Corona Belum Reda, Virus Mematikan Lain Muncul
Ilustrasi virus. (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Di tengah pendemi virus corona (Covid-19) yang belum mereda, virus lain yang juga mematikan muncul. Virus tersebut ditemukan di Amerika Serikat bagian barat.

Virus itu tak menyerang manusia, melainkan menyerang populasi kelinci. Dilaporkan Detik.com, Rabu (20/5/2020), virus itu memicu penyakit Hemoragik. Jika virus ini terus menyebar, spesies kelinci di AS dan ekosistem mereka bisa terancam.

Virus itu dinamai Kelinci Hemorrhagic Disease tipe 2. Gejala virus itu berupa pendarahan dalam dan pembengkakan. Namun pada kebanyakan kasus, kelinci terdeteksi terkena virus ini saat mereka telah mati.

Lebaran 2020: Tidak Ada Halalbihalal dan Open House di Karanganya

Penyakit menular ini tidak ada hubungannya dengan virus corona. Hanya kelinci dan sepupu mereka, terwelu dan pika, yang bisa tertular satu sama lain.

Kesamaan

Namun, menurut seorang ahli ekologi penyakit dan kepala Departemen Ekologi Ikan, Margasatwa dan Konservasi di Universitas Negeri New Mexico, Matt Gompper, ada beberapa persamaan antara virus mematikan pada kelinci itu dengan Covid-19. Keduanya diduga menularkan dari satu spesies ke spesies lain.

Virus corona mengantarkan virus dari kelelawar ke manusia. Pada virus kelinci mereka saling menularkan dari kelinci peliharaan hingga liar. Penyebaran virus ini begitu cepat sehingga menyebabkan petugas sulit bertindak.

Sebelum Dikirim Ke Lab, Spesimen Swab Pasien Covid-19 Soloraya Wajib Didaftarkan di Aplikasi Ini

Tetapi, menurut Gompper kemungkinan virus itu berasal sekitar 10 tahun lalu pada kelinci Eropa yang terdiri dari sebagian besar kelinci domestik yang dijual di Amerika Serikat. Lalu, pada awal Maret, jenis virus lain ditemukan pada kelinci liar di New Mexico selatan.

Beberapa hari kemudian, tak jauh dari New Mexico Selatan, di El Paso, Texas, banyak terlihat kelinci mati. Lalu diikuti di lokasi Arizona, Colorado hingga di California pada bulan Mei.

Para ahli saat ini tidak dapat memprediksi bagaimana virus mematikan itu sampai ke Amerika Serikat dan membahayakan nyawa kelinci kelinci di sana. Gompper menyatakan bahwa, penyakit itu bisa tertular melalui perdagangan kelinci domestik. Tetapi, mereka belum yakin apakah penyakit akan menyebabkan wabah hanya menyebar di satu daerah atau kematian di seluruh AS.

Dampak dari virus ini tak hanya akan menyerang kelinci. Jika populasi hewan ini habis, paka pemangsa akan kehilangan sumber makanannya. Tanaman yang kelinci makan mungkin tumbuh terlalu besar yang juga memberikan dampak ke seluruh ekosistem.

"Kelinci, di mana pun mereka ditemukan cenderung memiliki dampak yang relatif kuat terhadap lingkungan mereka, karena mereka adalah herbivora utama," kata Gompper.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho