Kategori: Jatim

Covid-19 Karyawan Sampoerna Sejak 14 April, Pemkot Surabaya Bantah Terlambat


Solopos.com/Newswire

Solopos.com, SURABAYA -- Pemerintah Kota atau pemkot Surabaya membantah terlambat menangani penyebaran Covid-19 di kalangan karyawan pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk di Rungkut, Surabaya.

"Pemerintah kota tidak pernah terlambat. Ibu gubernur [ Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ] tidak benar," kata Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M Fikser, di Balai Surabaya, Sabtu (2/5/2020).

#UndipKokJahatSih Trending, Ini Jawaban Undip Semarang Soal Kenaikan UKT

Pernyataan tersebut merespons komentar Khofifah soal dugaan Pemkot Surabaya terlambat menangani Covid-19 sehingga ratusan karyawan Samporna tertular Covid-19. Menurut Khofifah, manajemen Sampoerna sudah melaporkan adanya dua karyawan positif Covid-19 ke Dinas Kesehatan Surabaya pada 14 April 2020. Namun hal itu tidak segera ditindaklanjuti dengan melapor ke Tim Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur.

Fikser mengklaim Pemkot Surabaya selalu serius dan cepat dalam mendapatkan semua informasi yang berkembang terkait dengan penyebaran Covid-19. Begitu pula kasus Covid-19 ratusan karyawan PT HM Sampoerna.

Pengunjung RS Siloam Lippo Village Wajib Rapid Test, Tapi Bayar Rp250.000

Alih-alih mengakui terlambat, dia mengklaim Pemkot lah yang memanggil manajemen Sampoerna untuk mendorong seluruh karyawan menjalani rapid test Covid-19. Fikser menjelaskan awal mulanya salah satu karyawan Sampoerna pada 2 April mengaku sakit dan berobat ke klinik perusahaan.

Selalu Tracing

Pada 9 April 2020 pasien dirujuk di rumah sakit dan pada 13 April pasien melakukan pemeriksaan tes swab di rumah sakit yang berbeda. Fikser mengklaim sejak saat itu Pemkot Surabaya mulai melakukan tracing di setiap rumah sakit.

Jual-Beli Kursus Kartu Pra Kerja Diprotes, Ruangguru Hapus Kelas Jurnalistik

Bahkan setiap hari, katanya, petugas Dinas Kesehatan Kota Surabaya memantau setiap rumah sakit soal perkembangan pasien Covid-19 karyawan Sampoerna.

"Begitu kita ketahui, pada 16 April Dinkes memanggil perusahaan Sampoerna. Jadi bukan perusahaan yang melapor, tapi kami yang memanggil. Kita yang menemukan. Silakan tanya ke Sampoerna," katanya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Surabaya itu pun memastikan dia meminta penutupan sementara aktivitas pabrik HM Sampoerna. Hal itu disampaikan Pemkot Surabaya dalam pertemuan kedua dengan Sampoerna pada 27 April 2020 tentang kasus Covid-19 ratusan karyawan.

Bayi 1 Bulan di Grobogan Positif Covid-19, Diduga Tertular di RSUP Kariadi Semarang

Tidak cukup sampai di situ, katanya, dia juga meminta data nama karyawan untuk dilakukan tracing kembali. "Kita minta datanya sesuai nama dan alamat. Supaya kita bisa tracing kembali dan beri intervensi," kata Fikser.

Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Febria Rachmanita mengatakan hal serupa. Dalam pertemuan dengan PT HM Sampoerna itu, Pemkot Surabaya meminta perusahaan tersebut untuk melakukan rapid test Covid-19 dan mengisolasi mandiri 506 karyawan.

3 Tanda Panah Misterius di Ketandan Klaten, Jaket Perampok Berkode 11 dan 24

"Saat itu puskesmas melakukan tracing dan ditemukan terdapat data kontak erat dengan karyawan. Kita begitu tahu satu orang sakit langsung kita cari siapa orang dalam pemantauan (ODP) mana dan pasien dengan pengawasan (PDP)," kata Febria.

Swab

Febria menyebut, setelah dilakukan rapid tes, dari 506 karyawan ditemukan 123 karyawan yang hasilnya positif. Kemudian, PT HM Sampoerna melakukan tes lanjutan Covid-19 yakni swab tes terhadap karyawan pada Jumat (1/5/2020) yang dibagi menjadi dua gelombang.

Nenek di Purwodadi Meninggal Tanpa Busana di Depan Kamar Mandi

Gelombang pertama dengan kuota sebanyak 48 karyawan. Dari 48 tersebut yang terkonfirmasi sebanyak 30 orang positif. "Kami pun minta Sampoerna yang melakukan isolasi karyawannya di suatu hotel sehingga tidak tertular dengan yang lain," kata dia.

Kepala Dinkes Kota Surabaya itu juga menegaskan Pemkot tidak terlambat bertindak. Dinkes melalui puskesmas terus memantau perkembangan pasien, baik yang isolasi mandiri di rumah maupun di hotel dan memberikan berbagai intervensi.

Sebelum Dirampok, Rumah di Ketandan Klaten Diberi Tanda Panah Misterius

"Jadi tidak benar kalau kami terlambat dalam penanganan Covid-19 [ karyawan Sampoerna ]. Kami pun mencarikan tempat tidur mereka yang positif dan sudah dapat seratus untuk karyawan Sampoerna dan memantau sekitar 200 orang keluarga karyawan," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Adib Muttaqin Asfar