Demonstran anti ormas radikal mengusung pamflet di Alun-Alun Kudus,Jateng,Selasa (13/6/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Demo digelar ratusan warga Kudus demi menolak ormas radikal.

Solopos.com, KUDUS — Ratusan orang yang mengatasnamakan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (13/6/2017), menggelar unjuk rasa. Aksi demonstrasi itu diklaim sebagai wujud sikap warga Kudus menolak ormas radikal di wilayah setempat.

Aksi unjuk rasa yang diikuti Aliansi Menjaga Nusantara (Menara) Kudus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kudus, serta sejumlah pelajar SMA dan sekolah sederajat tersebut digelar di Alun-Alun Kudus. Kantor Berita Antara yang mendokumentasikan demonstrasi itu memublikasikan foto yang nyata menunjukkan ketidakseriusan pengunjuk rasa.

Dalam aksi tersebut, para pengunjuk rasa dengan penuh tawa mempertunjukkan pamflet bertuliskan, "NKRI harga mati", "Pancasila pemersatu bangsa", "Kami menolak ormas radikal dan intoleransi", serta "Indonesia berbhinneka, Kudus antiradikalisme". Para demonstran sempat pula menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan ajaran Sunan Kudus yang mengajarkan sikap toleransi antarumat beragama.

Para pengunjuk rasa itu juga membawa-bawa replika Menara Kudus yang dibalut bendera merah-putih dalam unjuk rasa itu. Replika menara mirip bale kul-kul di Bali itu mereka sebut sebagai wujud nyata toleransi antarumat beragama di Kudus.

Koordinator aksi, Agung Setyadi, menyatakan radikalisme merupakan persoalan mengkhawatirkan. Hal itu, belakangan ini, ditengarai muncul seiring dengan semakin semaraknya tindak kekerasan dan perilaku destruktif oleh kelompok sosial dengan mengatasnamakan agama.

Kekerasan tersebut, menurut dia, terjadi di panggung-panggung politik hingga razia oleh ormas tertentu. "Sayangnya tindakan mereka menegasikan peran pemerintah dan penegak hukum," ujarnya.

Bahkan, sambung dia, para aktivis ormas radikal itu bertindak dengan cara-cara yang mengensankan Islam mengesahkan tindak kekerasan. Padahal, tegas dia, tindakan itu justru bertentangan dengan ajaran Islam sebagai agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.

Ia menuntut pihak berwajib menghentikan pembuatan dan penyebaran informasi, terutama melalui Internet, yang berisi penyerangan terhadap tata cara dan interpretasi beragama kelompok tertentu. "Kami juga menuntut pemerintah daerah maupun pusat melakukan upaya dialog serta penegakan hukum guna menangkal fenomena radikalisme yang kian meluas dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

Para demonstran di Alun-Alun Kudus itu selanjutnya menggalang dukungan masyarakat lewat tanda tangan pada spanduk putih berukuran belasan meter untuk menolak ormas radikal di Kabupaten Kudus.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten