Corona Mewabah, Keraton Solo Gelar Tradisi Caos Dhahar
Keraton Solo gelar caos dhahar untuk perangi virus corona (IG/@kraton

Solopos.com, SOLO — Keraton Surakarta Hadiningrat melakukan tradisi caos dhahar karena mewabahnya virus corona di berbagai daerah di Tanah Air, salah satunya di Solo, Jawa Tengah (Jateng).

Dalam bahasa Jawa, caos berarti menyediakan, sedangkan dhahar memiliki arti makan.

Keraton Solo melakukan tradisi caos dhahar tersebut di berbagai titik atau lokasi yang sangat sakral di Solo yang bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Tuhan YME.

Kronologi Meninggalnya Anggota DPR Imam Suroso yang Positif Corona

"Dalam menghadapi situasi wabah (Pageblug) Karaton Surakarta Hadiningrat melakukan tradisi caos dhahar di berbagai titik dan lokasi yang dianggap sakral. Hal ini bertujuan memohon perlidungan kepada Tuhan agar seluruh masyarakat Surakata dan seluruh rakyat Indonesia diberikan keselamatan dan juga bencan serta wabah yang melanda segera sirna," ujar pengelola akun Instagram @kraton_solo, Jumat (27/3/2020).

Berdasarkan pantauan Solopos.com pada akun Instagram resmi Keraton Solo, @kraton_solo, abdi dalem Keraton Solo melakukan caos dhahar di depan Kantor Wali Kota Solo, Gladag, Tugu Kebangkitan Nasional, Gapura Jurug, dan beberapa titik lainnya.

Sri Mulyani Sebut Indonesia Bisa Jadi Pemasok Alat Kesehatan, Kok Kekurangan?

"Salah satu wujud tradisi itu adalah bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang disimbolkan berupa uborampe sesaji yang terdiri dari sajian bunga dan bermacam macam olahan makanan yang memiliki makna dan tujuan tertentu," lanjutnya.

Bubur Ketan Hitam

Sementara itu, Mahamenteri Keraton Solo, KGPHPA Tedjowulan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperbanyak doa guna mengusir wabah Covid-19 atau virus corona yang telah menyerang Solo.

Masyarakat diminta lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengurangi kesenangan duniawi. Menurut Tedjowulan, serangkaian ikhtiar atau usaha manusia tidak bisa dilepaskan dengan doa sebagai pasangannya.

Hari Ini Dari Sejarah: 28 Maret 1854, Inggris-Prancis Perang Lawan Rusia

Sebagai simbol atau perlambang harapan, masyarakat bisa membuat bubur atau jenang ketan hitam tanpa gula dan santan. Bubur yang dibuat lantas dimakan bersama keluarga dan dibagikan kepada tetangga di sekitar rumah.

“Bubur atau jenang ketan hitam hanya menggunakan garam kasar secukupnya. Tidak pakai gula dan santan,” ujar dia kepada wartawan, Jumat (27/3/2020).

Ada 639 ODP & 6 PDP Corona di Klaten, Ini Sebaran Wilayahnya

Beras ketan hitam sebagai pralambang kondisi kurang baik yang terjadi. Kondisi yang kurang baik ini disebabkan serangan wabah corona. Sendi-sendi kehidupan masyarakat menjadi rapuh dan goyah.

Tak adanya gula di bubur ketan hitam yang dibuat itu sebagai simbol mengurangi kesenangan. Dalam situasi seperti sekarang masyarakat harus memperbanyak tirakat atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan tidak digunakannya santan berarti larangan untuk berpergian.

RSUD dr. Soedono Madiun Tambah Ruang Isolasi


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho