Curhat Warga Terdampak Tol Solo-Jogja di Klaten Berat Tinggalkan Tanah Kelahiran
Patok terkait proyek pembangunan tol Solo-Jogja terpasang di Dukuh Ngentak, Desa Kranggan, Polanharjo, Klaten, Rabu (5/8/2020). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Warga di permukiman wilayah Klaten yang terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja merasa berat meninggalkan perkampungan yang sudah turun temurun mereka tempati.

Perkampungan warga yang bakal dilintasi atau terdampak pembangunan tol Solo-Jogja seperti di wilayah Desa Kranggan dan Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Di dua desa itu, patok-patok penanda wilayah yang bakal dilintasi jalan tol terpasang di perkampungan.

Di Desa Kranggan, ada dua wilayah RT yang direncanakan dilewati jalan tol Solo-Jogja. Kedua wilayah RT itu yakni RT 014/RW 005, Dukuh Ngentak dan wilayah RT 009/RW 004, Dukuh Ronggolanan.

Pemdes Cokro Klaten: Solo Tak Berhak Atas Sumber Air di Cokro!

Di wilayah RT 14, seluruh warga yang tinggal di RT tersebut bakal terdampak jalan tol Solo-Jogja dan disebut-sebut bakal terjadi bedol RT. Ada sekitar 15 rumah yang menjadi tempat tinggal bagi 24 keluarga di wilayah RT 014.

Sementara, di wilayah RT 009, ada sebagian warga atau sekitar 23 keluarga yang tinggal pada 20an rumah terdampak jalan tol.

Perasaan berat untuk meninggalkan kampung yang selama ini sudah ditinggali seperti yang disampaikan warga terdampak tol Sutrisno, 41, warga RT 014/RW 005, Dukuh Ngentak, Desa Ngaran.

Hampir saban hari, jalan tol menjadi bahan perbincangan warga terkait kepastian proyek tersebut bakal melintasi wilayah perkampungan mereka.

Sosialisasi dan Konsultasi Publik

Beberapa waktu terakhir ada pemasangan patok-patok berwarna merah putih serta kuning-putih di area persawahan dan perkampungan.

Selang beberapa hari patok dipasang, warga menerima undangan untuk mengikuti sosialisasi dan konsultasi publik rencana pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Solo-Jogja yang digelar, Selasa (4/8/2020).

“Rasanya ya susah ya senang,” kata Sutrisno saat ditemui solopos.com di rumahnya, Rabu (5/8/2020).

Tambah Lagi, Warga Prambanan Klaten 37 Tahun Positif Covid-19

Perasaan senang dia rasakan lantaran bakal menerima uang pengganti yang disebut-sebut sebagai ganti untung atas tanah yang terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja.

“Susahnya itu sudah lama tinggal di sini, sudah ayem tentrem tetapi harus pindah. Cari tempat tinggal yang baru, beradaptasi dengan lingkungan baru juga tidak mudah. Bagaimanapun kami-kami juga tidak bisa menolak,” tutur dia.

Sutrisno mengatakan keluarganya berjumlah sekitar 10 orang sudah tinggal pada dua rumah seluas 44 meter persegi di RT 014 secara turun-temurun.

Rumah itu pula selama ini menjadi tempat usaha keluarganya membuat beronjong plastik.

Cerita Edi Susanto Waktu Kecil Digendong Mbah Minto Klaten, Kini Jadi Ajudan Pribadi

Sutrisno berharap ganti untung yang dijanjikan pemerintah atas tanah hingga bangunan yang bakal terdampak jalan tol benar-benar menguntungkan warga terdampak. “Harapannya ya kalau pun harus pindah hanya di wilayah Kranggan,” jelas dia.

Ketua RT 014/RW 005, Dukuh Ngentak, Suyamto, juga berharap warga terdampak jalan tol di wilayah RT 14 bisa tetap dijadikan satu kampung ketika harus pindah tempat tinggal.

“Kami sudah nyaman dan damai tinggal di kampung ini. Harapannya bisa tetap dijadikan satu. Kalau ada ya dicarikan lokasi dari pihak tol dan tetap di wilayah Kranggan,” kata Suyamto.

Tetap Tinggal di Satu Wilayah

Hal senada disampaikan Ketua RT 009/RW 004, Dukuh Ronggolanan, Supadi. Dia mengungkapkan keinginan warga yang tanah dan rumahnya bakal terdampak tol bisa tetap tinggal di satu wilayah yang ada di Desa Kranggan.

Supadi menuturkan warga terutama para ibu-ibu sempat terkejut ketika berembus kabar jalan tol bakal menerjang perkampungan di wilayah RT 09. Kabar itu berembus sejak 2019 lalu.

“Warga di sini terutama ibu-ibu menangis. Perlahan kami tenangkan dan kami berikan semangat,” kata Supadi.

Waduh! Warga 1 RT di Polanharjo Klaten Tergusur Proyek Tol Solo-Jogja

Kepala Desa Kranggan, Gunawan Budi Utomo, mengatakan meski warga terdampak mendukung rencana pembangunan proyek jalan tol Solo-Jogja, warga terutama yang rumahnya bakal tergusur berat untuk pindah dari perkampungan yang sudah mereka tempat selama ini.

“Dari nilai historisnya itu yang membuat sulit untuk pindah,” kata Gunawan.

Gunawan menjelaskan ada keinginan dari warga di wilayah RT 09, Dukuh Ronggolanan untuk bisa tetap tinggal di satu lokasi di wilayah Kranggan.

Dari keinginan itu, pemerintah desa mengkaji menggunakan tanah kas desa seluas 2.000 meter persegi untuk relokasi warga RT tersebut. Namun, untuk proses pemanfaatan tanah kas desa tersebut perlu konsultasi ke pemkab hingga Kemendagri.

Kepala Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Rahim Fauzi, lahan terdampak jalan tol diperkirakan seluas 25 ha meliputi sawah dan permukiman warga.

Ini Tahapan Pembebasan Lahan Terdampak Tol Solo-Jogja di Klaten

Permukiman yang dilalui jalan tol berada di dua wilayah RT yakni RT 002 dan RT 003 Dukuh Mendungan. “Ada sekitar 22 rumah yang akan terdampak,” urai dia.

Rahim menjelaskan kawasan Kapungan bakal terbelah menjadi tiga wilayah. Hal itu terjadi lantaran Kapungan menjadi titik simpang susun jalan tol.

Soal permukiman yang terdampak, Rahim menuturkan ada warga yang menginginkan pindah tempat tinggal namun tetap berada di wilayah Dukuh Mendungan.

Sebagai informasi, di Klaten ada sekitar 50 desa di 11 kecamatan dilintasi jalan tol Solo-Jogja. Saat ini, rencana pembangunan jalan tol tersebut memasuki tahap persiapan salah satu dengan menggelar sosialisasi dan konsultasi publik pengadaan tanah jalan tol Solo-Jogja.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom