Tutup Iklan

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

SOLOPOS.COM - Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Awal April 2020. Kurang lebih sebulan setelah Covid-19 merebak. Optimisme masih ada pada PT Hero Supermarket Tbk. (HERO). Operator Gerai Hero, Giant, Guardian, dan IKEA itu masih mantap dengan sejumlah rencana transformasi.

Tak ada sedikitpun sinyal tentang langkah yang ditempuh baru-baru ini. Justru, berbagai strategi baru, termasuk mengubah format, dilakukan. Tujuannya jelas. Beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Juga tentu saja, strategi menyikapi pandemi.

Memasuki 2021, isyarat itu mulai terlihat. Giant, salah satu brand ritel di bawah HERO, mulai ditutup. Awalnya, hanya tiga gerai. Belakangan, HERO membuat keputusan yang tentu saja mencengangkan. Semua gerai Giant—total ada 100 toko yang tersebar di 96 daerah di Indonesia—resmi ditutup Juli 2021. Permanen. Jumlah karyawannya 14.000 orang.

Keputusan perseroan ini tentu tak datang dalam semalam. Setidaknya itu pengakuan Patrik Lindvall, Presiden Direktur HERO. Patrik sempat berbincang dengan Bisnis Indonesia secara eksklusif.

“Kami sudah mempelajari tren di industri hypermarket selama bertahun-tahun, tidak hanya di Indonesia, tapi juga secara global dan regional,” ungkapnya, Selasa (25/5). Sebelum dikagetkan dengan hengkangnya brand Giant untuk selama-lamanya, kejutan sudah terjadi di pasar ritel dalam negeri sejak 2020.

Matahari, peritel department store, juga mulai menutup gerai. Gerai fesyen di bawah naungan PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) ini hanya mengelola 147 gerai per Desember 2020. Padahal, per Desember 2019, jumlah toko milik LPPF masih 169 gerai.

Gelombang penutupan gerai masih tak berhenti. Dalam catatan Bisnis Indonesia, sepanjang 2021, LPPF masih merencanakan penutupan toko. Kabarnya, jumlahnya lebih dari 20 gerai. Boleh jadi lebih.

Setali tiga uang dengan Centro. Penutupan gerai pun tak terhindarkan. Yang terbaru, pengelola Centro Department Store, PT Tozy Sentosa, resmi dinyatakan pailit pada medio Mei lalu. Sebelum menyandang status pailit, Tozy Sentosa juga berhadapan dengan gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Di Indonesia, Tozy Sentosa juga mengelola Parkson.

***

Lanskap ritel di negeri ini boleh dibilang sudah berubah. Signifikan, bahkan. Faktor penyebabnya banyak. Dimulai dari pertumbuhan e-commerce yang bak cendawan di musim penghujan.

Sejak kemunculan berbagai macam platform e-commerce, peritel seperti sedang membunyikan lonceng tanda bahaya. Bagaimana tidak. Berkembangnya teknologi digital membuat perilaku konsumen pun berubah. Termasuk milenial, yang tentu saja menjadi pasar potensial.

Kenikmatan berbelanja di toko fisik tak lagi menjadi yang utama. Kini berbelanja, barang apa saja, semudah menggenggam ponsel. Semuanya di ujung jari. E-commerce panen omzet, di sisi lain peritel yang selama ini mengandalkan toko fisik harus gigit jari.

Dihadapkan pada situasi ini, tentu tidak semuanya dalam posisi siap. Yang tak mau terlindas pesatnya pertumbuhan e-commerce, lantas mengambil langkah sigap. Berbenah diri untuk menghadapi persaingan. Tidak sedikit yang mungkin pasrah pada keadaan, dan lalu mati diterjang kompetisi yang kian sengit.

Kompetisi sengit juga terjadi antara peritel yang berbeda kelas. Apa yang terjadi pada Giant mungkin bisa dijadikan contoh paling nyata yang tengah kita hadapi saat ini.

Secara umum, ada beberapa bentuk toko swalayan, mulai dari minimarket, supermarket, department store, hypermarket, hingga grosir. Pembeda dari masing-masing adalah ukuran luasan, format, dan fasilitas. Giant sendiri masuk dalam kategori hypermarket, dengan ukuran di atas 5.000 meter persegi.

Hypermarket pernah menjadi primadona pada masanya ketika belanja bulanan masih menjadi gaya hidup. Namun, belakangan popularitasnya pun mulai meredup. Tentunya sejalan dengan perubahan perilaku konsumen yang kini lebih mempertimbangkan alasan kepraktisan dan efisien.

Masyarakat, dalam beberapa tahun terakhir, mulai menyasar toko swalayan yang jauh lebih mudah dijangkau alias dekat dengan wilayah tempat tinggalnya. Praktis, alih-alih berbelanja di toko swalayan dengan ukuran yang jauh lebih besar, minimarket ataupun midimarket kini jadi andalan. Kapan pun stok di rumah menipis, konsumen dengan mudah dan cepat berbelanja setiap saat.

Namun, lagi-lagi, kompetisi tidak hanya terjadi antarsegmen, seperti hypermarket dan minimarket/midimarket yang sebarannya kian luas. Antara peritel dalam satu segmen pun terlihat persaingannya. Tak heran, berbagai strategi dan program terus dilakukan hanya untuk beradaptasi dengan tuntutan konsumen.

Di tengah upaya mati-matian peritel untuk bertahan, muncul lagi pandemi Covid-19. Seperti sudah jatuh ditimpa tangga pula. Covid-19 tak hanya menekan daya beli konsumen, tetapi juga berdampak pada pembatasan aktivitas masyarakat. Bagi bisnis ritel yang sangat bergantung pada inventori, tentu saja dua faktor tersebut sangat berpengaruh pada kelangsungan usahanya.

Coba tengok kinerja keuangan beberapa peritel. HERO, misalnya. Sebelum kehadiran IKEA di Indonesia pada 2014, pendapatan perusahaan ditopang oleh HERO, Giant, dan Guardian. Per akhir Desember 2013, pendapatan bersih perusahaan Rp11,9 triliun.

Masuknya IKEA membuat pundi-pundi keuangan perusahaan terdongkrak. Penjualan sempat mencapai Rp14,3 triliun pada 2015, sebelum akhirnya turun lagi ke posisi sekitar Rp13 triliun. Pada akhir 2019, sebelum Covid-19 menyerang, penjualan HERO tercatat di angka Rp12,1 triliun.

Pendapatan bersih menurun signifikan pada 2020. Pandemi Covid, yang berdampak pada pembatasan aktivitas masyarakat, kian menekan HERO. Alhasil, penjualan pada akhir tahun lalu hanya Rp8,8 triliun. Sampai akhir kuartal I/2021, pendapatan HERO hanya Rp1,7 triliun, dengan kerugian sekitar Rp2 miliar.

Kondisi ini dapat dipahami. Pendapatan yang masuk jelas terkoreksi karena pandemi. Di sisi lain, beban operasional tetap tinggi.  Begitupula yang terjadi pada Matahari Department Store. Dalam catatan Bisnis, penjualan Matahari terkoreksi begitu dalam pada masa awal-awal pandemi.

Pembatasan kegiatan masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid membuat penjualan tertekan signifikan. Stok barang menumpuk. Diadang situasi kalut saat itu, tidak sedikit konsumen yang akhirnya menahan pembelian produk fesyen.

Kalaupun keinginan berbelanja itu masih ada, banyak juga yang kemudian beralih ke platform online. Matahari juga memiliki platform online. Sayangnya, penjualan dari segmen ini tak bisa mengompensasi kerugian yang terjadi pada gerai-gerai fisik Matahari.

Alhasil, penjualan kotor pada akhir 2020 hanya sekitar Rp8,6 triliun, anjlok dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp18,03 triliun.  Matahari pun mencatat rugi bersih sebesar Rp823 miliar. Tahun sebelumnya, LPPF masih mencatat laba bersih Rp1,3 triliun.

Kondisi yang dihadapi oleh masing-masing peritel itu berbeda-beda. Namun, benang merahnya jelas. Keduanya tengah tertekan dan terdesak. Oleh berbagai macam faktor. Dan, tidak ada jalan lain selain merumuskan strategi bisnisnya kembali. Agar tetap menjadi pemenang.

***

Ini soal pilihan. Strategi untuk keluar dari berbagai tekanan ini tentu berpulang pada peritel itu sendiri. Apakah tetap akan mempertahankan bisnis, tetapi harus terus berdarah-darah; atau merumuskan kembali strategi baru agar tetap bertahan.

Dalam keterangan resmi tentang pencapaian HERO pada kuartal I/2021, isyarat itu terungkap dengan jelas dari Patrik Lindvall. Bagi HERO, angka kerugian sebesar Rp2 miliar sangat mengecewakan. Akan tetapi, kerugian tersebut bisa jauh lebih besar jika tidak dilakukan langka pemulihan.

Alih-alih tetap mempertahankan Giant yang secara bisnis tidak lagi prospektif bagi masa depan HERO—tercermin dari perkembangan kinerja keuangan HERO dalam beberapa tahun terakhir—perusahaan pun memilih untuk fokus ke tiga nama dagang lainnya.

Ini pun terlihat dari strategi yang diambil perusahaan. Dalam rencana HERO, beberapa gerai Giant akan dialihkan menjadi IKEA. Jumlah IKEA dan Century—lini bisnis yang masih dinilai prospektif—akan diperbanyak. Segmen online juga akan semakin digencarkan oleh HERO. Lagi-lagi, tentu saja ini bukan rencana yang dibangun semalam.

Beda peritel, beda pula strateginya. PT Matahari Putra Prima Tbk. yang mengelola Hypermart—perusahaan ritel milik Lippo yang bermain di segmen yang sama dengan Giant—justru kian memperluas kemitraan dengan Tokopedia lewat toko virtual. Kolaborasi keduanya memang telah dimulai sejak Desember 2020, dimulai dari 23 gerai. Kini, toko virtual MPPA tercatat sebanyak 95 toko.

Transformasi yang dilakukan oleh peritel-peritel yang selama ini mengandalkan toko fisik tentu sudah masuk dalam rencana masing-masing perusahaan sejak lama. Bisa jadi sejak disrupsi yang terjadi di sektor ritel. Atau sejak mencuatnya persaingan antarsegmen, pun di dalam segmen yang sama.

Namun, mungkin saja, jika tak ada pandemi Covid-19, semua masih asyik dengan model bisnis yang sudah ada. Ini berarti, Covid-19 membuat transformasi bisnis di sektor ritel pun berjalan lebih cepat. Oleh karena itu, Chief of Transformation Officer (CTO) pantas disematkan pada Covid-19…

Berita Terkait

Espos Premium

Pesimistis Mendapatkan, Tak Mengakses Bantuan Modal

Pesimistis Mendapatkan, Tak Mengakses Bantuan Modal

Banyak pengusaha mikro dan ultramikro di Kabupaten Wonogiri kecewa karena setelah mengakses program bantuan modal dan memenuhi semua persyaratan yang ditentukan ternyata tak mendapatkan bantuan modal tersebut. Justru banyak warga tak punya usaha mikro, hanya berbekal merekayasa data, malah mendapatkan bantuan modal.

Berita Terkini

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Sinetron New Normal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 25 Februari 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Jurnalisme Mesin Pencari

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Februari 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, bloger dan kolumnis.

Mengabaikan Kompetensi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Februari 2021. Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mengkritik sebagai Kultur

Gagasan ini dimuat Harian Solopos esisi Selasa, 16 Februari 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia Sulawesi Selatan.

Larry King dan Komunikasi Efektif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Februari 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Universitas Pancasila.

Alat Uji PCR Masih Jauh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Februari 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, jurnalis Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 30 Januari 2021. Esai ini karya Sri Hartanti Sulistyaningsih, Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.

Akeh Apike

Tentang berfikir positif, ketimbang larut pada racun pikiran negatif. Tentang menebar harapan, ketimbang menabur virus ketakutan, apalagi kecemasan.

Menertawakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 3 Februari 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.