Dalam Sebotol Coca-Cola

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 28 Juni 2021. Esai ini karya Setyaningsih, esais dan pekerja buku di Penerbit Babon.

 Setyaningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Setyaningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO –– Tindakan sepele pemain sepak bola Ronaldo menggeser botol Coca-Cola saat acara jumpa pers menjadi kekuasaan besar yang membuat saham korporasi raksasa itu anjlok. Tindakan Ronaldo itu dianggap tidak menghormati Coca-Cola sebagai salah satu sponsor Euro 2020.

Ada tumpukan pesan tentang gaya hidup sehat sampai kemungkinan sikap humanis yang disampaikan Ronaldo. Kehebohan dari tindakan kecil oleh orang besar ini menunjukkan pengaruh korporasi raksasa mengubah atau membentuk tatanan dunia.

Pada Oktober 2001 mengemuka foto Mahatma Gandhi bersama roda pemintal yang bergantung di sebuah gubuk setinggi empat puluh kaki, beratap ilalang, yang tepat berdiri di samping pabrik Coke alias Hindustan Coca-Cola di Kerala, India.

Gandhi menjadi simbol untuk mengusir kekuatan Amerika Serikat yang merusak alam bumi India. Saat itu kepala suku Adivasi, penduduk asli India, bernama Veloor Swaminathan, memimpin perlawanan atas kelimpahan masalah yang disebabkan minuman ringan bersoda ini: limbah, pengisapan air tanah, pencemaran tanah pertanian, peracunan hewan ternak.

Para dewa di Sungai Ganga konon mabuk ampas Coke. Dalam buku The Coke Machine (2011), Michael Blanding menulis beberapa tahun sejak kembali ke India pada tahun 1993, Coke sempat menuai keberuntungan lewat strategi iklan yang jitu.

Di perkotaan, iklan Coke mengampayekan gaya hidup Amerika Serikat lewat slogan “Life as It Should Be” (Hidup Sebagaimana Mestinya). Di perdesaan, slogan “Coke Mean Cold” (Coke Berarti Dingin) terdengar sederhana tapi ampuh meredakan kegerahan daerah-daerah terpencil nan panas di India.

Dua pencipta sejarah awal Coke pada 1886, John Pemberton dan Asa Candler, yang sangat ambisius, pasti tidak membayangkan Coca-Cola telah berlari terlampau jauh dari sekadar minuman obat sakit kepala menjadi simbol kedigdayaan Amerika Serikat.

Tentu saja Coca-Cola Company tidak ingin selalu dianggap sebagai korporasi perusak lingkungan dengan perlahan-lahan tampil sebagai penanggung jawab masalah sosial dunia lewat pembangunan pusat pendidikan, pembuatan tandon air di wilayah-wilayah terpencil, bantuan kemanusiaan, sampai sponsor kerja seni kreatif.

Saya membaca pengumuman di Majalah Tempo (19 Januari 1985) tentang Irama Asia Record dan Coca-Cola yang mempersembahkan kaset berisi lagu Aku Melangkah Lagi yang dilantunkan penyanyi Vina Panduwinata dan sembilan lagu dari finalis lain di Festival Lagu Populer Nasional XII 1984.

Kegandrungan pada lagu pop bisa dinikmati sekaligus dengan minum Coca-Cola. Daripada sponsor rokok yang lebih rentan menuai protes, Coca-Cola menang tampil dalam nuansa positif memajukan industri musik Indonesia.

Iklan Coca-Cola memasuki jagat musik dangdut sebagai kolaborator beriklan. Majalah periklanan Cakram (September 2004) mengabarkan iklan Coca-Cola versi dangdut menjadi iklan paling efektif pada  sepanjang Juli-Agustus 2004 versi MRI Ad Monitor.

Lagu Lirikan Matamu yang dinyanyikan A. Rafiq mengantarkan Coca-Cola botol edisi genggaman tangan tampil genit, merakyat, dan Indonesia banget. Amerika Serikat dan Coca-Cola mampir di warung-wrung kelontong di pinggir jalan di kampung-kampung yang bising.

”Dangdutisasi” Coca-Cola mengalihkan kesan bergoyang yang identik dengan mabuk minuman keras. Mendem Coca-Cola tidak akan menimbulkan masalah yang berbahaya bagi penikmat dangdut dari kalangan menengah ke bawah.

Peremukan Produksi

Coca-Cola bukan sekadar sebuah minuman bersoda atau merek terkenal, tapi sebuah kelumrahan hidup. Di Indonesia, botol atau kaleng Coca-Cola tersebar di warung-waarung makanan di pinggiran, bar, restoran cepat saji, toko kelontong, etalase supermarket, kantin sekolah, pedagang asongan minuman, kedai kaki lima, dan akhirnya meja keluarga.

Iklan Coca-Cola bertahap menampilkan semangat kaum muda sampai memitoskan kehidupan berkeluarga yang liris dramatis. Manajemen Coca-Cola sangat sadar bahwa peristiwa bersantap selalu melibatkan massa yang besar.

Indonesia sudah memasuki era keluargaan yang diwakili oleh adegan menuang Coca-Cola family size dalam gelas-gelas di rumah berisi es batu. Cesss…! ”Coca-Colanisasi” kehidupan lewat konsumsi minuman ringan terbaca dalam novel pop Indonesia berlatar 1970-an.

Para konsumen aneka produk Coke adalah anak-anak muda yang membelot dari ikatan emosional keluarga, tatanan kultural, dan doktrin agama. Kaum muda Indonesia bukan lagi kaum ingusan peminum susu, tapi penenggak minuman ringan bersoda sebagai pelengkap gaya hidup perkotaan.

Saya menemukan itu di novel Sok Nyentrik (1977) garapan Eddy D. Iskandar. Di novel ini ada adegan obrolan dua remaja gaul siswa SMA di Jakarta dan seorang penyair. Obrolan terjadi di warung Dewi Indah. Di sinilah teh tubruk bisa bersanding dengan bir dan Sprite dingin.

Tutup botol Coca-Cola bagi generasi 1980-1990-an di perdesaan atau pinggiran kota malah jadi korban pemukulan sadis. Tutup botol Coca-Cola dipukul sampai gepeng pipih. Dari tutup minuman berkarbonasi pembawa budaya Amerika Serikat itu anak-anak membuat mainan yang juga jadi alat musik rakyat jelata berupa icik-icik atau kecrek.

Terkadang botol-botol Coca-Cola yang bentuknya seksi dijadikan tempat minyak jlantah atau minyak tanah oleh ibu rumah tangga. Remuk sudah imajinasi kejayaan produksi Coca-Cola dan gaya hidup Amerika Serikat.

Orang desa dengan lugu dan manusiawi membuat Coca-Cola jadi perkakas rendahan. Coca-Cola di Indonesia menambah cara dan apa yang kita minum sebagai sebuah perayaan. Korporasi yang besar pun tidak lupa menjejakkan kaki dalam penyelamatan lingkungan.

Korporasi telah mengajak pelbagai organisasi mengganti seluruh air yang dijual lewat program akses air bersih, restorasi wilayah resapan air, dan pengolahan air limbah pabrik. Ini mungkin terdengar seperti penebusan moral dan sosial setelah mendirikan pabrik budaya populer lewat minuman dalam kemasan di seluruh dunia.

Coca-Cola Foundation yang didirikan pada 1984 menjadi sejarah penting pengabdian korporasi kepada konsumen dan penyediaan program amal yang gagah menuju masa depan. Hal ini memang bukan lagi cara baru membayar utang budi, tapi selalu menciptakan kesan korporasi bertanggung jawab secara sosial dalam berindustri. Gerah? Minum water saja!

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga