Pengusaha, Andromeda Sindoro (tengah), mengangkat trofi saat memenangkan predikat Best of the Best Challenger, pada Grand Final DSC X 2019, di De Tjolomadoe Karanganyar, Minggu (17/11/2019). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, KARANGANYAR -- The Final Day Diplomat Success Challenge (DSC) X yang digelar di De Tjolomadoe, Karanganyar, Minggu (17/11/2019), akhirnya memilih tujuh dari 12 finalis untuk diberikan modal usaha.

Selain itu, salah satu finalis juga ditetapkan sebagai best of the best Diplomat Challenge, yang jatuh kepada finalis asal Yogyakarta, Andromeda Sindoro, dengan ide bisnis Sweet Sundae Ice Cream.

Ketujuh finalis yang beruntung di antaranya adalah finalis dari Batu, Jawa Timur, Alfredo Dhilan Gozenda, dengan ide bisnis Apel Celup. Alfredo mendapatkan modal usaha sebesar Rp197 juta. Melalui perusahaannya yang bernama Dhilanmesindo, dia mengembangkan usaha di bidang pengolahan hasil pertanian lokal di daerahnya, terutama buah apel malang.

Finalis kedua adalah Hadid Fathul Alam dati Depok dengan ide bisnis Oke Garden, mendapatkan modal usaha Rp150 juta. Oke Garden merupakan layanan untuk membuat taman lebih menarik. Usaha itu menghubungkan produk petani tanaman hias serta jasa tukang taman.

Finalis ketiga adalah Rocky Kurnia Chandra dari Bogor dengan ide usaha Sunkrips. Dia mendapatkan modal usaha Rp190 juta. Sunkrips merupakan perusahaan yang memiliki visi untuk memelihara nutrisi anak dunia agar menjadi generasi penerus yang gemilang. Sunkrips menawarkan inovasi produk berbasis sayuran dengan kualitas premium.

Finalis keempat adalah Andromeda Sindoro dari Jogja dengan ide bisnis Sweet Sundae Ice Cream. Selain mendapatkan modal usaha Rp220 juta, dia juga ditetapkan sebagai the best of the best dalam DSCX. Dia pun mendapat tambahan modal usaha sebesar Rp50 juta. Sweet Sundae merupakan perusahaan pembuatan ice cream yang memakai bahan 100% dari lokal, dari petani dan peternak di lokal.

Finalis kelima adalah I Gede Dangin dari Jogja dengan ide bisnis Astrobike. Dia mendapatkan tambahan modal sebesar Rp230 juta. Melalui PT Astro Teknologi Internasional, dia mengembangkan usaha manufaktur yang bergerak di bidang teknologi kendaraan listrik khususnya sepeda listrik berbasis aplikasi dan web.

Finalis keenam adalah Athalia Mutiara Laksmi dari Bandung dengan ide bisnis Her Me. Dia mendapatkan tambahan modal sebesar Rp250 juta. Hear Me merupakan teknologi yang memiliki visi untuk meningkatkan kesetaraan para disabilitas. Salah satu produk yang ditawarkan adalah aplikasi Hear Me yang berguna untuk memudahkan komunikasi.

Finalis terakhir adalah Mega Siswindarto dari Surabaya dengan ide bisnis Bron Chips. Dia mendapatkan tambahan modal Rp253 juta. Bron Chips adalah salah satu produk yang diproduksi oleh industri Mr. Froniez Brownies yang berlokasi di Surabaya yang memproduksi beraneka ragam brownies dan cake.

Mewakili Dewan Commisioner DSC, Surjanto Yasaputera, mengatakan secara umum Dewan Komisioner DSC bangga dengan 12 finalis yang telah terseleksi dari 12.000 proposal yang masuk. Namun dia berharap finalis yang belum mendapatkan tambahan modal, tetap semangat menjalankan usaha mereka. Dia menyebutkan ada tiga komponen penilaian yang digunakan.

"Pertama adalah pemahaman, piawai dan persona. Ketiga komponen ini sudah ada pada finalis, hanya belum merata. Kami berharap setiap finalis bisa meningkatkan apa yang sudah dimiliki sekarang ini," kata dia, Minggu.

Salah satu finalis, Andromeda, mengaku sangat senang bergabung dalam DSCX.

"Kami bisa belajar, kami bisa bertukar pengalaman, dan kami berharap usaha kami ke depan bisa lebih maju," kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten