Kanguru. (Reuters)

Solopos.com, CANBERRA — Kanguru dikenal sebagai hewan pemakan tumbuh-tumbuhan atau yang kerap disebut sebagai herbivora. Namun belakangan hari ini, sejumlah kanguru di Australia berubah menjadi kanibal dengan memakan bangkai kanguru lain yang telah mati kelaparan.

Dilaporkan Okezone, Selasa (8/10/2019), sejumlah kanguru terpaksa menjadi kanibal lantaran sumber makanan mereka yang berupa tumbuh-tumbuhan mati akibat kekeringan.

Pakar lingkungan di Australia mengatakan jutaan kanguru terancam mati karena kekeringan parah yang melanda sejumlah wilayah, khususnya di kawasan Australia Timur.

Baca Juga: Balai Arkeologi Ajak Pelajar Temanggung Ekskavasi Situs Liyangan

Ahli ekologi independen John Read mengatakan kekeringan berkepanjangan menyebabkan kematian kanguru dalam jumlah banyak. "Kami telah melihat kematian kanguru besar selama 12 bulan terakhir," kata Read.

Di Australia Tengah, lanjut Read, jutaan kanguru mati kelaparan dan orang-orang akan semakin sering melihat kanguru mati di jalan.

Sementara itu, pakar ekologi dari Universitas New South Wales di Sydney, Katherine Moseby, mengatakan ia pernah menyaksikan kanguru sangat kesulitan mencari makanan di banyak kawasan di Australia.

"Musim panas lalu, kami menyaksikan kematian kanguru besar-besaran di semua area tempat saya bekerja di zona gersang, khususnya beberapa area di Flinders Ranges di Australia Selatan," kata Moseby.

Moseby mengaku pernah melihat kanguru masuk ke toilet umum dan memakan tisu toilet. "Kami bahkan pernah menyaksikan mereka memakan isi perut kanguru yang mati di pinggir jalan, mereka mencoba mendapatkan nutrisi dari bangkai kanguru. Pemandangan yang cukup mengerikan untuk dilihat," ujarnya.

Baca Juga: Game PS4 Bisa Dimainkan di Ponsel Android

Menurut Moseby, dampak kekeringan juga mulai terasa di Cagar Alam Arkaroola di Australia Selatan yang menjadi rumah bagi sejumlah satwa ikonik Australia seperti walabi batu berkaki kuning, yang diklasifikasikan sebagai hewan terancam punah.

Manajer Cagar Alam Arkaroola, Vicki-Lee Wilson, menjelaskan beberapa sumber air minum satwa di kawasan itu telah mengering untuk kali sejak pencatatan dimulai. "Ada beberapa mata air yang kami pikir akan tersedia selamanya, tapi sekarang telah kering selama satu setengah tahun. Air yang tersisa di lubang air benar-benar keruh, kondisinya mengerikan," katanya.

Menyikapi kisah tragis yang dialami para satwa, pengelola cagar alam menyediakan sumber air minum buatan untuk satwa di kawasan itu.

Selain satwa khas Australia, kekeringan juga mengancam pohon-pohon tua di Australia Selatan. John Read mengatakan dia telah melihat pohon akasia, pinus, dan cendana yang berumur berabad-abad meranggas di Australia Selatan selama gelombang panas.

"Beberapa dari mereka telah hidup selama ratusan tahun dan pada awal tahun ini banyak dari pohon purba itu mati, ini benar-benar mengejutkan," ungkap Read.

Meski fenomena matinya tanaman purba karena tekanan udara panas selama musim kekeringan ini bukanlah hal baru, Read dan ilmuwan lain khawatir perubahan iklim akan memengaruhi kekeringan dan bentang alam Australia.

"Banyak orang, termasuk saya, sangat khawatir dengan apa yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ini adalah sesuatu yang ekstrim. Beberapa pohon telah ada selama 500, 600 tahun dan mereka harus hidup lebih lama juga. Ketika mereka meranggas itu menunjukkan kondisi yang ekstrem seperti yang mereka alami selama beberapa ratus tahun terakhir. Itu benar-benar memperkuat fakta bahwa kita semacam berada di perairan yang belum dipetakan sekarang," beber Read.

Sementara kanguru berjuang melawan kekeringan di negara-negara bagian timur, kanguru di Australia Barat jumlahnya justru meningkat. Hal itu dikarenakan dampak kekeringan di Australia Barat tidak terlalu parah seperti di negara bagian lain.

Baca Juga: 7 Kematian Mendadak Artis Indonesia yang Menghebohkan Publik

Sumber: Okezone.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten