DALANG Pelestari Kebudayaan
Antik (istimewa)
Paksi Rukmawati (JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh)

Menjadi dalang adalah pilihan hidup perempuan-perempuan ini. Masing-masing pribadi memiliki alasan sendiri hingga akhirnya terjun sebagai dalang dan terus menekuninya. Mulai dari faktor kepepet, menyalurkan bakat hingga ikut melestarikan kebudayaan berupa wayang kulit.

Salah satu dalang perempuan asal Sukoharjo, Paksi Rukmawati, mengaku awalnya benar-benar tidak suka wayang dan tidak pernah kenal wayang. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Ki Sri Sadono Amongrogo dan Sunarti itu menyebutkan sebenarnya keluarganya banyak yang berada di seni pedalangan. Ayah Paksi, Ki Sri Sadono Amongrogo, juga seorang dalang.

Dia mengaku mulanya kepepet ketika harus menekuni dunia pedalangan. “Setelah lulus SMP, saya bingung mau melanjutkan ke mana. Akhirnya saya diminta ayah untuk masuk ke SMKI di Kepatihan atau yang sekarang SMK 8. Ayah punya pedoman dari faktor genetik kalau diarahkan bisa jadi,” kata  Paksi saat ditemui Solopos.com di Kampus Jurusan Seni Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Senin (25/3/2013).

Perempuan kelahiran Sukoharjo, 17 November 1983, itu merasakan gojlogan ayahnya yang benar-benar lain daripada yang lain. Paksi dilatih ayahnya mulai sekitar pukul 16.00 WIB-pukul 00.00 WIB. Sebelum pukul 00.00 WIB, imbuh dia, dirinya tidak boleh tidur.

Hingga akhirnya Paksi dapat merasakan hasil dari didikan ayahnya. Dia bisa mengikuti kemampuan teman-teman sekolahnya dan dalam waktu dua tahun sudah bisa pentas mendalang. Ia kali pertama tampil di wilayah Karangdowo, Klaten.

“Sudah terlanjur basah akhirnya mandi sekalian. Saya dulu tidak suka wayang karena tidak tahu tentang wayang. Namun, setelah mengenal dan mempelajari serta dapat honor jadi punya semangat baru. Sekarang saya suka main wayang dan pede [percaya diri] lagi,” lanjutnya.

Selain itu, Paksi juga ingin menjadi seniman yang ikut melestarikan kebudayaan melalui darah seni dari ayahnya.

Nia Dwi Raharjo (istimewa)

Keinginan untuk ikut melestarikan kebudayaan juga disampaikan dalang perempuan lainnya, Nia Dwi Raharjo dan Antik. Nia juga mengikuti jejak ayahnya, almarhum Sri Joko Raharjo yang merupakan seorang dalang. Nia mengaku kali pertama mengaku tidak tahu pedalangan seperti apa. Dengan dukungan dari keluarganya, Nia pun mencoba-coba menjadi dalang sampai akhirnya suka menjadi dalang.

“Rasanya senang sekali kalau bisa tampil, Menjadi sebuah kepuasan sendiri kalau pentas. Anak-anak yang ada di sanggar saya di rumah bisa ikut latihan. Sehingga ada nilai plusnya. Saya pun harus lebih semangat lagi,” kata Nia.

Antik sendiri awalnya sejak kecil tidak langsung ke pedalangan. Perempuan yang memiliki nama asli Sarwiyanti itu semula masuk ke tari. Anak bungsu dari empat bersaudara pasangan suami istri Suratno dan Poni itu mengikuti jejak ayahnya yang menjadi dalang. Antik mulai mendalang sejak umur enam tahun.
“Saya memang ingin menjadi dalang. Saya ingin menyalurkan bakat dan meneruskan agar wayang tetap muncul dan kembali diminati. Rasanya senang kalau bisa pentas dan mengajak teman-teman di Solo untuk ikut mengiringi,” terang Antik.

Antik (istimewa)

Selain rasa suka, dalang-dalang perempuan itu pun mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan. Seperti yang dialami Paksi. Dulu, dia sering mendalang di pedesaan tanpa dibayar. Bahkan pernah dibayar sayur mayur dan singkong.

Saat mendalang, Nia pernah menghadapi penonton-penonton yang usil. Dia menyatakan harus pandai-pandai menyikapi kondisi itu. “Kalau kita tidak pandai menyikapinya nanti malah enggak dipanggil lagi,” kata perempuan yang pernah tampil hingga Paris itu.

Antik sendiri merasa prihatin dengan kondisi semakin berkurangnya orang-orang yang membuat wayang. Di samping itu, dia juga sedih jika tidak bisa tampil untuk menghibur masyarakat.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom