Aviwkila saat menyanyikan Kemarin. (Istimewa/Youtube)

Solopos.com, JAKARTA - Duo Aviwkila Uki Daud Sulaiman dan Thana Ajeng mengenang kepergian personel Seventeen meng-cover lagu Kemarin yang diciptakan mendiang gitaris Seventeen Band Herman Sikumbang. Seperti diketahui, Herman meninggal dunia dalam bencana tsunami Selat Sunda.

Cover lagu Kemarin oleh Duo Aviwikila ini rupanya juga permintaan dari Stage Manager Ujang yang juga ikut menjadi korban tsunami tersebut. "Mas Ujang, ini lagu request-anmu yang sering mbok request selama kita jalan. Maaf kita baru bisa bawain sekarang pas mas udah enggak ada," ucap Thana Ajeng lirih.

Di sela-sela penampilan, ditampilkan juga foto-foto kebersamaan Aviwkila bersama band Seventeen dan para kru. Sepanjang membawakan lagu Kemarin, ekspresi wajah Uki Daud dan Thana Ajeng terlihat sangat bersedih. Menjelang lagu selesai, baik Uki Daud maupun Thana Ajeng tampak tak kuasa menahan rasa sedih dengan mata yang semakin dibanjiri air mata.

Di akhir lagu, tangisan Uki Daud akhirnya pecah dan Thana Ajeng berusaha menenangkan Uki. Uki Daud yang hendak berkata-kata pun sempat terhenti dan menutupi wajahnya dengan tangan.

Uki Daud adalah mantan pemain gitar tambahan yang bekerjasama dengan Seventeen selama empat tahun, dari 2012 hingga 2016. Meski baru empat tahun, namun Uki Daud sudah akrab dengan semua keluarga Seventeen seperti keluarganya sendiri.

Pengelola channel Aviwkila mengatakan pendapatan dari cover lagu ini bakal diserahkan untuk berdonasi kepada korba bencana tsunami Selat Sunda. Namun sayangnya, video justru tidak mendapatkan izin dari Youtube untuk dilakukan monetasi atau mengambil keuntungan. 

"Kemarin niat kami dari pendapatan AdSense video ini akan kami salurkan untuk para keluarga korban. Tapi ternyata kebijakan Google belum mengizinkan kami buka monetize video ini," tulis Aviwkila di kolom komentar. "“Dolar Kuning” tandanya. Jadi tidak ada iklan yg masuk."

Dollar Kuning

Blogger @w_sp9 dalam salah satu ulasannya yang menjadi terpopuler di pencarian Google menyebut Dollar Kuning adalah istilah yang merujuk pada sebuah tanda ikon monetisasi di Akun Pengelola Video untuk video tertentu yang ditandai sebagai video yang tidak cocok untuk pengiklan. "Ini berarti video tersebut mungkin akan tetap menampilkan iklan, hanya saja iklan yang muncul sangat terbatas atau bahkan tidak ada iklan sama sekali," tulisnya.

Beberapa unsur yang menyebabkan konten tidak memenuhi syarat untuk iklan antara lain adalah konten mengandung peristiwa sensitif, narkoba dan produk atau zat berbahaya, tindakan beresiko atau berbahaya, ujaran kebencian, bahasa tidak sopan, penggunaan karakter hiburan keluarga yang tidak pantas, provokasi, serta bernuansa sensual.

Akibat terkena Dollar Kuning, Aviwkila sedang mengajukan manual review ke pihak Google. "Tapi andaikata tidak di approved tidak masalah ya teman2
Kami akan tetap akan berbagi dengan hasil pribadi kita saja. Tidak harus berhubungan dengan iklan dari video ini,"lanjut Aviwkila lagi.

"Support kami saja dengan cara tonton video kita yang lain di Youtube Channel Aviwkila. Nanti hasilnya tetap akan kami share untuk mereka yang sedang tertimpa bencana," pungkasnya.

Seperti diketahui, Ifan menjadi satu-satunya personel band Seventeen yang selamat dari bencana tsunami di Selat Sunda beberapa waktu lalu. Ia ditinggal penggebuk drum Windu Andi Darmawan, gitaris Herman Sikumbang dan pemetik bas M. Awal Purbani.

Seventeen menjadi korban tsunami Banten saat tampil di acara gathering PLN. Baru main dua lagu, tiba-tiba air menerjang dari belakang panggung. Tiga personel Seventeen dan road manajernya meninggal dunia. Pun demikian dengan istri Ifan.

Ifan yang selamat, diobati di klinik setempat. Satu per satu lalu ia mendapati kabar duka soal kawan-kawannya, dan terakhir soal istrinya. Istri Ifan saat ini sudah dimakamkan di Jawa Timur. Selain Seventeen, Aa Jimmy juga menjadi korban bencana itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten