A. Windarto/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (8/8/2019). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Imbauan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tentang pengawasan atas penggunaan media sosial di perguruan tinggi patut ditanggapi. Media sosial, yang merupakan bagian dari teknologi digital modern, selain telah menciptakan kemudahan dan kelancaran dalam mengurus segala macam hal, ternyata juga dapat dengan mudah dibelokkan ke arah lain.

Penyebaran paham ekstremisme, intoleransi, dan segala hal yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dengan mudah berbiak melalui media sosial. Berkembanglah apa yang disebut dengan pandangan universalis yang lebih mengedepankan keseragaman ketimbang keragaman budaya.

Dalam konteks ini, menarik untuk membandingkan dengan pengalaman yang ditulis Benedict Anderson dalam buku autobigrafinya berjudul Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016). Pengalaman itu berkait dengan masalah di sebuah jurusan di perguruan tinggi yang menolak memberikan jabatan pengajar tetap bagi seorang dosen.

Masalah ini telah berlangsung selama 10 tahun dan tak seorang pun yang mampu mengatasi, bahkan pejabat sekelas dekan. Usut punya usut, demikian Ben menulis pengalamannya, masalah itu terletak pada ketidaksamaan di antara anggota staf pengajar di jurusan tersebut, selain karena alasan tidak suka dan tidak mau saling memahami.

Ironisnya, di jurusan yang secara disipliner mempelajari ilmu kejiwaan, justru menjadi indisipliner dalam menghadapi masalah yang hanya memfungsikan jurusan sebagai wadah administrasi dan anggaran. Cukup jelas bahwa dari tiga kelompok yang ada di jurusan itu, masing-masing para psikolog behavioris, psikoanalisis, dan sosial, sama-sama tidak memahami, apalagi mencoba memahami, apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh tiap-tiap kelompok.

Tak mengherankan kemudian terbangun blok-blok yang saling membatasi di antara ketiganya. Itu berakibat kandidat mana pun yang mau diangkat sebagai profesor, misalnya, akan dengan mudah diveto atau dianggap hina karena memiliki kedekatan dengan salah satu blok. Pada titik inilah aura akademis dalam pendidikan telah kehilangan kontak secara disipliner, bahkan tak jarang justru berubah menjadi sebuah ideologi baru bernama “profesionalisme”.

Tikus Teori

Hal itulah yang membuat pendidikan tinggi hanya berpretensi menghasilkan “tikus teori” atau “teoretikus” sebagaimana ditulis Ben sebagai ”kata pengantar” dalam buku berjudul Indonesia dalem Api dan Bara karya Tjamboek Berdoeri (Elkasa, 2004). Pretensi semacam itu distandarkan sedemikian rupa sehingga dalam setiap kuliah para mahasiswa diberi daftar bacaan yang ”secara profesional” sangat menekankan pada ”teori terkini”.

Jadi, para mahasiswa yang telah ”dilatih”, bukan dididik, dalam kelas-kelas itu secara ideal siap bersaing dalam apa yang mulai dikenal sebagai ”bursa kerja akademis”. Gelar akademis mereka, bahkan Ph.D. sekali pun, hanya menjadi sebuah kualifikasi profesi setara dengan dokter, pengacara, atau guru yang wajib lulus ujian profesi untuk bisa diberi izin praktik atau mengajar.

Di bawah iklim seperti itu bukan kebetulan jika kultur profesionalisasi dan ekspansi besar-besaran akademis ke bursa kerja menjadi pilihan yang tak tertandingi. ”Nama-nama besar” dari dunia pendidikan tinggi menjadi semacam jimat atau mantra untuk membantu dalam pencarian kerja, apalagi jika nama-nama itu berasal dari jurusan atau program studi yang sesuai dengan kepentingan di bursa kerja seperti programming, broadcasting, atau bahasa asing.

Itu artinya hanya disiplin ilmu yang cocok dengan bursa kerja sajalah yang begitu diminati dan dijadikan tujuan mencapai keahlian. Hal ini bukan perkara malas atau bahkan egois, melainkan atas dasar pengamatan terhadap para staf pengajar, terutama para profesor, yang sudah terbiasa dengan profesionalisme.

Maka masuk akal jika semakin langka intensi yang kuat dalam kelas-kelas yang menawarkan mata kuliah dari disiplin-disiplin ilmu lain. Selain tak lagi banyak gunanya dalam meningkatkan peluang di bursa kerja, juga malah bisa membuat segalanya menjadi tampak ”amatiran”. Hal inilah yang mengakibatkan sterilnya kajian dalam program studi/jurusan yang bersifat lintas ilmu (cross disciplinary).

Jaringan Kontak Berbagai Disiplin Ilmu

Semesttinya dengan kajian seperti itu dimungkinkan ada suatu  jaringan kontak/koneksi antardosen dan mahasiswa dari berbagai latar disiplin ilmu yang berbeda-beda. Dengan demikian, baik publikasi ilmiah maupun mata kuliah, dapat diproduksi dengan lebih kaya dan beragam.

Yang tak kalah penting adalah meruntuhkan pagar-pagar disipliner agar dunia pendidikan tinggi tidak terkurung dalam tembok-tembok intelektual yang memberi batasan dan definisi terhadap keilmuan belaka. Penting untuk dicatat bahwa kreativitas akademis hanya akan tumbuh dan berkembang jika paduan antara egoisme kebangsaan dan rabun jauh disiplin ilmu mampu diatasi dengan diskusi dan adu pendapat yang sepenuhnya sadar dan jeli terhadap asal-usul dan perkembangan zig-zag berbagai ilmu.

Dari pengalaman Ben di atas, kata “disiplin” yang diikuti dengan kata “ilmu” mempunyai sejarah yang terentang panjang di balik ketaatan para rahib abad pertengahan. Mereka tampak begitu kaku dan beku dalam menghukum diri sendiri dengan maksud menaklukkan raga sebagai musuh jiwa hingga tak memberi sedikit pun celah bagi “kelancangan” dan lanturan-lanturan tak relevan.

Hasilnya, seperti nasib para perempuan Tionghoa dalam tradisi lama, kaki-kaki mereka menjadi semakin mengecil dan sulit digunakan lantaran harus dibebat erat-erat sepanjang hidup. Pendidikan yang masih dibebani dengan berjubel hal-hal “terlarang” niscaya akan mengalami nasib serupa.

Hal yang jelas dan mendesak untuk dikerjakan adalah merobohkan tembok-tembok disipliner di kelas-kelas agar mutu peserta didik menjadi semakin meningkat sekaligus mengurangi kejemuan dan membuka jalan bagi mereka yang potensial untuk berkarya lebih jauh dan luas. Inilah saat dan tempat yang tepat untuk mewujudkan pesan Ben berikut ini bagi generasi (terdidik) masa kini,”Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!”


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten