Daerah Pegunungan di Wonogiri Selatan Kok Bisa Banjir? Ternyata Ini Penyebabnya
Banjir yang melanda Desa Pucung, Kacamatan Eromoko, Wonogiri, Rabu (3/3/2021). (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI -- Bencana banjir tidak hanya bisa terjadi di dataran rendah. Di Wonogiri bagian selatan, daerah pegunungan juga berpotensi terjadi bencana banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah itu.

Belum lama ini, Rabu (3/3/2021), daerah pegunungan, tepatnya di Dusun Brengkut, Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Wonogiri, terjadi banjir. Dalam bencana itu delapan rumah yang dihuni 34 orang tergenang air.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan di Wonogiri bagian selatan rata-rata merupakan daerah batuan karst. Kondisi itu bisa dilihat di Kecamatan Eromoko, Pracimantoro, Paranggupito, Giritontro dan Giriwoyo.

Baca Juga: Kecelakaan Motor Vs Mobil di Jogonalan Klaten, 1 Orang Luka

Bambang menuturkan batuan karst notabene tidak bisa menopang air. Maka di daerah dataran tinggi batuan karst ada cekungan yang di dalamnya ada lobang resapan atau sering disebut luweng. Luweng itu terjadi atau terbentuk karena faktor alam.

Ketika hujan datang, kata Bambang, maka air hujan akan mengalir atau masuk ke luweng tersebut karena batuan karst tidak bisa menopang air. Jadi fungsi dari luweng itu untuk resapan air hujan di wilayah sekitarnya.

Bambang menuturkan, fungsi luweng sangat vital di daerah karst ketika terjadi hujan karena berfungsi sebagai resapan air hujan. Ketika di daerah bebatuan karst terjadi banjir, salah satu penyebabnya yakni luweng di daerah itu tidak berfungsi.

"Maka di Wonogiri bagian selatan yang daerahnya berada di batuan karst, meskipun di daerah tinggi atau pegunungan bisa terkena banjir. Karena luweng tidak berfungsi, lalu air meluap ke permukiman. Di kecamatan yang daerahnya batuan karst hampir semuanya pernah terjadi banjir, meskipun pegunungan," kata dia saat dihubungi, Jumat (5/3/2021).

Penyebab Luweng Tak Berfungsi

Menurut Bambang, luweng yang tidak berfungsi disebabkan dua hal, bisa dari faktor alam atau dari tingkah laku manusia. Faktor alam disebabkan karena erosi. Karakter batuan karst kapur mudah larut atau terjadi pengikisan ketika terkena air.

Sedangkan tingkah laku manusia, menurut Bambang, disebabkan karena pembuangan sampah, baik dari rumah tangga maupun pertanian. Biasanya sisa hasil panen yang tidak dimanfaatkan tidak dibawa pulang. Ketika hujan terseret air ke dalam luweng. Akibat sampah, luweng menjadi tersumbat dan tidak berfungsi.

Bambang mengatakan, banjir di daerah pegunungan bisa surut, namun terkadang membutuhkan waktu yang lama. Tergantung dari tingkat sendimentasi yang menutupi luweng atau penyumbatan dari luweng itu sendiri. Banjir di Eromoko, Rabu, ketika banjir terjadi sore, pukul 20.00 WIB, air genangan masih cukup tinggi.

Baca Juga: Walah, Harga Cabai Rawit Merah di Klaten Ternyata Setara Daging Sapi

"Jadi daerah Wonogiri selatan, khususnya di daerah pegunungan bisa terjadi banjir karena daerahnya berada di batuan karst. Batuan karst itu susah menopang air. Makannya kalau musim kemarau daerah sana juga kesulitan air. Karena tanah atau batuan karstnya kering," kata Bambang.

Sebelum banjir Eromoko, pada 31 Januari 2021, banjir juga terjadi di Kecamatan Paranggupito dan Pracimantoro. Sebagian daerah yang terdampak banjir itu merupakan dataran tinggi atau pagunungan.



Berita Terkini Lainnya








Kolom