Ilustasi nyamuk penyebar penyakit demam berdarah (depkes.go.id)

Demam berdarah Klaten dipredikasi mencapai puncak penyebaran pada Maret-APril.

Solopos.com, KLATEN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten memprediksi puncak kasus demam berdarah dengue (DBD) terjadi Maret-April tahun ini. Oleh sebab itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Klaten, Herry Martanta, mengatakan ada kecenderungan kasus DBD terjadi saat pancaroba terutama pada periode Maret-April. Hal itu berdasarkan temuan kasus yang terjadi selama ini.

“Bulan ini kami bikin SE [surat edaran] karena puncak kasus DBD tertinggi kan Maret-April. Isi SE agar ada peningkatan kewaspadaan dini di lingkungan masing-masing,” ungkap dia saat ditemui wartawan di Setda Klaten, Rabu (12/4/2017).

Herry menuturkan pemberantasan DBD paling efektif dengan menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu upaya pencegahan dilakukan dengan pemberantasan jentik-jentik nyamuk yang ada di tempat penampungan air masing-masing rumah tangga serta lingkungan.

“Kami berusaha mengurangi fogging karena tidak baik jika terlalu sering dilakukan,” kata dia.

Disinggung angka kasus DBD, Herry mengatakan Januari-pertengahan April 2017 tercatat sebanyak 68 kasus DBD dengan satu orang meninggal dunia. Angka itu menurun dibanding tren kasus DBD periode yang sama pada 2016 lalu.

“Pada 2016 itu dengan periode yang sama jumlah kasusnya mencapai 190 kasus dengan empat kasus meninggal dunia. Capaian ini merupakan hal luar biasa dan tidak bisa terlepas dari peran serta masyarakat yang sadar menekan penyebaran DBD,” urai dia.

Herry mengatakan tren menurunnya kasus DBD salah satunya didukung dengan pengalokasian khusus kegiatan pemberantasan DBD. “Ada beberapa desa yang mengalokasikan khususnya di wilayah endemis DBD. Kami harap ini terus ditingkatkan,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten