Colo Timur dan Barat Ditutup 1 Oktober, Tak Bisa Ditunda
Warga beraktivitas di bibir Saluran Induk Colo Barat, Sendang Ijo, Selogiri, Wonogiri, Senin (17/9/2018). (Solopos-Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Bengawan Solo (WSBS) memastikan menutup Saluran Induk Colo Timur dan Barat selama sebulan mulai 1 Oktober.

Penutupan tidak mungkin ditunda karena debit Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri diatur untuk bisa memenuhi kebutuhan irigasi hingga 30 September atau sampai batas terendah daya tampung waduk, yakni pada elevasi 127 meter dalam ukuran Soerabaia Haven Vloed Peil (SHVP).

TKPSDA terdiri atas sejumlah elemen, seperti Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Perum Jasa Tirta, unsur pemerintah lain, dan petani. Kepala Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III Perum Jasa Tirta (PJT) I, Didit Priambodo, kepada Solopos.com, Senin (17/9/2018), mengatakan akan berpedoman pada keputusan rapat pleno TKPSDA, 28-29 Agustus lalu.

Hingga kini keputusan tidak berubah, yakni Saluran Colo Timur dan Barat ditutup pada 1 Oktober. Saluran Induk Colo Timur melewati Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan sebagian kecil Ngawi, Jawa Timur.

Sementara Colo Barat dari Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, sebagian Boyolali. Dia belum mendapat pemberitahuan lebih lanjut ada tidaknya permohonan penundaan penutupan saluran.

Selain merupakan kegiatan rutin tahunan untuk pemeliharaan, saluran ditutup 1 Oktober karena memperhatikan daya tampung WGM. Daya tampung terendah WGM untuk bisa memenuhi kebutuhan irigasi pada elevasi 127 meter SHVP.

Sejak awal September elevasi terus turun. Pada Minggu (16/9/2018) elevasi tercatat 129,05 meter SHVP. Pada Senin pukul 12.00 WIB elevasi di posisi 128,94 meter SHVP.

Setelah elevasi pada posisi 128 meter SHVPpenurunan air bakal lebih cepat karena kapasitas daya tampung semakin ke bawah waduk semakin sedikit. Atas kondisi tersebut saat rapat pleno TKPSDA me-review atau meninjau ulang pola pengaturan outflow atau pengeluaran air WGM.

Pada kesempatan itu disepakati batas terakhir air WGM dapat memenuhi kebutuhan irigasi pertanian di hilir hingga 30 September.

“Air waduk tak boleh lagi dikeluarkan dalam jumlah besar setelah elevasi mencapai 127 meter SHVP. Elevasi itu merupakan kemampuan terendah WGM dalam menampung air. Itu aturan bakunya,” kata Didit mewakili Kepala Divisi Jasa ASA III PJT I, Viari Djaja Singa.

Meski tak bisa lagi dikeluarkan untuk mengaliri lahan pertanian, air WGM tetap akan dikeluarkan meski debitnya kecil, yakni setidaknya 2 m3/detik.

Debit tersebut hanya untuk memelihara Sungai Bengawan Solo agar tak kering. Debit itu tak bisa digunakan untuk irigasi dan menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Debit air untuk menggerakkan turbin setidaknya 15 m3/detik. Pada kondisi normal seperti sekarang, outflow tercatat 28,5 m3/detik (data Senin pukul 12.00 WIB).

“Saat elevasi menyentuh 129 meter SHVP, PLTA sudah enggak berani mengoperasikan turbin. Itu sudah masuk elevasi kritis kalau untuk pembangkit listrik. Terlebih, kalau elevasi lebih rendah lagi,” imbuh Didit.

Colo Barat di Wonogiri melewati Desa Sendang Ijo dan Nambangan, Selogiri. Pantuan Solopos.com di Sendang Ijo, sekitar Colo Barat terdapat banyak sawah yang ditanami tanaman padi.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, usia tanaman lebih kurang sebulan. Petani nekat menanam pada musum tanam (MT) III sekarang ini meski mengetahui tiap tahun Colo Barat ditutup total.

Salah satunya petani asal Dusun Keblokan, Suradi, 60. Dia mengaku berani menanggung risiko gagal panen. Tanaman berpotensi gagal panen karena idealnya tanaman mendapat asupan air selama tiga bulan. “Semoga nanti ada kiriman hujan,” kata dia.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom