Cerpen: Setelah Di-PHK

Televisi tabung 14 inci itu menampilkan semacam acara kulineran. Seorang pria kemayu yang memandu acara itu duduk di meja makan, menyantap soto daging entok yang beberapa detik sebelumnya diantar oleh pelayan. Selagi pemandu acara itu makan, narator menyampaikan informasi tentang kandungan gizi dalam soto daging entok tersebut secara detail.
Daging entok memiliki kandungan protein yang jauh lebih tinggi dibanding daging ayam, ya, Guys.… // Selain memberi sensasi segar, perasan jeruk nipis juga dapat menetralisir lemak dalam soto….//
Duduk di lantai, Pidil Markotip menyimak tayangan itu dengan mulut ternganga. Air liurnya menetes dari sudut sebelah kiri bibirnya dan baru disadarinya ketika mengenai lengannya. Setelah menyuap beberapa kali, si pemandu acara itu bicara. Wajahnya memenuhi layar kaca.
“Ini, sumpah,” katanya, dengan mulut yang masih mengunyah dan mata yang merem-melek, “endes banget, Guys. Endes banget!”
Setelah selesai menyantap soto entok, si pemandu acara bilang belum lengkap rasanya kalau sesudah makan berat tidak ada penutupnya. Maka, dalam hitungan detik, layar kaca beralih menampilkan seorang koki yang sedang memotong buah-buahan segar di atas meja kayu. Ada buah naga, anggur hijau, apel merah, jeruk, pisang ambon kuning, alpukat, melon, dan kiwi. Koki itu memakai sarung tangan tipis. Pisau yang digunakannya terlihat sangat bersih dan tajam.
Dari penjelasan narator Pidil tahu kalau si koki itu sedang membuat buah potong saus naga susu. Dalam hitungan detik dengan video yang dipercepat, buah potong saus naga susu itu sudah jadi dan dihidangkan untuk si pemandu acara. Pidil menelan ludah untuk mencegah air liurnya jatuh lagi. Sambil mengudap buah potong saus naga susu itu dengan gerakan lambat, si pemandu acara mengatakan bahwa mengonsumsi buah-buahan baik untuk menjaga imunitas tubuh.
“Apalagi dalam masa pandemi Covid-19 ini ya, Guys. Jadi kita tetap sehat dan semangat walaupun WFH alias work from home,” imbuh si pemandu acara dengan penuh kecentilan.
Pidil tak mengikuti acara itu sampai tuntas karena ia memang tak berniat menonton. Ia menyimak tayangan itu sebentar karena kebetulan saluran itu yang muncul pertama saat televisinya baru dinyalakan. Ia hanya bermaksud memastikan kualitas gambar televisinya cukup bagus sehingga harganya tidak ditawar terlalu murah. Ya, televisi itu akan dijualnya. Pembelinya sudah janji akan datang siang itu juga.
Dengan potongan lidi, Pidil memencet tombol yang ada di bawah layar televisi untuk mengganti saluran. Tombol itu sudah tenggelam ke dalam dan karenanya tidak bisa lagi dipencet dengan jari. Digonta-gantinya saluran setiap beberapa detik sekali. Dari nomor 12 ke nomor 1. Dari nomor 1 ke nomor 2, lalu ke nomor 3, lalu ke nomor 4, dan seterusnya. Setelah dipencet beberapa kali tombol itu bukannya mengganti saluran, malah menambah volume suara. Kendala itu sudah biasa terjadi pada televisi tabung tersebut tapi dibiarkannya saja karena ia pikir biaya membetulkannya lebih mahal dari harga televisi itu sendiri.
Rata-rata saluran pada televisi Pidil bersemut gambarnya, kecuali nomor 12, 5, dan 7 yang agak jernih. Pada saluran-saluran yang gambarnya bersemut, Pidil menggeser-geser antena untuk menjernihkannya. Ada saluran yang menjadi sedikit jernih setelah antena digeser, tetapi ada juga yang tetap bersemut dan malah makin buram. Sebaliknya, saluran yang semula lumayan jernih malah menjadi buram karena posisi antena diubah. Akhirnya karena geram, Pidil mengembalikan saluran ke nomor 12 yang menayangkan acara kulineran tadi. Dengan menyetel saluran yang gambarnya bagus, ia berharap si calon pembeli percaya kalau televisinya masih bagus.

