Dam Colo Ditutup, 374 Hektare Tanaman Padi Terancam Puso
Dam Colo (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Dam Colo (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

WONOGIRI -- Penutupan aliran air dari Dam Colo dinilai upaya pembunuhan mata pencaharian petani. Petani di Selogiri meminta peninjauan ulang kebijakan penutupan karena iklim yang terjadi sudah berubah total. Musim tanam tak bisa lagi dijadwal seperti biasa namun hanya berdasarkan pengiraan.

Dampak lain dari penutupan Dam Colo adalah 374 hektare (ha) atau 70% dari 520 ha tanaman padi di Kecamatan Selogiri terancam puso alias gagal panen. Akibatnya kerugian petani senilai Rp11,22 miliar apabila satu hektare tanaman laku dijual senilai Rp30 juta. Pernyataan itu disampaikan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Jaten, Joko Sutopo dan petani Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Sugimo saat ditemui Solopos.com secara terpisah, Kamis (11/10/2012).

“Hari ini beberapa Gapoktan di Selogiri sudah mencoba klarifikasi ke dinas terkait. Jawabannya penutupan Dam Colo tidak bisa ditunda sehingga tuntutan petani pada demo Minggu lalu tidak dipenuhi. Petani selalu dihadapkan pada posisi kalah karena perhitungan teknis yang dijadikan alasan,” ujarnya.

Dijelaskan oleh Joko Sutopo, alasan teknis karena debit air dari Waduk Gajah Mungkur (WGM) sudah menipis.
“Kondisi riil di lapangan, petani sangat membutuhkan air untuk tanamannya. Karena itu dampak penutupan Dam Colo ya lebih dari 70% tanaman padi terancam puso. Penutupan Dam Colo bisa kami anggap sebagai bencana pangan karena miliaran rupiah pendapatan petani hilang. Kerugian ini baru dari petani Wonogiri, belum petani Sukoharjo atau Klaten.”

Dia berharap, pemerintah daerah baik Bupati maupun anggota Dewan peduli pada petani. “Kami menilai tak ada respon dari pemerintah sehingga ketercukupan air tak bisa dipenuhi. Padahal air ada di Wonogiri dan dipergunakan untuk rakyat Wonogiri kenapa tidak bisa dilakukan. Ke depan agar ada evaluasi dari para steakholder sehingga petani tidak dirugikan.”

Joko juga menilai pengurus GP3A (Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air) Selogiri perlu dievaluasi karena tidak memperjuangkan aspirasi petani. Joko juga kecewa dengan keputusan penutupan dam tersebut karena tidak melibatkan petani pendemo. Terpisah, Sugimo, petani Desa Pule mengaku belum tahu jika aliran air dari Dam Colo sudah ditutup.

“Kesepakatan pada demo Minggu lalu, perwakilan pendemo akan diajak dan diberitahu soal penutupan namun hingga hari ini tak ada pemberitahuan. Jika hari ini sudah ditutup maka 75% tanaman padi di Desa Pule akan gagal panen.”

Menurutnya, saat ini tanaman padi di Desa Pule seluas 35 ha. Dia menilai penutupan itu sepihak dan akan menimbulkan dampak yang tidak baik di kemudian hari. “Jika ditutup, berarti petani hanya mengandalkan sisa air. Sumur pantek tidak dimiliki sehingga dana yang dikeluarkan petani semakin besar.”

Diberitakan sebelumnya, ratusan petani dari Kecamatan Selogiri, Wonogiri melakukan demonstrasi menuntut agar penutupan saluran Induk Colo Barat yang rencananya akan ditutup Senin (8/10/2012) pukul 24.00 WIB diundur sampai 15 Oktober.

Mereka berpendapat, penutupan aliran air berpotensi membuat tanaman padi seluas sekitar 520 hektare di Selogiri gagal panen (puso). Perwakilan Gapoktan Kecamatan Selogiri, Sagino, 62, mengharap kebijakan pejabat berwenang untuk mengundur penutupan saluran irigasi yang mengairi sawah para petani di daerahnya.

Ia menambahkan, jika petani sampai gagal panen, maka petani tak bisa membantu Pemerintah dalam memenuhi target panen padi nasional. Sagino, menyampaikan, potensi kerugian mencapai sekitar Rp15 miliar. Angka ini diperoleh dari hitungan kasar, per hektare sawah petani menghasilkan Rp30 juta. Maka, kata dia, kerugian yang diderita jika sampai puso adalah Rp30 juta dikalikan 520 hektare.

“Petani di daerah kami sebelumnya telah tiga kali gagal panen karena diserbu hama wereng. Saat ini kami sedang berusaha bangkit. Tetapi kami terkendala air. Kami hanya berharap penutupan saluran ditunda seminggu saja. Itu sudah lebih dari cukup,” papar Sagino.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom