Tulah Kemarau
liputan6.com

Riak-riak mendung sedang marah dan jengah, tak mau bahkan hanya mampir sebentar meneduhkan. Sudah lebih dari sepuluh bulan. Matahari sedang kasmaran menjumpai bumi tanpa jeda meski hanya sehari. Panas membara. Aku sedang berjibaku mengipas-ngipas keringat yang mengucur deras saking panasnya. Di malam hari pun tak mau beranjak, bahkan lebih gerah dari siang hari. Tidur susah, bangun susah. Istriku sedang ngomel-ngomel karena anak balita kami rewel sedari sore. Ngantuk tapi tak bisa tidur. Sudah dua kipas angin yang dipasang untuk menyejukkan, tapi anginnya justru terasa panas. Anomali yang menjengkelkan. Mungkin saja jika ada AC kamar akan lebih nyaman. Apalah daya penghasilanku sebagai buruh tani tak seberapa, untuk makan saja kadang masih utang tetangga.

Karena risih aku beranjak dari pembaringan, mengambil tikar pandan dan beberapa bantal. Lantas dengan sigap tikar telah tergelar di halaman depan. Anakku kupindahkan dari gendongan ibunya ke atas tikar pandan, sesekali aku kipasi dengan kipas bambu. Mungkin saja di luar ada angin jadi lebih segar.

Semenjak panen semangka berakhir, otomatis penghasilanku sebagai buruh tani pun habis masa. Sepanjang hari hanya ongkang-ongkang kaki tanpa pekerjaan dan penghasilan. Untung saja upah panen semangka masih bersisa meski sedikit, jadi dapur masih bisa mengepul. Kadang aku banting setir jadi buruh bangunan, kadang jadi buruh angkut di pasar. Apa saja asal menghasilkan sambil menunggu hujan datang dan musim panen padi akan mengembalikan statusku menjadi buruh tani. Tapi hujan bahkan enggan bertandang.

Sebenarnya sawah di daerahku bukan sawah tadah hujan seratus persen. Adakalanya para petani mengalirkan air dari Bengawan Solo melalui saluran air jika intensitas hujan sedang rendah. Tanam padi di awal musim hujan dalam kondisi air yang masih sedikit disiasati dengan menanam langsung butir-butir padi tanpa melalui proses tampekan atau pembuatan wineh, bibit padi yang berumur kurang lebih tiga minggu sampai satu bulan yang dicabut untuk ditanam di sawah. Tapi jangankan untuk icir pari, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit sekali air didapat.

Beberapa bulan ini banyak buruh tani yang alih profesi menjajakan air dalam tandon besar ke permukiman-permukiman penduduk akibat langkanya air. Mereka harus merogoh kocek sampai seratus ribu rupiah per tandon yang cukup digunakan hanya untuk tiga hari. Bayangkan berapa banyak uang yang harus mereka habiskan hanya untuk membeli air. Uang sebanyak itu harusnya bisa dipakai untuk kebutuhan lain, kalau saja hujan sudah turun dan air mudah didapat.

Dulu di masa-masa kemarau seperti ini, diesel-diesel besar dinyalakan di pinggir Bengawan Solo. Siap mengalirkan air ke seluruh pelosok melalui saluran air dan warga bebas menggunakan untuk mencuci atau mandi. Itu adalah saat panen kerukunan antar warga. Mereka berbondong-bondong tiap pagi dan sore menenteng cucian dan sabun mandi. Mencuci dan mandi bersama sambil bercengkrama. Anak-anak kecil bermain tanpa tahuwaktu, berenang dan berloncatan sepanjang hari. Sampai kulit mereka penuh lumpur dan berlumut. Tak jarang para orang tua datang dan menjewer telinga anak-anak mereka yang tak kunjung pulang saat bermain di saluran air. Bagi anak kecil, saluran air dengan air yang mengalir adalah surga.

Petani-petani pun berdendang menyanyikan lagu riang, saat perlahan sawah mereka terisi air dan padi siap ditanam. Kami para buruh pun senang. Musim tanam tiba, uangpun di tangan. Tapi kondisi kali ini berbeda. Biasanya mereka yang tinggal di kota-kota yang dilewati Bengawan Solo akan mengeluh karena meluapnya sungai akibat hujan yang meluber ke kawasan perumahan mereka. Tapi kini itu tinggal mimpi. Sejak hujan tak mau bertandang Bengawan Solo kering kerontang.

Selama 34 tahun aku hidup, sekali pun belum pernah kujumpai Bengawan Solo yang mati. Hanya debit airnya saja yang berkurang saat musim kemarau, tapi masih bisa digunakan. Tapi tahun ini anomali itu terjadi. Di seluruh Jawa entah bagaimana tiba-tiba air yang ada di Bengawan Solo sirna. Hilang tanpa bekas, menyisakan kerak-kerak tanah yang gersang. Sungai tempat banyak nyawa menggantungkan diri tiba-tiba sat, lenyap.

Kami para orang tua kelimpungan. Anak-anak kecil kegirangan. Mereka jadi punya tempat untuk sekedar bermain bola atau lari-larian. Tak perlu susah mencari lahan. Malah di salah satu desa di Lamongan, berkah dari keringnya Bengawan Solo dirasakan. Beberapa perahu baja yang biasa digunakan sebagai moving bridge ditemukan. Dilansir perahu itu peninggalan sekutu yang digunakan untuk melucuti Jepang saat perang dunia II. Tapi berkah itu hanya sebentar dirasakan. Kekeringan memaksa kami memutar otak untuk bisa bertahan.

Para pemilik perusahaan air yang mengambil mata air Bengawan Solo pun gelagapan. Rumah-rumah warga yang menjadi langganan mereka akhirnya kekeringan. Luapan kemarahan warga ditumpahkan di depan kantor dengan garang. Para pengusaha itu pun terdiam. Berdoa agar hujan lekas datang dan Bengawan Solo kembali berdendang.

Untungnya di depan rumah ibu ada satu sumur galian tua yang airnya tak putus-putus nyumber. Jadi aku tidak perlu beli air tandon yang dijual. Lambat laun para tetangga pindah lokasi bercengkrama. Dari saluran air ke depan rumahku dekat sumur. Berember-ember cucian dan berpuluh-puluh jeriken berjajar. Dalam hati sempat terpikir ini sumber uang baru yang potensial. Bisa saja aku menarik bayaran setiap kali mereka mencuci, mandi atau mengambil air dari sumur di depan rumah. Tapi aku tak mau nanti kena azab. Kalau aku nekat mungkin sumber air itu akan dihentikan oleh Tuhan. Sumur itu dibangun bapak untuk mengakomodasi kebutuhan berwudu para calon jamaah sholat di langgar samping rumahku. Itu mungkin salah satu sebab sumber airnya tak pernah surut.

Kemarau panjang membingungkan banyak orang. Kami berbondong-bondong ke lapangan melakukan sholat istisqa, meminta hujan. Tidak hanya sekali, tapi entah kenapa hujan belum mau datang. Tak lama kulihat banyak sesajen yang dibakar di lapangan dan di sepanjang Bengawan Solo. Rupanya tingkat stres mereka sudah di atas rata-rata, sampai cara setan pun dipakai. Kalau saja mereka mau berpikir, Tuhan saja belum mau menurunkan hujan, apa kemudian setan bisa?

Aku terkantuk-kantuk dengan kipas bambu di tangan. Anakku sudah sedikit tenang dan mulai mengerjapkan mata mengantuk. Istriku sudah terlelap di seberang dengan satu tangan memeluk anakku. Uang di tabungan sudah menipis, entah harus kerja apa besok untuk mengepulkan dapur. Aku memandang sumur di depan rumah. Antrean jeriken masih mengular. Pikiran jahat muncul, kalau hujan tetap tak mau datang, kemungkinan besar sumur itu akan kugadaikan.

 

Marwita Oktaviana

Penulis dalah pengajar di salah satu SMK di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho