DEMAM BATU AKIK : Patung Kutukan Gua Mentawai Dirusak, Ribuan Kelelawar Mati
Bangkai kelelawar yang berjatuhan di langit Australia dalam beberapa hari terakhir ini (Dailymail.co.uk)

Demam batu akik menyebabkan sebuah gua di Mentawai rusak.

Solopos.com, MENTAWAI -- Patung kutukan yang selama ini ada di Gua Roiget-Roiget, Mentawai, Sumatra Barat dirusak pencari batu akik. Akibatnya, ribuan kelelawar yang ada di gua itu mati.

Perusahaan Gua Roiget-roiget dilakukan oknum warga Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.

Laporan Okezone, Senin (22/6/2015), menurut Lurensius, salah satu guru SMAN 1 Siberut Tengah yang mengunjungi daerah ituterkejut ketika memasuki gua dan melihat ribuan kelelewar mati di dasar gua. Bahkan, ada yang terbang-terbang kemudian jatuh mendadak dan mati.

“Ada 11 guru yang pergi ke gua itu. Itu guru SMP dan SMA. Kami penasaran saja, sebab kabarnya ada gua di dalamnya ada seperti desain rumah adat Mentawai. Di dalamnya juga ada patung menyerupai manusia,” ujarnya kepada Okezone, Minggu (21/6/2015).

Laurensius mengatakan, patung itu menggambarkan seorang ibu sedang masak di dapur. Posisinya duduk di atas kursi kecil, tangan kanannya lurus memegang kapurut (makanan sagu yang dibungkus pakai daun sagu), sementara tangan kirinya memegang penjepit dari bambu.

Di belakang patung ibu memasak ada dua patung anak-anak. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan sedang menertawakan seekor anjing yang berupa patung. Sementara dalam gua itu juga ada mirip pintu kamar dua unit.

“Saat kita ke sana pada April, kondisinya sudah hancur. Patung ibu masak-masak itu tinggal kakinya, sementara badannya sudah hancur. Tampak berserakan akibat dihancurkan. Sementara dua patung anak-anak bersama anjing itu juga dihancurkan pencari batu akik,” tuturnya.

Sedangkan ribuan kelelawar di dalam dan luar gua itu mati. Dikarenakan takut terserang rabies, mereka hanya bertahan dua menit di dalam gua. Sebab, kondisi kelelawar itu sudah membusuk.

“Kata tokoh masyarakat setempat, kalau batu-batu dalam gua itu dihancurkan, kelelewar bisa mati. Tak hanya itu, dinding gua juga dirusak, baik di dalamnya maupun di luar gua,” tuturnya.

Menurut ceritanya, konon dulu ada cerita soal gua itu, ibu-ibu dan anak-anak dalam gua tersebut serta desain rumah adat akibat kena kutukan. Mereka berubah menjadi batu setelah kena petir.

“Patung itu warnanya hitam, diperkirakan itu dirusak untuk mencari batu akik,” kata Rijal, warga Desa Saibi Samukop.

Sementara ketika dihubungi, Camat Siberut Tengah, Akas Sikatsila, mengatakan belum ada informasi yang didapat soal perusakan benda cagar budaya, meski belum ada penetapan sebagai benda cagar budaya. Untuk menuju ke lokasi tersebut harus berjalan kaki selama satu jam.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom