihan maskot SIPA ini dengan berbagai pertimbangan. Ada yang terkenal di Solo kemudian kami kenalkan dengan dunia festival di internasional. Ada yang sudah terkenal di level internasional tapi di Solo belum terkenal, kami angkat agar juga dikenal masyarakat sendiri,” terangnya.

Cawali Solo Gibran Jauhi Istri dan Anaknya 2 Hari Terakhir, Kenapa? 

Semangat mencintai seni tradisi juga dibawa peserta asal Kendal, Triapswaya. Mereka menampilkan karya berjudul Kolek yang terinspirasi dari semangat warga Temanggung saat menyaksikan tarian khas setempat yakni jaranan.

Pentas mereka penuh energi. Seolah membawa misi tentang optimisme seni tradisi di masa depan.  Mengenakan kostum bodyfit merah hitam yang merupakan warna khas Jaranan.

Jakarta PSBB Lagi! 11 Sektor Ini Tetap Beroperasi... 

“Kami melakukan eksplorasi gerak. Ya berdasar tarian Jaranan itu tapi kami eksplor. Cerita yang kami angkat soal semangat penonton saat menyaksikan pertunjukan tradisional tersebut,” terang salah satu pemain, Laras.

Selanjutnya, acara yang digelar hampir lima jam dengan menerapkan protokol kesehatan malam itu menampilkan puluhan delegasi dari berbagai daerah dan negara. Mayoritas hanya mengirim video tari dengan durasi kurang dari 15 menit. Di antaranya Burki & Com dari Czech Republic, ASA X Faculty of Music dari UiTM - Malaysia, Panwar Music and Dance - Canada, Galih Suci Manganti - Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

 

 

 

 

 

SIPA 2020 yang juga diisi dengan diskusi dan SIPA Mart ini masih berlanjut hingga Sabtu (12/9) mendatang. Total ada 59 penampil dari dalam dan luar negeri. Sebanyak delapan penampil pentas langsiung di panggung terbatas SIPA. Sisanya hanya menampilkan video karya.

Kurator SIPA 2020 Eko Supriyanto, dalam video singkatnya mengatakan perubahan pentas SIPA 2020 di era new normal ini merupakan bagian penting dari perjalanan seni pertunjukan secara virtual. Kita semua harus selalu bersikap kritis dan kreatif pada masa seperti sekarang ini. Terus terpacu untuk maju, tertata, maksimal, berpemikiran kritis, dan memiliki jejaring yang kuat serta luas.

“Semakin mengenalkan seni budaya Indonesia. Beradaptasi dengan kenormalan baru, dan saling berkolaborasi,” harap Eko.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom