Demokrat: Mungkin KPK Mati Lebih Dulu Ketimbang Harun Masiku
Masyarakat Madani Antikorupsi menyerahkan jamu antidiare kepada KPK, Rabu (15/1/2020). (Antara)

Solopos.com, SOLO -- Lambatnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Harun Masiku menimbulkan berbagai spekulasi. Bahkan pelarian kader PDIP yang menjadi tersangka kasus suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR itu diwarnai drama pencopotan Ronny F Sompie dari kursi Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi.

Anggota Komisi III DPR, Benny K Harman, mempertanyakan mengapa KPK dan Imigrasi begitu sulit menemukan Harun Masiku. Padahal sebagai politikus, Masiku nyaris tak terdengar namanya sebelum kasus ini mencuat.

"Siapa sih Masiku ini. Kok sulit sekali menangkap Masiku," kata Benny dalam Indonesia Lawyers Club (ILC) yang disiarkan live oleh TVOne, Selasa (28/1/2020).

Politikus Partai Demokrat itu juga menyinggung bagaimana kasus Harun Masiku bisa membuat Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly mencopot Dirjen Imigrasi. Apalagi, kata dia, pemberhentian itu dilakukan dengar alasan yang tidak masuk akal.

"Pak Dirjen diberhentikan dengan alasan yang konyol. [kalau memberhentikan] Pakai lah argumentasi yang masuk akal. Kesalahan Menkumham ditimpakan kepada kepada Dirjen. Padahal beliau [Dirjen] bersikap seperti itu karena menterinya. Inilah yang membuat kasus Masiku bertambah sulit, complicated," kata Benny.

Jika Benar Senjata Biologi China, Virus Corona Tak Bisa Masuk Indonesia?

Dalam hal ini, dia mempertanyakan sikap KPK yang begitu lamban melanjutkan kasus ini. Bahkan secara khusus dia menyindir Juru Bicara KPK, Ali Fikri, yang dalam forum itu berbicara soal alasan KPK belum menangkap Harun Masiku. Dia menyebut Fikri lebih mirip seperti jubir Harun Masiku daripada KPK.

"Saya kaget jubir KPK. Ini tadi saya tanya ini siapa? Jubir KPK. Kok saya melihatnya seperti jubir Masiku ini," selorohnya.

"KPK sekejap mata lumpuh, hanya di depan seorang Masiku. Mengapa? karena itu tadi. kasus masiku kasus luar biasa. Mestinya KPK proaktif lah. Harusnya perintah Presiden kepada KPK, Polri, bawa yang bersangkutan pulang. Itu kalau dulu Presidennya."

Tembok

Menurutnya, belum terungkapnya pelarian Masiku menimbulkan spekulasi liar. Pertama, kata dia, ada yang berspekulasi Harun Masiku sudah dihilangkan. Kedua, ada pula spekulasi yang menyebut Masiku sengaja disembunyikan.

Sudah 63 Penderita Virus Corona Sembuh, Ini Kuncinya

"Makanya jangan fokus hanya Masiku, tapi temboknya di belakang juga. Kasihan temboknya, karena KPK yang lamban menangkap Masiku," katanya tanpa menyebut siapa yang dimaksud dengan "tembok".

Dalam rapat dengar pendapat Komisi III DPR dengan KPK, Senin (27/1/2020), Benny bertanya kepada Ketua KPK Firli Bahuri soal kejadian di Kompleks PTIK saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Saat itu beredar kabar ada penyelidik KPK ditahan di PTIK. Sayangnya, kata Benny, Firli tidak menjawab pertanyaan itu.

"Malam ini kalau KPK sulit, kita ada masyarakat. Ayo perang semesta mendapatkan Masiku. Ada 200 juta masyarakat Indonesia, masa tidak bisa tangkap Masiku. Jadi kalau ciluba seperti kartun Tempo itu, disembunyikan dulu. Setelah disembunyikan, lalu bilang silakan menangkap Masiku. Kalau sudah tidak ada yang bisa menangkap, [mungkin dia] baru muncul."

Karena itu, Benny menilai KPK dan Menkumham harus bertanggung jawab atas hilangnya Masiku. Benny meminta Menkumham Yasonna Laoly menanggalkan jabatannya.

"Ada yang dibela oleh Menkumham, makanya saya minta begitu. Ada orang yang ditunjuk di kabinet, tanggalkan partai negara saya utamakan," ujar Benny.

Terkait KPK, Benny mengaku pesimistis. "Saya tahu KPK ini dilematis. Saya tahu KPK sedang ada pembersihan, yang pro itu dibersihkan. Pak [Abdullah Hehamahua, mantan penasihat KPK yang hadir di ILC], kita saksikan KPK ini tumbuh dan mati. Cepat atau lambat, KPK ini mati duluan ketimbang Masiku," pungkasnya,


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho