Tutup Iklan
Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. (Reuters)

Solopos.com, JAKARTA -- Wacana rekonsiliasi antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto diwarnai tuntutan untuk memulangkan Rizieq Shihab. Menanggapi permintaan itu, https://news.solopos.com/read/20190620/496/1000008/sebut-kecurangan-bagian-dari-demokrasi-ini-cerita-lengkap-moeldoko" target="_blank" rel="noopener">Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan Indonesia tidak boleh terjebak dalam pemikiran pragmatis yang dapat menganggu sistem negara.

Pernyataan itu disampaikan oleh Moeldoko di Gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (5/7/2019). Dia menanggapi permintaan pendukung Prabowo Subianto agar Rizieq Shihab dipulangkan dari Arab Saudi ke Indonesia.

Apabila membahas kepentingan negara, Moeldoko mengatakan pemerintah harus berpikir untuk kepentingan jangka panjang. "Kita tidak boleh terjebak dalam pemikiran pragmatis, nanti menjadi mengganggu sistem negara ini," kata Moeldoko.

Moeldoko sendiri menyatakan rekonsiliasi dua kubu yang berseberangan dalam Pemilu Presiden 2019 bukan lagi menjadi agenda yang prioritas. Moeldoko mempertanyakan urgensi rekonsiliasi tersebut.

Mantan Panglima TNI itu menyatakan rekonsiliasi itu tidak terlalu penting lagi dibicarakan. "Kalau semua sudah berjalan normal saya pikir juga bukan menjadi sebuah agenda yang prioritas lah," kata Moeldoko.

Seperti diketahui, https://news.solopos.com/read/20190701/496/1002499/dahnil-prabowo-sandi-segera-bertemu-jokowi-tapi-bukan-rekonsiliasi" target="_blank" rel="noopener">Dahnil Anzar Simanjuntak, mantan juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, menyatakan pandangan pribadinya melalui akun Twitter-nya @Dahnilanzar, bahwa apabila narasi rekonsiliasi politik mau digunakan maka pemerintah perlu memberikan kesempatan Rizieq Shihab kembali ke Indonesia.

"Ini pandangan pribadi saya, bila narasi rekonsiliasi politik mau digunakan, agaknya yang paling tepat beri kesempatan kepada Habi Riziq kembali ke Indonesia, stop upaya kriminalisasi, semuanya saling memaafkan. Kita bangun toleransi yang otentik, stop narasi-narasi stigmatisasi radikalis dll," tulis Dahnil pada Kamis (4/7/2019).

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten