CERPEN: Untung-Surapati

Pada awal tahun 70-an, di Jawa sebelah selatan, hidup seorang peternak miskin bernama Surapati. Ayah dan ibunya meninggal ketika usianya menginjak 17 tahun, dan meninggalkan untuknya sedikit warisan: dua ekor kambing dan sepuluh ekor ayam. Ditambah satu ekor kambing miliknya sendiri, itulah seluruh kekayaannya. Tetapi Surapati adalah peternak yang ulet. Lambat laun hartanya terus bertambah.
Surapati bekerja dari fajar hingga senja, bangun lebih pagi dan tidur lebih larut dibanding orang lain. Setiap tahun ia bertambah kaya. Surapati hidup makmur selama empat puluh tahun dan mendapat begitu banyak keberuntungan. Kini ia telah memiliki tiga ratus ekor sapi, lima ratus ekor kambing, dan ribuan ayam. Buruh-buruh lelaki menggembala ternaknya, sementara buruh-buruh perempuan memerah susu sapi dan kambingnya untuk dijual langsung atau diolah menjadi keju dan mentega. Surapati memiliki semua dan itu membuat iri banyak orang. Mereka ada bergunjing:
“Surapati memiliki segalanya, namun sebagai lelaki, derajat dia paling rendah di antara kita. Dia hidup membujang. Pengecut! Cuhh! Tentu burungnya lumpuh!”
“Surapati itu budak pesugihan. Hidup membujang, itu syarat kedua yang dia terima dari setan. Syarat pertama, kalian tahu? Dia tumbalkan nyawa bapak ibunya!”
Sesungguhnya Surapati ramah lagi baik hati. Ia bergaul dengan banyak orang dari banyak kalangan. Tamu-tamu pada datang mengunjunginya, tiada putus-putusnya, dan tiada pernah ditolaknya. Ia menyambut mereka dengan baik dan menyuguhkan kudapan dengan memuaskan. Berapa pun yang datang, selalu ada gulai kambing dan ayam bakar. Begitu para tamu tiba, satu dua kambing disembelih, tiga lima ayam dipotong. Jika yang datang rombongan yang cukup besar, seekor sapilah yang dinaikkan ke tungku penggorengan.
*****
Pada suatu malam, Surapati menolak tidur. Badannya betul sudah di ranjang, tapi pikirannya sibuk melayang-layang. Ia cemas. Ada sesuatu sedang ia risaukan. Tiba-tiba saja, daun telinganya mendengar daun pintu dibuka. Berderit, engsel yang karatan dalam hening malam seperti menjerit-jerit. Di rumahnya cuma dia seorang. Lain tidak. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya. Seperti pencuri di rumahnya sendiri, Surapati mengendap-endap mencari asal bunyi. Ia sedang melangkah menuju dapur ketika tiba-tiba, sebuah tinju menghajar rahangnya. Surapati langsung tumbang. Dalam keadaan telentang, ia dihujani cocor sepatu, pada kepala, muka, pipi kanan-kiri, dan mulut. Dada, perut, paha; ikut-ikutan pula. Lalu sepatu hitam tebal menginjak lehernya dan popor senapan menekan keningnya.
“Tiada perlu kauberontak, biar tiada perlu aku menembak!”
Sepatu-sepatu itu membabi-buta menghajar lagi. Dari mulutnya cuma terdengar erangan-erangan tak jelas. Sesekali Surapati berteriak kesakitan, namun suaranya ditelan tenggorokannya sendiri. Dalam gelap malam, Surapati mendongak. Matanya yang mulai bengkak samar-samar melihat lima orang berbadan kekar. “Di gunung mana kau mencari pesugihan, orang tua!?” Ia dilempar pertanyaan dan dipaksa menjawab. Tapi Surapati bungkam karena rahangnya retak dan mulutnya tak bisa bergerak. Orang-orang itu berpikir bahwa tendangan mereka tak cukup keras untuk membuat Surapati mengaku. Maka mereka pun meningkatkan kekuatan sepakannya. Surapati meludah. Giginya berguguran ke lantai.
Tendangan dan pukulan yang terus-menerus membuat saraf rasa sakitnya seolah mau putus. Kepalanya berguncang-guncang mengacaukan kesadaran. Perih dan ngilu sudah tak berani menyerbu. Ia cuma merasa ada benda menerjangi tubuhnya. Jiwanya berada di batas dunia nyata dan baka. Dirinya macam melayang-layang, di udara ia mengambang. Kadang ada sedikit rasa sakit bila sepatu-sepatu menghantam selangkangan, tapi tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi saling mengalihkan rasa sakit dan lama-kelamaan ia merasa hajaran itu seperti embusan angin yang membelai kulitnya belaka.
“He! Di gunung mana kau tumbalkan bapak ibumu?!”
“Jawab! Jangan bungkam begitu!”
Surapati tak lagi bisa menggerakkan lidah. Mulutnya lengket karena dua bibirnya berantakan menjadi satu. Giginya bercerai dari gusi, beberapa tertelan dan sisanya tercecer di lantai. Kepalanya lemas, dari lehernya kepala itu seperti mau lepas. “Stop!” Orang-orang berbadan kekar itu mendapat aba-aba untuk berhenti dari seorang kurus yang sedari tadi bersembunyi di balik kegelapan. Dari sudut ruangan orang kurus itu berjalan menghampiri Surapati, lalu berbisik di telinganya: “Kau mesti bersyukur. Masih untung kau tidak disembelih. Budak pesugihan macam kau ini selayaknya ditumpas habis dari bumi Tuhan.”
Mereka tertawa sampai terbungkuk-bungkuk memegangi perut.
Lalu pergi meninggalkan Surapati yang berdebat dengan Malaikat Maut.
*****
Surapati berhasil selamat, tapi sejak peristiwa itu kesehatannya memburuk. Ditambah, kambing dan sapinya diserang penyakit dan banyak yang mati. Kata para buruh, binatang-binatang malang itu seperti keracunan. Kemarau panjang dan paceklik membuat keadaan makin parah. Ternaknya tumpas. Tandas diserbu bencana kelaparan. Keberuntungannya telah berakhir. Masa jayanya sudah habis. Ia jatuh miskin.
Tepat pada usia enam puluh tahun, Surapati terpaksa menjual satu-satunya harta yang tersisa, yaitu rumahnya. Ia sungguh-sungguh terpuruk dalam lembah kemelaratan. Tiada yang tersisa pada masa rentanya sehingga ia mesti hidup menggelandang. Orang tuanya sudah di alam berbeda. Anak tiada punya. Saudara miskin semua. Tiada lagi yang bisa menolongnya.
Seorang tetangga, Untung, jatuh iba kepadanya. Untung sendiri bukanlah orang kaya, tetapi ia hidup berkecukupan dan berwatak baik. Ia teringat akan kebaikan-kebaikan Surapati di masa lalu dan berniat menolongnya.
“Tinggallah bersamaku, Surapati. Bekerjalah di ladangku dan rawatlah ternak-ternakku. Aku menjamin sandang pangan papanmu. Jika engkau perlu sesuatu, katakan padaku dan akan kupenuhi bila aku mampu.”
“Terima kasih, Untung. Sungguh engkau bermurah hati.”
Surapati kemudian tinggal di rumah Untung sebagai buruh. Pada mulanya terasa sulit semuanya, tetapi lama kelamaan ia terbiasa pula. Untung sendiri merasa bahagia dengan kehadiran lelaki tua yang malang itu. Ia rajin dan mengetahui apa saja yang mesti dikerjakan. Namun demikian, terkadang Untung turut bersedih atas apa yang menimpa Surapati. Dan lebih dari itu, sesungguhnya Untung begitu penasaran terhadap roda berputar yang menggelinding dalam lingkaran nasib buruh barunya itu. Demi menindas rasa penasarannya, Untung berbulat hati untuk bertanya langsung kepada Surapati. Pria tua itu dipanggil dan datang dengan tergopoh-gopoh. Ia lalu duduk sopan di ruang tamu. Setelah berbasa-basi untuk mencairkan suasana, Untung masuk ke pokok perkara:
“Dulu engkau orang terkaya di daerah ini. Semua orang kenal namamu. Tapi kini engkau jatuh miskin dan tinggal di sini bersamaku, bekerja padaku. Rupanya benar bahwa hidup itu seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Yang kemarin terbang tinggi di angkasa, hari ini bisa merayap-rayap di tanah belaka. Pasti engkau sedih bila mengenang masa jayamu dan menemukan betapa malangnya nasibmu sekarang, Surapati?”
Surapati tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia menjawab, “Engkau mungkin tidak akan percaya. Tapi apa yang ada di hatiku, itu pulalah yang keluar dari mulutku. Aku akan bercerita dengan jujur. Selama empat puluh tahun di masa jayaku, aku mencari-cari kebahagiaan dan gagal menemukannya. Kini, ketika menumpang di rumah ini, ketika aku tak punya apa pun dan hidup sebagai buruh upahan, aku justru menemukan kebahagiaan. Hatiku begitu tenang dan damai. Aku seperti tak memerlukan apa pun lagi.”
Dahi Untung berkerut, keheranan.
Surapati melanjutkan, “Waktu aku jaya, kaya, segala-gala aku punya; kebahagiaan itu tak pernah bisa kutaklukkan. Kucari ke sana ke mari, dia seperti sembunyi ditelan bumi. Aku tak pernah merasa damai. Tiada waktu bagiku untuk merenung tentang jiwa, untuk bercengkerama dengan Tuhan, untuk menyempurnakan diri sebagai pria. Aku selalu dikepung kecemasan. Jika datang tamu, aku cemas tak bisa menjamu mereka dengan baik. Jika datang waktu bayaran, aku cemas tak bisa menggaji buruhku dengan layak. Jika datang musim kemarau, aku cemas ternak-ternakku mati kelaparan. Jika datang waktu tidur, aku cemas binatang ternakku diracun orang. Jika usahaku berkembang, aku cemas pesaingku dengki dan musuhku beranak-pinak. Jika kekayaanku bertambah, aku cemas gadis-gadis mau kunikahi karena harta-benda belaka. Tidurku tiada pernah nyenyak. Hatiku tiada pernah damai. Kecemasan yang satu selalu berganti dengan kecemasan yang lain, tindih-menindih.”
“Lalu sekarang?” tanya Untung.
“Kini tiada lagi yang perlu kucemaskan. Cuma kain di badan ini seluruh yang kupunya. Sudah tak ada yang bisa hilang, diracun, atau dicuri. Aku hanya perlu melayani majikanku dengan baik. Setelah bekerja, sudah ada makanan dan minuman siap kutelan. Di malam hari, aku punya cukup waktu untuk menekuri diri. Aku rutin berdoa pada Tuhan dan tidurku selalu nyenyak. Aku akhirnya menemukan kebahagiaan setelah berpuluh-puluh tahun mencarinya ke sana ke mari.”
Untung tertawa lirih. Melihatnya tertawa, Surapati tak terima, “Jangan tertawa. Ini bukan gurauan, bukan kebohongan. Inilah kehidupan. Aku dulu begitu terpukul ketika kehilangan kekayaan. Aku bodoh. Aku bersedih dan menangis seolah semuanya baru direnggut dari diriku. Tapi kini Tuhan telah membukakan kebenaran. Semua yang kita miliki, sesungguhnya memiliki kita. Benda-benda memenjara kita. Aku bersyukur sudah menjadi manusia yang merdeka.”
Untung berhenti tertawa dan mulai berpikir.
Ia teringat pada perbuatannya beberapa bulan lalu.
*****

*Anggit Febrianto

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Prodi Magister Sastra. Lahir di Banyuwangi pada 31 Januari 1995, dan tumbuh besar di kota yang sama. Beberapa kali menjuarai kompetisi cerpen, esai, dan artikel tingkat regional maupun nasional. Karyanya yang sudah terbit adalah beberapa cerpen dalam bentuk buku antologi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom