Cetak Biru Pemajuan Kesenian
B.R.M. Bambang Irawan (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Membicarakan kesenian dan berkesenian di Kota Solo tidak pernah akan ada habisnya, apalagi ketika dikaitkan dengan peran pemerintah kota dalam ngurip-urip dan mengembangkan kesenian di Solo, terutama peran kepala daerah dalam memberi warna pada kesenian di Kota Solo.

Kebetulan dalam hitungan hari akan ada regenerasi kepemimpinan Kota Solo dari Wali Kota F.X. Hadi Rudiyatmo kepada Wali Kota Gibran Rakabuming Raka dan dari Wakil Wali Kota Solo  Achmad Purnomo kepada Wakil Wali Kota Teguh Prakosa. bagaimana kehidupan kesenian di Kota Solo selama pemerintahan Wali Kota F.X. HAdi Rudyatmo dan seperti apa harapan tentang kesenian di Kota Solo saat dipimpin Mas Wali Kota Gibran?

Pertanyaan ini menarik untuk dielaborasi. Konsistensi F.X. Hadi Rudyatmo mewujudkan misi Kota Solo sebagai kota yang waras, wasis, wareg, mapan, dan papan–3WMP–tergambar jelas di ranah kesenian. Beberapa hal diketengahkan disini. Sejak 2016, Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo memprakarsai bergesernya Sendratari Ramayana menjadi Bakdan Neng Solo.

Event yang awalnya hanya seni pertunjukan yang tidak terlalu besar itu dibuat menjadi sendratari Ramayana kolosal yang melibatkan ratusan penari dengan konsep garapan yang modern dari sisi musik, tata panggung, tata lampu, maupun koreografi dengan tetap berakar pada seni tradisi. Pertunjukan yang mulanya hanya semalam, dijadikan tiga malam berturut-turut.

Alasannya adalah saat Lebaran bagi masyarakat Kota Solo yang tidak bepergian ke luar kota dan orang luar daerah yang mudik Lebaran ke Solo akan mendapatkan suguhan seni pertunjukan yang bagus, berkualitas, dan juga gratis. Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo saat itu juga turun lapangan mengawal latihan, memberi arahan, hingga mengamati geladi bersih.

Data menjelaskan pada 2019 event Bakdan Neng Solo menyedot penonton sekitar 12.000 orang pada pentas Ramayana di Beteng Vasternburg. Masih di seni pertunjukan, F.X. Hadi Rudyatmo pulalah yang mendorong dan memfasilitasi pentas kolosal yang lain seperti seni pertunjukan Boyong Kedhaton untuk menandai peristiwa pindahnya ibu kota Keraton Mataram dari Kartasura ke Desa Sala.

Pertunjukan ini digelar di jalan Jl. Jenderal Sudirman mulai Bundaran Gladak hingga Kantor Bank Indonesia lama. Tontonan kolosal ini juga melibatkan ratusan seniman, mulai dari anak-anak sanggar hingga personal dari sekolah seni seperti SMKN 8 dan ISI Solo. Ia juga memfasilitasi pentas Wayang Orang Sriwedari di halaman Balai Kota Solo.

Pernah juga saat berkunjung ke Sanggar Seni Kemasan dan melihat sebuah karya yang dipentaskan, F.X. Hadi Rudyatmo langsung minta sanggar tersebut mempersiapkan pentas kolosal Boyong Kedhaton di Pendhapi Ageng Balai Kota Solo. Dalam memeriahkan Hari Tari Dunia pada 2018, ia menginisiasi pentas Tari Gambyong kolosal di sepanjang Jl. Slamet Riyadi dengan 5.000 penari putri remaja dan anak-anak dari seluruh SD dan SMP di kota Solo.

Ide amat bagus ini dilanjutkan pada 2019 dengan mengetengahkan Tari Jaranan yang ditarikan 5.000 penari putra remaja dan anak-anak. Hanya kali ini pentasnya tidak di Jl. Slamet Riyadi, tetapi di Stadion Sriwedari Solo. Meski masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam penyelenggaraanya, gagasan penyelenggaraan event seperti itu merupakan embrio bagi tumbuh dan berkembangnya kesenian–terutama kesenian tradisional di Kota Solo.

Kebijakan pemerintahan Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo juga menginisiasi pemberian seperangkat gamelan perunggu slendro dan pelog kepada semua kelurahan di Kota Solo. Mengingat dana APBD Kota Solo sangat terbatas, alokasi untuk pengadaan gamelan ini dilakukan secara bertahap.

Program ini juga memberikan tenggat waktu kepada pemerintah kelurahan untuk mempersiapkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk melengkapi perangkat gamelan tersebut, seperti ruangan, tikar, guru karawitan, dan sebagainya. Buah dari kebijakan ini antara lain adalah penyelenggaraan lomba karawitan antarkelurahan yang telah menerima perangkat gamelan.

Hulu dan Hilir

Gambaran singkat di atas menunjukkan Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo memang memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap kesenian tradisi di Kota Solo. Tampaknya ia juga memahami bahwa menghidupkan kesenian di sisi hilir saja tidak cukup. Harus dibarengi dengan merawat kesenian di sisi hulu.

Di hilir berurusan dengan pentas, event, dan komodifikasi, sementara di hulu akan berurusan dengan sumber daya pemasok materi kesenian berupa seniman, peralatan, pelatih, tempat latihan, dan sebagainya. Lalu bagaimana mengintegrasikan kesenian itu dari hulu ke hilir?

Isu inilah yang masih butuh perhatian yang serius dari para sesepuh seniman, seniman akademis, seniman praktisi, pemerharti seni dan budaya, komunitas seni, lembaga seni, sanggar seni, termasuk Pemerintah Kota Solo. Pembahasan ini pulalah yang belum sepenuhnya diupayakan secara serius, diprioritaskan, dan berkesinambungan.

Sejak terbitnya UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang kemudian diderivasikan menjadi Perda No. 4/2018 tentang Pemajuan Kebudayaan, urusan pemajuan kesenian–terutama kesenian tradisional–tampaknya belum terkonsep secara tegas dan eksplisit. Kebijakan pemerintah kota di ranah pemajuan kesenian belum memiliki cetak biru yang dapat dijadikan basis konsepsional dan operasional.

Cetak biru pemajuan kesenian dibutuhkan untuk memandu mengintegrasikan kebijakan memajukan kesenian dari hulu ke hilir. Cetak biru pemajuan kesenian juga diperlukan untuk menghindari penciptaan event atau pertunjukan yang spektakuler menjadi viral di hilir tetapi tidak memiliki akar yang kuat di hulu.

Cetak biru pemajuan kesenian bisa menjadi penyelaras orkestrasi aktivitas, kreativitas, dan inovasi para pelaku seni. Cetak biru pemajuan kesenian juga menjadi jantra bagi kebutuhan anggaran yang mesti dialokasikan di APBD. Cetak biru pemajuan kesenian ini bisa saja diwujudkan dalam peraturan wali kota atau dapat berupa semacam rencana induk pemajuan kesenian Kota Solo.

Upaya menyusun sebuah cetak biru memang bukan pekerjaan yang mudah dan membutuhkan sumber daya penyusun yang mumpuni, multidisiplin, sekaligus ”njamani”. Di tengah banyaknya kegiatan yang telah diprogramkan yang bersifat rutinitas, penyusunan cetak biru pemajuan kesenian menjadi sebuah tantangan yang berarti.

Belum lagi sumber daya pembiayaan yang akan dialokasikan sebagai remunerasi dari kerja besar ini. Didukung oleh aparatur pemerintahan kota terkait yang kapabel serta melimpahnya pelaku seni dan budaya andal yang dimiliki Kota Solo, penyusunan cetak biru pemajuan kesenian ini menjadi sebuah keniscayaan.

Jika Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo telah memulai dan memberi teladan dengan berbagai langkah yang konkret dan bermakna, tongkat estafet selanjutnya sepenuhnya ada di tangan Mas Wali Kota Gibran untuk melengkapi. Mas Wali Kota Gibran pasti memahami peta kesenian di Kota Solo dan sudah mempersiapkan kebijakan untuk memajukan kesenian di Kota Solo.

Mas Wali Kota Gibran hampir pasti akan menyajikan terobosan-terobosan yang barangkali di luar dugaan banyak pelaku seni di Kota Solo. Bila Mas Wali Kota Gibran berkenan menginisisasi penyusunan cetak biru pemajuan kesenian tentu akan menjadi legacy yang sangat berharga bagi kehidupan kesenian Kota Solo ke depan. Terima kasih Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo! Selamat datang Mas Wali Kota Gibran!



Berita Terkini Lainnya








Kolom