***

Dua jam kemudian si calon pembeli datang, hanya mengenakan singlet putih dan celana goyang. Dia sempat ditahan di ujung gang oleh warga RT setempat yang berinisiatif mencegah penyebaran wabah. Dia disemprot cairan disinfektan, diminta untuk mencuci tangan dan diberi masker sebelum diizinkan masuk. Dia adalah penjual barang bekas yang cukup terkenal di wilayah itu. Dia bisa memoles barang-barang yang sudah jelek menjadi terlihat seperti baru dan menjualnya dengan harga tinggi.
“Masuk,” sambut Pidil.
Pria itu tampak ragu melepas sandalnya untuk masuk ke dalam. Pidil menangkap gelagat itu.
“Pakai saja sandalnya, tidak apa-apa.”
Kontrakan Pidil sempit dan kotor, lebih menyerupai bengkel ketimbang rumah. Lantainya disemen kasar dan berlubang di sana-sini. Dari lubang-lubang itu kadang keluar kecoa kalau bukan lipan. Di sudut ruangan tak bersekat itu anak dan istrinya sedang tidur, bukan karena lelah, melainkan menahan lapar.
Pidil menyodorkan kursi plastik satu-satunya yang ia miliki untuk si tamu. Si tamu menerimanya, membetulkan posisinya pada lantai yang rata, sebelum duduk.
“Silakan diperiksa dulu TV-nya,” kata Pidil, duduk lesehan di samping tamunya.
“Coba saya ganti salurannya,” jawab si tamu. “Remotnya ada?”
“Tidak ada. Dari situ kalau mau ganti saluran,” kata Pidil menunjuk ke arah tombol di bawah layar kaca.
Si calon pembeli mendekat ke arah televisi, tak melihat ada tombol yang bisa dipencet.
“Pakai ini.” Pidil memberikan potongan lidi untuk memencet tombol kepada si tamu.
“Kalau mau ganti saluran yang ini, yang ada tulisan P+ dan P-. Yang V+ dan V- ini untuk mengatur suara,” jelas Pidil, menunjukkan satu per satu tombol yang telah menjorok ke dalam.
Pria itu pun mengetes keberfungsian tombol-tombol itu. Digantinya saluran satu per satu dan ia mendapati banyak yang gambarnya buruk. Namun ia tidak berkomentar apa-apa. Barangkali ia mafhum belaka kalau kualitas gambar saluran lebih ditentukan oleh tangkapan sinyal.
Setelah memeriksa kualitas gambar, pria itu mengecek secara hati-hati fisik televisi selama beberapa saat. Kemudian ia duduk kembali di kursi plastik.
“Jadi, berapa ini harganya?” tanyanya.
“250 ribu.”
“Kemahalan. 100 ribu.”
“Jangan lah 100 ribu. 200 ribu”
“150 ribu,” tawar pria itu.
“200 ribu.”
“Haya, kemahalan itu. Ini TV Cina punya, bukan Jepang.”
“180 ribu?”
“Masih kemahalan. Remotnya enggak ada. Tombol-tombolnya pun sudah rusak.”
“Tapi, kan, masih berfungsi.”
“TV ini nanti saya jual lagi, bukan mau saya pakai sendiri. Kalau saya ambil seharga segitu, mau berapa lagi nanti saya jual?”
“170 ribu, tolong. Sudah sama antenanya.”
“Ah, antenanya pun antena gocengan. 150 ribu saya angkut. Kalau tidak saya tidak jadi beli.”
Akhirnya Pidil menyerah. Televisi itu dilepasnya dengan harga yang diminta si pembeli.
“Cepat, sebelum anak saya bangun. Nanti dia nangis kalau tahu TV ini saya jual.” Diangkatkannya dengan hati-hai televisi itu keluar dan diikatkannya ke atas jok sepeda motor si pembeli.
“O ya, kursi plastik itu saya jual juga.”
“Berapa?” tanya si pembeli, yang kini sudah duduk di atas sepeda motornya.
“Lima puluh ribu.”
“Harga barunya itu paling cuma 70 ribu, kau mau jual 50 ribu?”
“30 ribu kalau gitu. Itu masih sangat bagus.”
“10 ribu saya ambil.”
“20 ribu lah.”
“10 ribu, ya atau tidak?”
Pidil terdiam. Matanya mulai panas. Dengan berat hati diserahkannya kursi itu kepada si pembeli yang tetap duduk di atas motornya. Ia memperhatikan tangan si pembeli ketika mengeluarkan uang dari dompet. Si pembeli rupanya merasa kasihan juga.
“Ini! Saya kasih 20 ribu.”
Pidil menerima uang itu dan berterima kasih berulang-ulang. Si pembeli membawa kursi plastik yang ringan itu dengan tangan kirinya. Mereka tak berjabat tangan karena bertubi-tubi dianjurkan demikian.
Pidil memandangi tiga lembar uang pecahan 50 ribu dan selembar uang 20 ribu di tangannya begitu si pembeli sudah jauh. Kini ia tak punya apa-apa lagi. Kecuali tungku untuk memasak, rumahnya kosong melompong.

***

Sore itu Pidil, istrinya, dan anaknya akhirnya bisa makan setelah berpuasa sejak kemarin karena tak ada yang bisa dimakan. Mereka bertiga menyantap dua bungkus mi instan dicampur dengan nasi. Selagi mengunyah Pidil membayangkan soto entok, membuatnya makan dengan sangat lahap.
Anaknya, yang usianya belum genap empat tahun, telah berhenti menangisi televisinya yang diambil maling. Ya, begitulah yang ia dengar dari ayahnya--televisi 14 inci itu diambil maling. Dan Pidil menghiburnya dengan dua bungkus es krim warna-warni seharga dua ribuan.
“Nanti kita beli TV baru, ya, Ayah,” kata anaknya dengan bulu mata yang masih basah.
“Ya, Nak, nanti kita beli TV yang baru. Sekarang, makanlah es krimmu.”
“Ya, Ayah.”
Sambil menyaksikan anaknya makan es krim, Pidil menceritakan tayangan yang sempat ditontonnya tadi siang kepada istrinya. Tentang soto entok yang membuat air liurnya jatuh dan buah-buahan yang disiram dengan saus buah naga susu. Tentang makanan yang baik dikonsumsi dalam masa wabah. Tentang anjuran untuk di rumah saja.
“Apa istilahnya? Work from home? Mereka tetap dapat gaji, bisa menyimpan makanan. Makan makanan bergizi. Makan buah-buahan juga. Begitu?” komentar istrinya.
“Ya, begitu.”
“Eh, kudengar katanya pemerintah akan memberi santunan.”
“Santunan? Ah, itu hoaks. Buktinya tidak ada santunan. Mana? Mana santunan? Tidak ada, kan?”
Sudah hampir dua bulan Pidil menganggur. Karena pandemi, pabrik tebu tempat ia bekerja merumahkan karyawannya secara bergelombang dan sialnya, ia termasuk salah satu yang terkena di awal. Selama ini, saban bulan ia hanya mampu gali lubang tutup lubang. Besaran gajinya tidak memungkinkan ia untuk menabung.
“Kita harus keluar dari kontrakan ini,” ujar Pidil kepada istrinya, masih sambil menyaksikan anaknya yang asyik menjilati es krim.
“Terus, kita mau ke mana?”
“Ke kolong jembatan. Mulung.”
“Tidak. Aku tidak mau jadi pemulung. Dan aku tidak mau tinggal di kolong jembatan.”
Mereka diam sejenak sebelum kembali bicara.
“Kalau begitu, kita cari hutan. Kita tinggal di hutan. Kita makan daun-daunan dan buah-buahan liar. Mungkin berburu sekali-sekali. Seperti yang kita cita-citakan waktu pacaran dulu.”
“Itu ide yang bagus. Tapi di mana ada hutan?” jawab istrinya, seraya menyandarkan kepala ke dadanya.
“Kita cari walau jauh. Semoga masih ada hutan yang tak bertuan, biar kita tak dianggap mencuri.”
“Amin...”

*Abul Muamar, lahir dan besar di Perbaungan, Serdangbedagai. Menulis esai dan cerpen. Tahun 2019 menerbitkan buku kumcer berjudul ‘Pacar Baru Angelina Jolie’ (Gorga)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom