DEMO MAHASISWA: BEM FH UMS Tuntut Kejelasan Kebijakan Pemerintahan SBY
Mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membentangkan spanduk tuntutan dalam aksi unjuk rasa di depan kompleks kampus UMS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Senin (25/3/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

Mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membentangkan spanduk tuntutan dalam aksi unjuk rasa di depan kompleks kampus UMS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Senin (25/3/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membentangkan spanduk tuntutan dalam aksi unjuk rasa di depan kompleks kampus UMS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Senin (25/3/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
SUKOHARJO - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar aksi damai menuntut kejelasan sistem pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (25/3/2013). Selama satu jam, delapan tuntutan diserukan 30 aktivis BEM UMS di pertigaan Kampus UMS, Pabelan, Kartasura.

Sebelumnya, aksi yang dipimpin Presiden BEM FH UMS, Muhammad Wahyu, bergerak dari FH UMS menuju kampus II UMS sekitar pukul 10.00 WIB. Sepanjang aksi, arus lalu lintas di pertigaan UMS ramai lancar. Belasan aparat kepolisian berjaga di lokasi itu.

Delapan tuntutan yang diserukan meliputi pemerataan pendidikan, memperjelas kurikulum pendidikan, menasionalisasi sumber daya alam (SDA), menuntaskan kasus pelanggaran HAM, memperbaiki perekonomian nasional, menjelaskan kebijakan presiden yang dinilai tidak pro rakyat, menjelaskan peran wakil presiden dan menyelesaikan kasus korupsi di Indonesia.

Para aktivis menilai, SBY gagal membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Satu per satu kasus korupsi yang muncul ke permukaan, terkesan ditutup-tutupi dengan berbagai kasus lain sehingga tidak pernah tuntas.

Ketika ditemui Solopos.com seusai orasi, Muhammad Wahyu, mengatakan rencananya aksi damai yang dilakukan pihaknya berlanjut ke Bundaran Gladag, Solo. Namun, hal itu urung dilakukan karena aktivis kampus lain tidak jadi menggelar aksi serupa. “Dalam waktu dekat, aktivis Solo berencana kembali menggelar aksi damai yang lain. Aksi kali ini akan kami evaluasi dulu,” imbuhnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho