Dampak Gadget pada Anak-Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 13 Juli 2021. Esai ini karya Lina Nihayatun Ni'mah, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 Lina Nihayatun Ni'mah (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Lina Nihayatun Ni'mah (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Aspek kehidupan manusia kini banyak dipengaruhi oleh teknologi yang semakin hari semakin canggih. Menurut Syahudin (2019), gadget adalah suatu benda elektronik yang digunakan sebagai alat komunikasi oleh manusia, seperti telepon genggam, komputer, dan lainnya (Al Ulil Amri et al., 2020).

Gadget kini menjadi kebutuhan bagi anak-anak, remaja, kalangan pemuda, maupun orang dewasa. Gadget terhitung penting untuk kondisi saat ini karena teknologi yang satu ini mempunyai banyak manfaat dan mudah dijumpai.

Orang-orang di pelosok desa jamak mempunyai benda satu ini. Kini mudah menjumpai seseorang mempunyai gadget lebih dari satu. Akhr-akhir ini banyak dijumpai anak-anak di bawah umur menggunakan gadget karena diberi oleh orang tua mereka.

Banyak orang tua mungkin kurang memahami dampak buruk gadget bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak anak usia enam tahun hingga 12 tahun atau usia sekolah dasar yang menggunakan gadget, meskipun jika dipikir-pikir mereka belum butuh selain untuk pembelajaran dalam jaringan atau daring.

Masa-masa tersebut seharusnya adalah masa seorang anak punya atau menghadapi  tantangan baru, sehingga mereka bisa berbaur dengan lingkungan (Sarayati, 2016). Ketika anak usia sekolah dasar mengoprasikan gadget secara berlebihan, tahapan tumbuh kembang anak akan terhambat.

Hambatan tumbuh kembang itu mencakup pertumbuhan fisik, perkembangaan kognitif, moral, spiritual, psikoseksual, psikososial, dan perubahan pra-remaja. Tumbuh kembang anak usia sekolah dasar dipengaruhi banyak hal, seperti lingkungan, kasih sayang orang tercinta seperti orang tua dan orang terdekat, dan lain sebagainya.

Peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak jika orang tua paham tentang karakter dan apa yang harus dilakukan agar pertumbuhan dan perkembangan anak optimal. Bagaimana jika orang tua tidak begitu paham dan membiarkan anak tumbuh dengan sendirinya dan tanpa pengawasan?

Tentu ini merupakan hal yang sangat tidak baik. Sebagian anak-anak sekarang diberi gadget oleh orang tuanya, namun terkadang orang tua tidak membatasi penggunaan gadget tersebut, sehingga anak terlalu bebas. Penggunaan gadget sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, khususnya anak usia sekolah dasar.

Jika dikaji lebih lanjut, sisi negatif penggunaan gadget lebih banyak daripada sisi positif, khususnya pada anak usia sekolah dasar. Ada beberapa dampak negatif penggunaan gadget di kalangan anak-anak usia sekolah dasar. Pertama, menurunnya konsentrasi belajar. Anak akan lebih fokus pada gadget dan memikirkan gadget daripada pelajaran di sekolah.

Kedua, minat membaca dan menulis anak menjadi rendah. Ini bisa disebabkan mereka sering menonton video di aplikasi yang ada di gadget tanpa menuliskan kembali. Ketiga, kemampuan bersosialisasi anak menurun. Ini disebabkan mereka kurang waktu bermain bersama teman-temannya di lingkungannya sehingga mereka tidak peduli dengan lingkungan.

Keempat, dari segi kesehatan gadget juga menimbulkan beberapa dampak pada organ mata anak. Mata menjadi tidak sehat jika terpapar radiasi dari gadget secara terus-menerus (Afdila & Sodik, 2018). Penggunaan gadget pada anak usia sekolah dasar memengaruhi perkembangan psikologis, terutama pada pertumbuhan emosi dan perkembangan moral.

Siswa sekolah dasar yang menggunakan gadget secara berlebihan bisa terpengaruh perkembangan moralnya, antara lain anak menjadi lebih malas, kurang disiplin, bahkan sering terjadi anak meninggalkan kewajibannya yaitu ibadah hanya karena bermain gadget (Syifa et al., 2019).

Waktu belajar anak juga banyak terkuras karena mereka lebih senang bermain gadget. Bermain gadget meliputi menonton video di Youtube atau aplikasi lain, bermain game online atau offline, dan lainnya. Anak usia sekolah dasar yang bermain gadget secara berlebihan juga terdampak pada pertumbuhan emosi.

Mereka yang menggunakan gadget secara berlebihan biasanya lebih mudah marah, suka membangkang, bahkan mencontoh tingkah laku dari yang ditonton di gadget tersebut. Jika suatu video yang ditonton anak adalah hal yang baik sebenarnya tidak masalah, namun jika anak  menonton hal-hal yang belum saatnya untuk mereka tonton tentu akan berbahaya.

Selain beberapa dampak butuk tersebut, gadget juga bisa menyebabkan anak kecanduan. Kecanduan gadget terjadi karena anak-anak terbiasa bermain gadget melebihi batas waktu penggunaan. Peran orang tua sangatlah penting dalam mengawasi dan juga mengontrol saat anak menggunakan gadget.

Beberapa alhi pendidikan menyatakan anak perlu diberikan batasan saat bermain gadget (Ariston et al., 2018). Teknologi modern seperti gadget diciptakan sisi positif dan sisi negative. Berbagai macam gadget seperti smartphone atau laptop jika digunakan oleh orang yang tepat dan waktu yang tepat jelas bermanfaat.

Berbeda halnya ketika gadget dipegang dan diminkan oleh anak-anak kecil seusia sekolah dasar dengan waktu yang tidak terkontrol. Hal demikian akan menimbulkan sisi negatif yang lebih banyak daripada sisi positif. Gadget juga bisa berguna bagi anak sekolah dasar sebagai media belajar

Menggunakan gadget bisa juga untuk mengajarkan ilmu kepada anak usia sekolah dasar, namun tentu harus diawasi oleh guru atau orang tua. Dalam gadget banyak memuat beberapa media yang bisa membuat anak lebih tertarik untuk belajar, seperti media audio, media visual, media audio visual, dan media lingkungan.

Percaya Diri

Menggunakan gadget dengan waktu yang pas dan didampingi orang tua atau guru juga bisa memberikan dampak positif dari segi perkembangan anak usia sekolah dasar. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan psikologis, yakni anak dapat lebih percaya diri.

Contohnya saat mereka bermain dan menang maka mereka akan lebih percaya diri. Selain itu, bisa mengambangkan kemampuan membaca, matematika, dan memecahkan masalah. Gadget juga bisa mengembangkan imajinasi anak, tentu imajinasi berpikir yang baik tanpa dibatasi oleh kenyataan.

Dengan gadget anak-anak usia sekolah dasar juga bisa menambah teman dengan jejaring sosial yang bermunculan diakhir-akhir ini (Chusna, 2017). Perkembangan teknologi dari tahun ke tahun semakin canggih. Banyak sekali mantaat dari teknologi tersebut, salah satunya gadget.

Kini, tumbuh dan kembang anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Apa yang dia lihat dan apa yang dia lakukan sehari-hari akan memengaruhi perkembangan fisik dan jiwa. Penggunaan gadget oleh anak-anak usia sekolah dasar tentu mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak jika tidak dipantau oleh orang tua atau guru.

Dapat disimpulkan gadget memengaruhi tumbuh dan kembang seorang anak khususnya pada usia sekolah dasar, namun pengaruh gadget dapat berbeda-beda. Jika orang tua atau orang di sekeliling anak memperhatikan dan memantau penggunaan gadget, akan memberikan pengaruh positif.

Sebaliknya, jika anak dibiarkan bermain gadget begitu saja tanpa pantauan maka akan menimbulkan banyak dampak negatif. Peran orang tualah yang paling memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua dianggap paham tentang apa dampak negatif dan postif ketika anak diberi gadget dengan teknologi terkini.

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.