Tri Darini bersama sepeda dan beronjong di rumahnya di Sribit, Delanggu, Klaten, Jumat (28/6/2019) malam. (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Di antara calon https://news.solopos.com/read/20190618/496/999408/jemaah-haji-2019-tidak-perlu-tempel-penanda-lain-di-koper" title="Jemaah Haji 2019 Tidak Perlu Tempel Penanda Lain di Koper">haji asal Klaten yang akan berangkat tahun ini ada nama Tri Darini, 53, warga Karang Wetan RT 002/RW 003, Sribit, Delanggu, Klaten. Perempuan kelahiran 1 Maret 1966 ini dijadwalkan terbang ke Mekkah, Selasa (9/7/2019).

Tri Darini tergabung dalam rombongan ketiga, gelombang I, kelompok terbang (Kloter) 10. Menjelang pemberangakatan ibadah haji, Tri Darini mengaku masih takjub dengan keajaiban hidup yang dialaminya.

Berbekal tekad dan upayanya menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, Tri Darini mampu memenuhi panggilan ke Tanah Suci. Kisah perjalanan Tri Darini ke Tanah Suci berawal dari pesan bapaknya, H. Suyadi Sarto Dwijo.

Sebelum meninggal dunia pada 2011, Suyadi pernah berpesan ke Tri Darini agar terus berjuang dan menunaikanhttps://soloraya.solopos.com/read/20190617/490/999194/aplikasi-smart-haji-panduan-pendamping-haji-untuk-calhaj-sukoharjo" title="Aplikasi Smart Haji, Panduan Pendamping Haji untuk Calhaj Sukoharjo"> ibadah haji. Pesan bapaknya tersebut selalu terngiang di telinganya.

Tanpa disadari pula, pesan itu seolah menjelma menjadi energi positif. Sejak 2011, Tri Darini semakin bersemangat menyisihkan uang hasil berjualan kerupuk keliling untuk ditabung.

“Orang tua saya punya enam anak. Saya ini anak ketiga. Di antara saudara itu, saya yang tidak punya duit. Tapi saya tetap berusaha mengumpulkan uang sebisanya. Saat bapak meninggal dunia [2011], saya sudah memiliki tabungan. Tahun itu juga duit yang saya simpan itu langsung saya pakai mendaftar ibadah haji. Selebihnya, saya tinggal menyiapkan kekurangannya,” kata Tri Darini saat ditemui wartawan di rumahnya, Jumat (28/6/2019) petang.

Tri Darini mengatakan saat mendaftar https://semarang.solopos.com/read/20190615/515/998760/jemaah-haji-jateng-kini-dikumpulkan-1-maktab" title="Jemaah Haji Jateng Kini Dikumpulkan 1 Maktab">ibadah haji ia harus menyetor Rp25 juta. Masa tunggu Tri Darini sembilan tahun. Ibu dari Nur Sangadah dan Jayidah Solikah ini kemudian harus menggenapi biaya haji yang senilai Rp36 juta.

“Sehari-harinya, saya ini hanya berjualan kerupuk keliling. Di samping itu, juga berjualan sayur matang. Di rumah juga membantu suami memelihara sapi gaduhan [milik orang lain],” katanya.

Pekerjaan berjualan kerupuk keliling dan sayur matang sudah digeluti Tri sejak 1989. Ibunya, Senen, dulu juga berjualan kerupuk.

Awalnya, Tri Darini membeli kerupuk matang dari seorang juragan kerupuk di kawasan Krecek, Delanggu. Lantaran juragan kerupuk tersebut meninggal dunia, Tri Darini kulakan kerupuk dari seorang juragan di kawasan Polanharjo.

Setiap hari, Tri Darini membeli kerupuk dari juragannya senilai Rp75.000. Setelah dijual keliling hingga berjarak 1,5 kilometer dari rumahnya, Tri Darini memperoleh untung Rp30.000-Rp40.000.

Selain menjual kerupuk, Tri Darini juga berjualan sayur matang. Tri Darini memasak sayur mulai pukul 02.00 WIB setiap harinya.

“Saat berjualan kerupuk dan sayur itu, saya menggunakan sepeda jengki dengan beronjong di bagian belakang. Dari hasil menjual kerupuk dan sayur saya memperoleh keuntungan bersih Rp100.000," jelas Tri.

Pendapatan memelihara sapi gaduhan berupa bagi hasil dengan pemilik sapi. Dalam setahun, biasanya Tri dan suaminya mendapat Rp4 juta. Dari pendapatan itu, sebagian besar dia tabung untuk ibadah haji.

Menjelang hari pemberangkatan ke Tanah Suci, Tri Darini sering dipesan para pelanggannya agar tak lupa membawa oleh-oleh. Selain itu, beberapa pelanggannya juga minta didoakan di Tanah Suci supaya dapat menunaikan ibadah haji di waktu mendatang.

Permintaan yang sama juga sering didengar Tri Darini dari tetangga dekatnya. “Saat di Mekkah nanti, saya akan berdoa memohonkan ampun untuk kedua orang tua saya. Saya juga berdoa untuk saya, suami, dan anak-cucu saya. Saya juga ingin mendoakan pelanggan dan para tetangga agar dapat menunaikan ibadah haji,” kata Tri Darini.

Sejak satu bulan lalu, Tri Darini mengaku sudah menghentikan aktivitas berjualan kerupuk keliling. Tri Darini fokus mempersiapkan diri, baik mental maupun fisik, guna menempuh perjalanan itu.

Tri Darini juga bersiap membawa obat yang dibutuhkan selama berada di Tanah Suci. “Saya ini mengidap penyakit gula. Tapi tidak terlalu parah. Suami saya juga mengidap penyakit gula. Ibadah haji ini kan kewajiban seorang muslim. Di samping itu, saya selalu ingat pesan bapak. Saya pun meminta suami saya agar segera mendaftar haji. Tapi suami saya ingin umrah terlebih dahulu,” katanya.

Salah seorang anak Tri Darini, Jayidah Solikah, 23, mengaku senang dan bangga atas usaha yang telah ditempuh ibunya. Saat ibunya menjalankan ibadah haji, Jayidah Solikah juga titip doa.

“Saya nitip didoakan ibu saya agar segera ketemu jodoh. Soalnya, saya belum menikah,” katanya.

Kisah Tri Darini yang bekerja sebagai penjual kerupuk keliling ini sempat diumumkan panitia penyelenggara pamitan haji tingkat Kecamatan Delanggu di gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Delanggu, Kamis (27/6/2019).

Panitia penyelenggara pamitan haji di Delanggu berharap kisah Tri Darini dapat menginspirasi wong cilik lainnya yang ingin pergi naik haji.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten