Ilustrasi layanan Grab. (Solopos - Adib Muttaqin Asfar)

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah penumpang dan driver ojek online Grab di Soloraya waswas dengan wacana pemberlakuan sistem baru denda pembatalan order layanan transportasi online tersebut.

Sebagai informasi, perusahaan penyedia layanan ojek online Grab tengah menguji coba sistem denda pembatalan order (cancellation fee) di Lampung dan Palembang selama sebulan ini. Meski sistem ini belum diterapkan di wilayah Soloraya, konsumen maupun pengemudi Grab merasa dilema.

Salah satu pelanggan ojek online, Arum, mengaku kecewa dengan kebijakan sepihak yang diterapkan salah satu aplikator transportasi online tersebut. Ia merasa tak cocok dengan sistem denda yang dibebankan kepada customer tersebut.

“Di satu sisi ini memang bisa mencegah agar driver tidak kena penipuan dan supaya customer tidak seenak jidat membatalkan order. Akan tetapi, kadang kita ada pada kondisi darurat sehingga harus cancel order,” paparnya kepada Solopos.com, Rabu (19/6/2019).

Perempuan asal Jebres, Solo, ini menambahkan sekali waktu ia kurang cermat mengetik tujuan atau salah peta kemudian order. Alhasil mau tidak mau ia mesti membatalkan order lantaran salah tujuan.

Di sisi lain, bisa jadi driver terkait keluarganya mendadak kecelakaan atau dalam kondisi tertentu yang tak bisa menerima pesanan sehingga ia diminta cancel order.

Pelanggan lain, Ririn, menyarankan agar aturan denda bagi pelanggan yang membatalkan order mestinya benar-benar digodok terlebih dahulu sebelum diterapkan. Karyawan swasta di Solo ini juga tak setuju karena lebih banyak merugikan pelanggan.

“Kalau tidak salah percobaan di dua kota yang disebutkan dendanya Rp1.000 untuk motor [Grab bike] dan Rp3.000 untuk mobil [Grab car]. Kalau begini caranya, pelanggan malah tombok terus, rugi,” katanya.

Ririn mengakui di satu sisi ia tak tega dengan driver yang kerap jadi korban pembatalan order oleh pelanggan. Bagaimana pun ini berdampak pada orderannya.

Di sisi lain, ia beberapa kali juga jengkel karena driver yang ditunggu tak segera datang atau pun tak memberikan konfirmasi mengenai keberadaannya saat ia order Grab bike maupun Grab car.

Sementara itu, salah satu driver Grab, Dian Pratama, mengatakan sistem denda pembatalan order yang dikenakan pelanggan baru percobaan di Lampung dan Palembang dan belum diterapkan di Soloraya. Ia merasa dilema antara senang dan sedih sekaligus jika aturan ini diberlakukan di semua wilayah.

“Senangnya kalau ada yang cancel, kami dapat komisi dari denda tersebut. Sedihnya, kalau customer cancel order bisa jadi karena salah tujuan atau warung yang dipesan tutup. Kalau begini, bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Pelanggan malah yang dirugikan, warung tutup harus cancel, dan masih bayar denda,” paparnya.

Menurutnya, sistem denda ini perlu dikaji ulang lebih lanjut sebelum diterapkan. Salah satunya karena customer lah yang paling dirugikan dari sistem ini. Jika begini, pengaruhnya pada kepercayaan pelanggan.

“Takutnya customer dirugikan karena ini dan parahnya mereka bisa pindah ke aplikasi lain,” jelasnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten