Genangan air di Viaduk Gilingan Solo, Kamis (4/4/2019). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO – Ada saja sejumlah orang yang mencoba mengeruk keuntungan pribadi di tengah musibah. Seperti yang dilakukan beberapa orang bertato saat Viaduk Gilingan, Banjarsari, Solo, tergenang air, Kamis (4/4/2019), pagi.

Sekelompok orang bertato itu berpura-pura membantu mendorong mobil yang terjebak di genangan air https://soloraya.solopos.com/read/20190404/489/982811/terjebak-di-genangan-viaduk-gilingan-solo-pengguna-jalan-dipalak-preman">Viaduk Gilingan. Namun, bantuan itu tidak gratis. Mereka meminta imbalan uang ratusan ribu rupiah kepada sopir mobil yang telah dibantu.

Ulah sekelompok orang yang diduga preman itu menjadi buah bibir di kalangan netizen. Mereka heran kenapa masalah preman di Viaduk Gilingan tak kunjung mendapat solusi. Ada pula sejumlah netizen yang menceritakan pengalaman pahit dipalak preman di kawasan Viaduk Gilingan.

“Saya jam 04.30 tadi lewat ada beberapa orang di tengah genangan. Saya naik motor, jadi ya enggak kena mereka,” komentar Dwi Yulianto di fanpage Solopos.com.

Pernah nih, awalnya pura-pura menolong nyebrang lewat rel. gara-gara di situ menggenang tinggi. Eh, setelah nyebrang dimintai uang. Padahal, kalau masalah nyebrang rel, sepeda motornya ktuntun sendiri bisa, tak perlu dibantu. Sejak saat itu, kalau deras aku milih jalan memutar saja,” imbuh Henritsu Kuromaki.

Ngangkat motor melewati rel kereta Rp50.000. Itu pun hasil nego, hahaha,” imbuh Dalton Alfatih.

Ini yang harus mikir itu pemkot. Masak nunggu di-oyak-oyak warga? Sudah terlalu lama persoalan ini,” sambung Indrayanto.

Perlu dibasmi. Ada motor macet pura-pura nulung. Ternyata minta duit sambil mengancam,” imbuh Pendi Purwoko.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, Kasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Solo, Sumarno, 55, mengaku melihat langsung beberapa orang bertato meminta uang pengendara mobil yang terjebak genangan.

“Ada empat sampai lima orang pura-pura membantu mendorong mobil. Padahal mereka justru menutup knalpot mobil pakai kaki agar mogok. Setelah itu mobil didorong hingga ke tepi jalan, lalu pengendara mobil dimintai uang Rp200.000,” tutur dia.

Menurut Sumarno, nominal uang yang diminta beberapa orang itu bervariasi antara Rp200.000 hingga Rp500.000. Mereka berani meminta uang dengan alasan telah membantu mendorong mobil-mobil tersebut keluar dari genangan air https://soloraya.solopos.com/read/20190404/489/982811/terjebak-di-genangan-viaduk-gilingan-solo-pengguna-jalan-dipalak-preman">Viaduk Gilingan.

Padahal justru mereka sendiri yang menyebabkan beberapa mobil mogok karena knalpotnya ditutup dengan kaki. Sumarno meminta petugas terkait seperti TNI dan Polri untuk mengawasi setiap terjadi genangan air di Viaduk Gilingan agar tak terjadi kejadian serupa.

“Karena ulah segelintir orang seperti ini lah yang membuat citra Kota Solo jadi jelak. Jadi tolong ada antisipasi saat ada genangan di Viaduk Gilingan agar diawasi bersama. Tadi para preman itu pergi setelah tim BPBD datang dan mereka saya tegur,” urai dia.

Sumarno mengaku sudah beberapa kali mendapat informasi terjadinya praktik pemalakan segelintir orang dengan modus membantu mendorong mobil keluar dari genangan viaduk. Tapi baru kali itu dia melihat langsung aksi nekat beberapa orang tersebut.

“Menurut informasi warga yang tinggal di sekitar https://soloraya.solopos.com/read/20190404/489/982811/terjebak-di-genangan-viaduk-gilingan-solo-pengguna-jalan-dipalak-preman">Viaduk Gilingan, kelima orang yang memintai uang pengendara mobil yang terjebak genangan itu bukan warga Gilingan. Jangan-jangan mereka juga yang kadang menutup lubang gorong-gorong,” kata dia.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten