Citayam dan Pemberdayaan

Dengan hadirnya fashion week SCBD, citra kawasan Sudiman seperti sedang dikonstruksi ulang.

 Marjono (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Marjono (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Kerumunan anak baru gede (ABG) datang dari segenap penjuru kota, Jakarta dan luar Jakarta berjubel ingin menonton atau unjuk gigi dalam fashion week jalanan di kawasan Dukuh Atas alias SCBD, singkatan dari Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok. Bahkan kawasan sesungguhnya yang bernama Sudirman Central Business District sekarang kalah pamor dengan komunitas yang dibidani anak-anak muda bernama Bonge, Roy, Jeje, dan Kurma itu.

Citayam Fashion Week yang mulanya berasal dari sejumlah remaja asal Citayam yang kerap nongkrong dengan busana eksentrik, kini juga menarik perhatian model profesional untuk ikut adu gaya di sana. Tak ketinggalan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan artis lainnya berjalan di catwalk anak SCBD ini.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Banjir perhatian dari para pejabat silih berganti dan menitipkan pesan untuk anak-anak muda ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan yang penting mereka tidak menabrak aturan. Gubernur Anies juga meminta yang diperlukan adalah menjaga ketertiban, kebersihan dan menghormati orang lain. Sedangkan Gubernur Ridwan Kamil menyuarakan fashion week lebih baik daripada tawuran.

Fashion week di kawasan SCBD ini sedang booming. Media offline dan online berebut mengoyak berita, informasi, maupun kisah lainnya di balik gelaran adu outfit sebagai bentuk ekspresi anak muda. Kawasan tersebut merupakan ruang bersama untuk berekspresi dan berinovasi. Mereka berangkat dari kalangan akar rumput, dengan latar pendidikan dasar dan menengah, bahkan penggagasnya pun terpaksa drop out di tengah terjalnya tantangan pendidikan. Anak-anak muda ini berani mengambil keputusan dengan bekal apa adanya tetapi ingin mengubah nasib dan masa depan agar tidak seadanya.

Wabah atau demam fashion week SCBD meluas dengan pemandangan serupa yang gampang dijumpai di pelbagai kota. Variasi fashion-nya yang beragam. Di pusat-pusat kota, di simpul-simpul keramaian strategis dan dipandang bergengsi, anak-anak muda beraksi. Mletre, nyentrik, berani berbeda, dan gaya rambut mirip-mirip model barat. Mungkin bisa seperti Harajuku di Jepang.

Menurut saya, gelaran serupa fashion week SCBD di luar Jakarta itu lebih pada latah kalau tak mau disebut meniru. Ada Bandung, Jogja, Semarang, (mungkin) Solo, Surabaya, Malang, dan sebagainya, yang menghelat gelaran serupa. Tetapi saya harus jujur, roh dan spirit di dalamnya berasa berbeda dari yang versi asli di Jakarta.

Di antara remaja yang terlibat dalam fashion week SCBD ini sempat ditawari beasiswa oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, tetapi mereka enggan mengambil kesempatan itu. Prinsipnya, mereka tak mau masuk bangku sekolah lagi. Dalam pandangan mereka, tak ada yang bakal bisa memberikan garansi untuk sukses atau sekurangnya bisa seperti capaian sekarang ini, seperti diutarakan Roy baru-baru ini.

Memang, tak ada yang menjamin makin tinggi pendidikan kian melempangkan jalan sukses seseorang. Artinya, kita tidak boleh meremehkan pendidikan setiap orang untuk membalik stigma atau apriori orang-orang karena nihilnya kesempatan menyelesaikan sekolah yang beralas ekonomi sekeng.

Rupaya anak-anak SCBD ini optimistis dengan penghasilan dari pembuatan konten dan menjadi Youtuber. Hidup mereka tidak berantakan. Rupiah demi rupiah dalam genggaman, mulai Rp50.000 sampai Rp7 juta pada hari tertentu, setidaknya seperti kata Bonge. Apalagi angin segar berembus kencang. Pemerintah telah menerbitkan aturan baru terkait ekonomi kreatif. Youtuber pun bisa mengajukan pinjaman dengan menjadikan konten sebagai jaminan.

Suka tak suka, komunitas anak-anak SCBD ini telah menjadi industri kreatif bangsa, membuka lapangan kerja, memekarkan minat, hobi, dan kemampuannya, serta membantu ekonomi keluarga. Setidaknya, mereka bukan remaja pemaki tetapi kaum muda yang punya solusi.

Keberadaan anak-anak SCBD begitu menyatu dengan kawasan itu sehingga susah membayangkan ruang itu tanpa mereka. Kawasan SCBD yang identik dengan area pusat bisnis elite di DKI Jakarta sebelumnya hanya diwarnai kendaraan mewah dan orang-orang berdasi. Paling banter, para pekerja yang lalu lalang menghirup debu kawasan Sudirman. Itulah memori masa lalu Sudirman.

Dengan hadirnya fashion week SCBD, citra kawasan Sudiman seperti sedang dikonstruksi ulang. Citayam Fashion Week bukan ajang orang mengamen, bukan pula pedagang kaki lima (PKL). Jika kedua masalah itu acap menghampiri semua kota, maka event anak muda SCBD ini menjadi bahan pemikiran dan perenungan pemerintah daerah, baik di Jakarta maupun luar Jakarta yang warganya terkena virus SCBD.

Mereka berasal dari keluarga pas-pasan bahkan miskin dan sampai-sampai sekolahnya pun putus tengah jalan. Jantung hidup mereka lebih dipengaruhi penghasilan orang tua atau keluarga yang juga bernasib sebagai pekerja rendah, tenaga serabutan, PKL, pedagang keliling, pengangguran, atau pekerjaan lain yang selalu dipandang sebelah mata.

Kemandirian

Jika ruang SCBD kemudian dikuasai anak-anak Jakarta yang notabene lebih wangi, parlente dan merasa lebih elite, sejatinya mereka justru tak punya daya saing yang hebat. Mereka yang bisanya merebut kursi, mengambil lahan orang lain, dan menggusur rezeki orang miskin, sesungguhnya adalah pembegal kreativitas. Karenanya, sebaiknya anak-anak yang terlibat dan inisiator Citayam Fashion Week ini segera mengurus hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atas kreasi dan inovasi mereka ke Kementerian Hukum dan HAM.

Bertambahnya masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas dan tamatan perguruan tinggi turut memengaruhi pola pikir dalam pengelolaan kota. Ini membuat hal yang dulu dianggap biasa lambat laun dianggap serius dan harus ditangani. Kurangnya protokol kesehatan (prokes), jorok, macet, tidak tertib, buang sampah, tidur ngemper di jembatan, puntung rokok dibuang sembarangan, pulang larut malam, dan sengkarut lainnya karena booming fashion week ala SCBD menjadi pekerjaan rumah yang menanti.

Ada yang sepakat untuk mempertahankan fashion week jalanan digelar di simpul SCBD tersebut atau di titik strategis lainnya. Akan tetapi, ada pula warga yang menghendaki hajatan fashion week jalanan berikut keunikan, kenyentrikan dan keliarannya itu, enyah. Mereka berdalih agar jalur penyeberangan dan pedestrian leluasa sehingga akses menuju ke berbagai titik lebih nyaman.

Mereka yang berseberangan dengan Citayam Fashion Week mungkin datang dari kelompok yang sehari-hari merasa tak memerlukan pertunjukan fashion week lagi. Bagi mereka, fashion week identik dengan model-model profesional yang wangi dan good looking yang melenggak-lenggok di gedung-gedung ber-AC.

Di luar masalah ketertiban, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mendukung panggung, ide segar, kreasi, dan inovasi anak-anak muda ini. Pemerintah semestinya tidak membatasi, tetapi memerdekakan, memberdayakan, memberi ruang kreatif, menjadi bapak angkat, dan seterusnya. Pada akhirnya, mereka memiliki kepercayaan diri untuk meraih sumber-sumber ekonomi baru untuk memotong kesenjangan pendapatan dan menumbuhkan kemandirian. Inilah momentum kebangkitan anak muda.

Esai ini ditulis oleh Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemerintah Provinsi Jateng.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

    Espos Plus

    Mengenal Perempuan Pencetus Kali Pertama Teori Pemanasan Global

    + PLUS Mengenal Perempuan Pencetus Kali Pertama Teori Pemanasan Global

    Banyak perempuan di dunia sains yang wafat tanpa menyaksikan masyarakat modern hidup dengan memanfaatkan dan mengakui kontribusi mereka. Eunice Newton Foote (1819-1888) adalah pencetus kali pertama teori pemanasan global.

    Berita Terkini

    Citayam dan Pemberdayaan

    Dengan hadirnya fashion week SCBD, citra kawasan Sudiman seperti sedang dikonstruksi ulang.

    APG dan Keadilan Sosial

    Perlu afirmasi untuk membuka potensi para penyandang disabilitas, dan pesta olahraga dengan konsep para games adalah wujud afirmasi itu.

    Setelah Pengampunan Berakhir

    PPS dan program pengampunan sejenis dapat menurunkan moral pembayar pajak yang akhirnya memengaruhi kepatuhan.

    Pengenalan Lingkungan Sekolah

    Terkadang siswa senior memandang rendah siswa baru, merasa sok kuasa, gila hormat, dan memiliki misi balas dendam.

    Ambiguitas Penganut Agama dalam Politik

    Pertanyaannya, apakah stigma Geertz terhadap para kaum abangan dilandasi oleh kepentingan secara politis?

    Bukan Ecek-Ecek

    Tampak jelas, Indonesia memiliki banyak "anomali positif" bila disandingkan dengan kondisi global hari-hari ini. Bukan hanya perdagangan internasional yang moncer. Kinerja investasi Indonesia dan sejumlah indikator makroekonomi lainnya juga relatif kinclong.

    Reformasi Pajak dan Pemulihan Ekonomi

    Tidak sedikit pelaku usaha yang tidak berbasis digital diuntungkan pandemi Covid-19 tetapi tidak terpantau sistem perpajakan karena informal dan menggunakan teknologi lintas negara.

    Untuk CFD yang Lebih Baik

    CFD merupakan alternatif intensifikasi kecukupan ruang terbuka olahraga khususnya bagi masyarakat perkotaan.

    Merancang Keyakinan Kelas

    Dampak dari keyakinan kelas yang dirancang dan diterapkan di sekolah adalah terwujudnya budaya positif di lingkungan sekolah.

    Nisan Sejarah Taman Siswa

    Kabar sekolah dasar negeri yang tidak mendapatkan murid baru menunjukkan jurang nyata antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin.

    Mengendalikan Politik Dinasti

    Dalam konteks munculnya berbagai politik dinasti, masyarakat seolah-olah menormalisasi praktik tersebut.

    Bangkit dengan Koperasi dan UMKM

    Koperasi bisa bergerak di sektor pangan, pariwisata, pemenuhan kebutuhan kaum milenial, multipihak, kebutuhan sekunder, maupun produk unggulan daerah.

    Permainan Bodong di Arena Nyata

    Mereka yang mendirikan aplikasi berkedok investasi bodong menciptakan permainan dan mengeksplorasi kesenangan dasariah manusia, yang haus akan kemenangan.

    Pembuktian Pidana Cagar Budaya

    Seyogyanya, kepemilikan cagar budaya bisa langsung dikuasai oleh pemerintah sehingga memudahkan pengawasan maupun perlindungan.

    Kurikulum Berubah atau Berkembang?

    Tentunya kita tidak ingin hanya sekadar menjadi insan A(mati), T(iru), P(lek).

    Dhuafa Entrepreneur

    Gagasan mencegah penyelewengan dana filantropi. Itu bisa dicegah jika ada pembentukan lembaga pengawas semacam OJK jadi para penderma semakin yakin apa yang ia berikan bisa tepat sasaran.